"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

Tampilkan postingan dengan label Tarbawiyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbawiyat. Tampilkan semua postingan

26 Januari 2016

Fitnah itu Buta, Tuli & Bisu


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia didatangi dua orang pada masa terjadinya fitnah (di masa) Ibnu az-Zubair. Keduanya berkata : Sesungguhnya orang-orang telah bertindak (dalam fitnah) sementara engkau adalah Ibnu Umar dan shahabat Nabi ﷺ. Maka apakah yang menghalangimu untuk keluar (berperang)?

Ia berkata : Yang menghalangiku bahwa Allah telah mengharamkan darah saudaraku.

Keduanya berkata : Bukankah Allah telah berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ

Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada lagi fitnah”? (QS. Al-Baqarah : 193).

Ibnu Umar menjawab : Kami dahulu berperang hingga tidak ada lagi fitnah dan agama menjadi milik Allah. Sementara kalian ingin berperang hingga terjadi fitnah dan agama menjadi milik selain Allah! (Riwayat al-Bukhary, no. 4513).

Subhanallah! Betapa besar perbedaan antara orang yang berperang untuk menjadikan agama seluruhnya menjadi milik Allah dengan orang yang berperang untuk menimbulkan fitnah diantara kaum muslimin, mengangkat senjata dan sebagiannya memenggal leher sebagian lainnya, sehingga menjadi lemahlah wibawa mereka, hilanglah kekuatan mereka, musuh berkuasa atas mereka dan agama menjadi milik selain Allah.

Semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin dari fitnah, karena fitnah itu buta, tuli dan bisu.

(dari web resmi Syaikh Abdul Razzaq al-Badr hafidzhahullahu)

23 September 2015

Hari Arafah dan Perkumpulan Besar pada Hari Kiamat

Perkumpulan besar di tanah Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah mengingatkan seorang muslim tentang perkumpulan besar pada Hari Kiamat nanti. Tempat berkumpulnya seluruh manusia, sejak yang pertama hingga yang terakhir, menunggu keputusan akhir untuk menempati kedudukan mereka masing-masing; entah dalam kenikmatan yang abadi, atau menuju kepada azab yang pedih.

قُلْ إنَّ الأوَّلِيْنَ وَالآخِرِينَ، لَمَجْمُوعُونَ إلىَ مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ

Katakanlah : Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (QS. Al-Waqi’ah ayat 49-50).

Tidak seorang pun yang akan mangkir dari perkumpulan besar tersebut. Orang yang hilang ditelan bumi, yang dimakan oleh burung dan binatang buas; semuanya akan dikumpulkan, dan tidak ada tempat untuk lari menghindar.

وَحَشَرْنَاهُم فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُم أحَدًا

Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan Kami tidak tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahf ayat 47).

أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَاْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا إنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah ayat 148).

Manusia seluruhnya akan dikumpulkan di bumi (tanah) yang selain bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ

Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim ayat 48).

Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang bumi itu dalam sabdanya,

يحشر الناس يوم القيامة على أرضٍ بيضاء عفراء كقرصة النقيّ ليس فيها علم لأحدٍ

Manusia dikumpulkan di bumi yang putih datar, seperti lempengan bundar yang bersih, tidak ada padanya tanda dihuni oleh seseorang.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Dan mereka dikumpulkan pada hari itu tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan tidak dalam keadaan berkhitan.

Dalam kitab ash-Shahihain, Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

يحشر الناس يوم القيامة حفاةً عراةً غُرلاً

Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan tidak berkhitan.”

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan seluruhnya, sebagiannya melihat kepada sebagian yang lain?”

