Sponsors

26 November 2016

Pembagian Tauhid Bukanlah Bid'ah Ibnu Taimiyyah

Sebuah fitnah yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang membenci dakwah Salafiyyah adalah perkataan mereka bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu (wafat tahun 728 H) adalah orang yang pertama kali membagi tauhid menjadi tiga bagian; Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al-Asma' wa Ash-Shifat. Mereka mengatakan bahwa pembagian tersebut adalah bid'ah yang tidak dikenal di kalangan para Salaf sebelum datangnya Ibnu Taimiyah.

Perkataan ini merupakan bukti akan dangkalnya ilmu dan pengetahuan orang-orang tersebut. Dan untuk sebagian besarnya kami yakin hanya menukil dari perkataan sebagian tokoh mereka yang dilandasi oleh sikap fanatisme terhadap mazhab atau golongan tertentu.
Bahkan, kitab-kitab para Salaf telah menyebutkan pembagian tersebut baik dengan penyebutan yang sangat jelas atau dalam bentuk isyarat kepada hal itu. Berikut kami kutipkan sebagian perkataan para imam dan ulama sebelum generasi Ibnu Taimiyah yang menyebutkan pembagian tauhid secara jelas.

*****

1. Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit rahimahullahu (wafat tahun 150 H)

Beliau -semoga Allah merahmatinya- berkata dalam kitab "Al-Fiqh Al-Absath" hal. 51, "Dan Allah dimintai dari arah (yang Dia berada di) atas, dan bukannya arah bawah; karena arah bawah sama sekali tidak termasuk dalam sifat Rububiyah dan Uluhiyah."

2. Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullahu (wafat tahun 310 H)

Beliau berkata dalam kitab tafsirnya yang terkenal, "Jami' Al-Bayan fi Ta'wil Aay Al-Quran", dalam tafsir Surat Muhammad ayat 19, "Allah Yang Maha Tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada nabi-Nya; Ketahuilah wahai Muhammad, bahwasannya tidak ada sesembahan yang layak dan pantas baginya sifat Uluhiyah, yang boleh bagimu dan bagi para makhluk untuk beribadah kepadanya kecuali Allah yang Dia adalah Pencipta seluruh makhluk, Pemilik segala sesuatu, yang beriman kepada-Nya segala sesuatu yang selain Dia terhadap sifat Rububiyah-Nya..."

3. Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Ibnu Hibban Al-Busti rahimahullahu (wafat tahun 354 H)

Imam Ibnu Hibban rahimahullahu berkata dalam mukaddimah kitabnya "Raudhah Al-'Uqala' wa Nuzhah Al-Fudhala'"; "Segala pujia bagi Allah yang bersendirian dengan keesaan uluhiyah-Nya, yang berbangga dengan keagungan rububiyah-Nya, yang memegang jiwa-jiwa seluruh alam dengan ajal-ajalnya dan (memegang) alam ini dengan segala keadaan dan perubahannya, yang menganugerahkan kepada mereka berbagai macam karunia-Nya, yang melimpahkan kepada mereka kesempurnaan nikmat-Nya. Dzat yang telah menciptakan para makhluk di saat Dia menginginkannya tanpa ada penolong dan pemberi petunjuk. Yang telah menciptakan manusia sebagaimana yang Dia inginkan tanpa penyerupaan dan kesamaan. Maka berlakulah hal itu atas mereka dengan qudrah (kekuasaan) dan masyi'ah (keinginan)-Nya, dan terwujud dengan 'izzah (kemuliaan) dan iradah (kehendak)-Nya..."

4. Imam Abu Abdillah Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah Al-Ukbari rahimahullahu (wafat tahun 387 H)

Beliau berkata dalam kitabnya "Al-Ibanah 'an Al-Firqah An-Najiyah wa Mujanabah Al-Firaq Al-Madzmumah" hal. 693-694, "... Yang demikian itu, bahwa prinsip keimanan kepada Allah yang wajib diimani para hamba dalam menetapkan keimanan terhadap-Nya ada tiga macam;

Pertama; Seorang hamba meyakini rabbaniyah-Nya yang dengan hal itu dia menyelisihi ahli Ta'thil yang tidak menetapkan (meyakini adanya) Pencipta.

Kedua; Meyakini wahdaniyyah (keesaan)-Nya yang dengannya dia menyelisihi mazhab-mazhab para pelaku kesyirikan, yang mengakui adanya Pencipta namun mereka mempersekutukan-Nya dengan yang lain dalam ibadah.

Ketiga; Meyakini bahwa Dia disifatkan dengan dengan sifat-sifat yang tidak boleh, melainkan Dia harus disifatkan dengan-Nya dari sifat-sifat; ilmu, kekuasaan (qudrah), kebijaksanaan (hikmah) dan segenap apa yang Dia sifatkan tentang Diri-Nya dalam Kitab-Nya.

Karena kita telah mengetahui  bahwa sebagian besar dari orang-orang yang mengakui-Nya dan mengesakan-Nya dengan ucapan yang mutlak, dia terkadang menyimpang dalam (iman kepada) sifat-sifat-Nya sehingga penyimpangannya itu menjadi cela dalam tauhidnya.

Dan karena juga, kita telah mendapatkan Allah Ta'ala telah berbicara kepada hamba-Nya dengan mengajak mereka kepada keyakinan dan mengimani setiap hal dari tiga perkara ini."

5. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi rahimahullahu (wafat tahun 671 H)

Beliau menyatakan dalam kitab tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran (I/72), "Allah adalah nama bagi sebuah Wujud yang Hak, yang mengumpulkan seluruh sifat-sifat ilahiyyah, yang disifatkan dengan sifat-sifat rububiyah, yang bersendirian dengan wujud yang hakiki, tiada ilah (yang hak) selain Dia subhanahu."

Nah, setelah semua pemaparan ini, adakah fitnah itu masih harus terus dihembuskan hanya karena kebencian kepada kepada dakwah Salafiyyah? 

Semoga Allah selalu membimbing kita dijalan kebenaran yang diridhai-Nya. Amin.

-----------------------

Sumber : Al-Qoul As-Sadid fi Ar-Radd 'ala Man Ankara Taqsim At-Tauhid, Syaikh Dr. Abdul Razzaq bin Abdul Muhsin Al-'Abbad.

0 tanggapan:

Posting Komentar