Beliau ﷺ bersabda,

يا عائشة، الأمر أشدّ من أن ينظر بعضهم إلى بعضٍ

Wahai Aisyah, perkara (hari Kiamat) itu lebih berat daripada sebagian mereka akan melihat kepada yang lainnya.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Pada hari itu, matahari didekatkan kepada para hamba hingga hanya berjarak satu mil. Tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan ‘Arsy Yang Maha Penyayang. Ada yang bernaung dibawah naungan ‘Arsy tersebut, dan ada yang terpanggang dengan panasnya matahari. Panas itu telah menyiksanya dan membakarnya. Seluruh umat penuh sesak, dan sebagiannya mendorong sebagian lainnya. Kaki-kaki saling berdesakan dan leher-leher (seperti) terputus karena kehausan. Telah berkumpul pada mereka di tempat itu panasnya matahari bersama dengan tiupan nafas-nafas mereka dan sesaknya tubuh-tubuh mereka. Keringat mereka pun menetes ke tanah. Kemudian air keringat itu membanjir naik sesuai dengan kedudukan mereka di sisi Rabb-nya dalam kebahagiaan atau kebinasaan. Diantara mereka ada yang keringatnya mencapai pundaknya, ada yang mencapai daun telinganya, dan di antara mereka ada ditenggelamkan oleh keringatnya sendiri. Kita memohon keafiatan dan keselamatan kepada Allah.

(Disadur dari kitab al-Hajj wa Tahdzîb an-Nufûs, Syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr)

01 Mei 2015

Kekayaan Hakiki itu Bukan dengan Banyaknya Harta

Banyak orang mengira bahwa kekayaan hanyalah dinilai dengan banyaknya harta, dan orang yang tidak memiliki harta bukanlah orang yang kaya.

Akan tetapi Rasul ﷺ telah menjelaskan makna dari kekayaan yang hakiki itu dengan sabdanya,

ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس

Bukanlah kekayaan dengan banyaknya perbendaharaan, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (hadits muttafaq ‘alaih)

Berapa banyak orang yang memiliki uang dan kekayaan, namun dia sebenarnya hidup dalam “kefakiran” yang hakiki. Anda akan dapatkan orang tersebut senantiasa dalam kegundahan, selalu bekerja untuk menambah hartanya karena takut kemiskinan, kikir terhadap kebaikan agar tidak berkurang harta yang dimilikinya, bahkan mungkin terkadang memutuskan jalinan kekerabatan karena sebab-sebab tersebut.

Dia selalu memandang bahwa dia berada dalam kekurangan dan akan senantiasa menuntut tambahan. Orang yang seperti ini tidak akan pernah damai karena dunia telah bercokol dalam hatinya.

Berkata Khubaib bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu : Kami berada dalam sebuah majelis, kemudian datanglah Nabi ﷺ dan di kepalanya ada bekas air (basah). Sebagian kami berkata : “Kami melihat jiwamu bahagia pada hari ini.” Beliau menjawab : “Tentu saja, alhamdulillah.” Kemudian orang-orang pun mulai berbicara tentang kekayaan. Rasulullah ﷺ pun bersabda,

لا بأس بالغنى لمن اتقى ، والصحة لمن اتقى خير من الغنى ، وطيب النفس من النعيم

Tidak mengapa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa, kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan, dan jiwa yang damai termasuk kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah)

25 Januari 2015

Diantara Tanda Kebahagiaan & Keberuntungan Seorang Hamba

Diantara tanda kebahagiaan dan keberuntungan; bahwa seorang hamba setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah sifat tawadhu’ dan kasih sayangnya. Setiap kali bertambah amalannya, bertambahlah rasa takut dan kewaspadaannya. Setiap kali bertambah umurnya, semakin berkuranglah ketamakannya. Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah kedermawanan dan pemberiannya. Setiap kali bertambah kemuliaan dan kedudukannya, semakin bertambahlah kedekatannya dengan manusia, pemenuhan kebutuhan mereka dan sifat tawadhu’nya di hadapan mereka.

Dan tanda-tanda kebinasaan itu adalah ketika setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya. Setiap kali bertambah amalannya, bertambah pula keangkuhannya, meremehkan manusia dan baik sangkanya terhadap diri sendiri. Setiap kali bertambah umurnya, bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah kebakhilan dan kekikirinnya. Setiap kali bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya.

Perkara-perkara ini adalah ujian dari Allah yang dengannya Dia menguji para hamba. Dengannya berbahagialah sebagian orang, dan binasalah sebagian yang lainnya.

Demikian pula dengan segala bentuk karamah adalah ujian, seperti kekuasaan dan harta. Allah Ta’ala berfirman tentang nabi-Nya, Sulaiman, saat ia melihat singgasana Balqis,

هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر
 

Ini termasuk karunia Rabb-ku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau ingkar (terhadap nikmat-Nya)”. (QS. 27:40)

Kenikmatan adalah ujian dari Allah yang dengannya akan nampak syukurnya orang yang bersyukur dan kufurnya orang yang kufur nikmat. Sebagaimana halnya keburukan adalah ujian dari-Nya subhanahu, maka Dia pun menguji dengan kenikmatan sebagaimana Dia menguji dengan berbagai musibah. Allah Ta’ala berfirman,

فأما الإنسان إذا ما ابتلاه ربه فأكرمه ونعّمه فيقول ربي أكرمن، وأما إذا ما ابتلاه فقدر عليه رزقه فيقول ربي أهانن، كلاّ
 
Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberikan-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabb-ku telah memuliakanku!’
Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata, ‘Rabb-ku menghinakanku!’ Sekali-kali tidak (demikian)!!
” (QS. 15-17)

Yaitu; tidaklah setiap orang yang Aku berikan kelapangan, Aku muliakan dan Aku berikan kenikmatan, hal itu adalah wujud pemuliaan-Ku terhadap dirinya. Dan tidak setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan ujian terhadap dirinya sebagai wujud penghinaan dari-Ku terhadap dirinya…

(Ibnul Qayyim rahimahullahu, Al Fawaa-id, 225-226)

12 April 2014

Bepergian (ar-Rihlah) dalam Menuntut Ilmu Syar'i

Yang menjadi asal dalam tradisi ini adalah perjalanannya Nabi Musa 'alaihissalam kepada al-Khidhr 'alaihissalam yang telah Allah ceritakan dalam surat al-Kahf.

Dan para Shahabat banyak melakukan kebiasaan tersebut setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika mereka telah terpencar dan bermukim di banyak negeri setelah masa-masa penaklukan Islam.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu yang bermukim di Madinah melakukan perjalanan ke Syam -yang memakan waktu sebulan- untuk menemui Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu hanya untuk mendengarkan sebuah hadits yang tidak tersisa lagi orang yang menghafalnya selain Abdullah bin Unais.

Abu Ayyub al-Anshari bepergian kepada Uqbah bin 'Amir di Mesir. Ketika berjumpa, ia berkata, "Sampaikan padaku hadits yang engkau dengarkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang menutupi aib seorang muslim. Tidak tersisa seorang pun yang pernah mendengarnya selain aku dan engkau."

Ketika Uqbah selesai menyampaikan haditsnya, Abu Ayyub menaiki kendaraannya dan kembali ke Madinah.

Tradisi ini berlanjut di masa Tabi'in, masa dimana para Shahabat telah berpencar ke berbagai negeri dengan membawa warisan kenabian. Tidak mungkin bagi seseorang saat itu mengetahui hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanpa melakukan perjalanan antar negeri untuk menjumpai para Shahabat yang ada di negeri-negeri tersebut.

Berkata Penghulu para Tabi'in, Sa'id bin al-Musayyib, "Sungguh, aku berjalan beberapa hari dan malam hanya untuk mendapatkan satu buah hadits."

Berkata Busr bin Abdillah al-Hadhrami, "Sungguh aku telah berkendaraan ke satu negeri untuk mendengarkan satu buah hadits."

Berkata Abul 'Aliyah ar-Riyahi, "Dahulu kami mendengarkan sebuah riwayat hadits di Bashrah dari shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan kami tidak rela hingga kami pergi ke Madinah dan mendengarkannya langsung dari mulut-mulut mereka."

Dan benarlah Ibrahim bin Adham rahimahullahu. Ia berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala menghindarkan keburukan dari umat ini dengan perjalanan para ahli hadits."

(Sumber : Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyyah, Dr. Muhammad bin Mathar az-Zahrani)

01 September 2013

Sejenak Bersama Hati

Berkata Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu dalam kitabnya "Al-Fawa'id" :
  • Hati yang bergantung pada nafsu syahwat akan tertutup dari Allah sebesar ketergantungannya kepadanya
  • Hati adalah wadah Allah di muka bumi. Yang paling disukaiNya adalah yang paling lembut, paling kuat
  • Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras
  • Jika hati telah keras, mata terlihat kosong
  • Kekerasan hati karena empat perkara apabila batasnya telah dilanggar; makan, tidur, berbicara dan bergaul. Sebagaimana badan apabila sakit, makanan dan minuman tidak bermanfaat baginya, demikian pula hati bila telah sakit karena nafsu syahwat, nasehat tidak akan berguna baginya
  • Barangsiapa ingin kejernihan hatinya, maka hendaklah dia mendahulukan Allah diatas keinginan hawa nafsunya
  • Rindu kepada Allah dan perjumpaan denganNya bagaikan angin semilir yang menghembus hati dan mendinginkannya serta menggetarkan dunia
  • Hati bisa sakit sebagaimana badan pun bisa sakit, kesembuhannya dengan taubat dan menjaga diri dari dosa. Bisa pula berkarat sebagaimana cermin, bersihnya dengan dzikir. Bisa telanjang sebagaimana tubuh, perhiasannya adalah ketakwaan. Bisa lapar dan haus sebagaimana tubuh, makanan dan minumannya adalah mengenal Allah, mencintaiNya, bertawakkal kepadaNya, menyerahkan diri dan mengabdi hanya kepadaNya
  • Tiada azab yang ditimpakan kepada seorang hamba yang lebih besar daripada hati yang keras dan jauh dari Allah
  • Neraka diciptakan untuk mengazab hati yang keras
  • Kehancuran hati karena merasa aman dari dosa dan karena lalai. Dan kesuburan hati karena takut terhadap dosa dan karena dzikir
  • Jika hati diberi makanan berupa rasa cinta, niscaya akan hilang nafsu syahwat dari perutnya
  • Siapa yang mengagungkan hak Allah di hatinya hingga tidak bermaksiat kepadaNya, niscaya Allah akan mengagungkannya di hati manusia hingga mereka tidak menghinakannya
  • Siapa yang menempatkan hatinya di sisi Rabb-nya, niscaya dia akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Sementara orang yang menempatkannya diantara manusia, dia akan merasakan kegoncangan dan ketidak-tenangan

11 Juni 2013

Kesabaran dalam Menuntut Ilmu

Seorang tokoh ulama, Baqiy bin Makhlid, berjalan menuju Baghdad untuk menuntut ilmu kepada Imam Ahmad bin Hanbal, mendengarkan hadits darinya. Di umur 20 tahun, ia menyeberangi selat yang memisahkan Andalus (Spanyol Islam) dengan Benua Afrika, mengarungi padang pasir dan pegunungan, berjalan kaki menuju Baghdad. Ketika mendekati kota Baghdad, sampai kepadanya berita tentang fitnah yang menimpa Imam Ahmad, yaitu fitnah perkataan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Ia mendengar bahwa Imam Ahmad dilarang mengajar dan membuka majelis-majelis ilmu. Ia hanya berdiam di rumahnya dan dipaksa menjadi tahanan rumah. Berkata Baqiy, "Saya pun sangat sedih mendengarkan berita tersebut."

Akan tetapi, ia terus memaksa untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika tiba di Baghdad, ia letakkan barang bawaannya dan langsung pergi ke Masjid Jami' di kota tersebut, kemudian keluar untuk pergi mencari rumah Imam Ahmad.

Ia mengetuk pintu, dan pintu itu dibuka sendiri oleh Imam Ahmad. Baqiy berkata, "Aku seorang asing yang jauh dari rumah dan seorang penuntut ilmu hadits. Aku tidak mengadakan perjalanan ini selain untuk bertemu denganmu."

Imam Ahmad bertanya, "Dimanakah negerimu?"

"Barat Jauh. Aku menyeberang dari negeriku menuju Afrika." (Maksudnya adalah Andalus).

"Negerimu sangat jauh. Aku sangat ingin membantumu. Akan tetapi, aku sekarang sedang dalam ujian dan ditahan dalam rumahku sendiri..."

Baqiy berkata, "Wahai Abu Abdillah! Aku adalah orang asing, tidak ada seorang pun dari penduduk Baghdad yang mengenalku. Jika engkau izinkan, aku akan mendatangimu dalam rupa seorang peminta-minta, mengetuk pintu dan meminta sedekah. Engkau kemudian keluar menjumpaiku, dan menyampaikan padaku walaupun hanya satu buah hadits pada setiap harinya."

Imam Ahmad menjawab, "Baik, tapi dengan syarat, engkau tidak boleh hadir di majelis-majelis ilmu dan di sisi para ahli hadits..."

*****

Berkata Baqiy bin Makhlid :

Aku pun mengambil sebuah tongkat di tanganku, mengikat kepalaku dengan kain, dan menaruh kertas dan tintaku dalam lipatan kain lenganku. Aku mendatangi pintu rumah dan berteriak, "Sedekah, semoga Allah merahmati kalian!!"

Ahmad pun keluar, menutup pintu dan menceritakan padaku dua atau tiga hadits, hingga akhirnya terkumpul padaku sekitar 300 hadits!!

Kemudian, akhirnya Allah mengangkat ujian tersebut dari Imam Ahmad dan beliau diizinkan untuk mengajar dan membuka majelis ilmu. Jika aku mendatanginya di majelisnya, ia akan melapangkan majelis untukku dan mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Ia berkata kepada murid-muridnya, "Orang ini layak untuk disebut sebagai penuntut ilmu sejati...", dan ia pun menceritakan kisahku bersamanya.

Suatu ketika aku sakit, dan Ahmad datang menjengukku bersama sahabat-sahabatnya. Mereka datang dengan membawa pena-pena mereka dan menuliskan setiap perkataan syaikh (guru) mereka, Imam Ahmad.

Sumber kisah : Siyar A'lam an-Nubala', Imam adz-Dzahabi, XIII/292

16 Desember 2012

Bahlul

Ini bukan tentang manusia bahlul[1] yang bodoh. Bukan sama sekali. Tapi ini adalah tentang seorang murid Imam Malik bin Anas rahimahullahu. Namanya Bahlul bin Rasyid Al-Qairawani. Engkau harus tahu, ia adalah seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara'. Semua orang tahu itu. Tapi negerinya sungguh jauh. Di ujung barat Benua Afrika. Tepatnya di sebuah kota bernama Qairawan. Namun kisahnya sungguh mengagumkan...

Berikut ini adalah salah satunya...

***

Hari itu tiba sepucuk surat yang ditujukan kepada Bahlul bin Rasyid. Surat dari seorang wanita. Namun bukan siapa-siapa. Bukan istri atau kerabat. Surat itu datang dari negeri yang sangat jauh. Samarkand, Khurasan. Untuk kesana, engkau harus melintasi Baghdad, menyeberangi sungai Eufrat hingga nyaris tiba di bumi Allah bernama Afghanistan. Sungguh jauh... Bayangkanlah berapa jarak waktu yang mengantarkan surat itu hingga tiba di hadapan Bahlul bin Rasyid. Pastilah demi sesuatu yang begitu penting.

Bahlul memandang surat itu sebentar. Lalu membukanya.

"Dari seorang wanita di Tanah Samarkand, Khurasan.

Tuan,

Aku pernah mengalami sebuah penyakit kejiwaan. Tidak seorang pun yang mengalaminya kecuali aku. Namun aku kemudian bermohon kepada Allah agar disembuhkan dari penyakit ini dan aku pun disembuhkan. Aku pun beribadah dan tenggelam di dalamnya. Lalu aku bertanya kepada orang-orang tentang siapakah gerangan ahli ibadah yang masih tersisa di muka bumi ini. Padaku diberikanlah empat nama, dan salah satunya adalah Anda, Tuan Bahlul...

Karena itu, aku menulis surat ini kepada Anda. Aku minta pada Anda, Demi Allah, berdoalah kepadaNya agar Dia melanggengkan nikmat beribadah ini padaku untuk selamanya..."

Tiba-tiba saja surat itu terlepas dan jatuh dari tangan Bahlul. Tangannya gemetar. Dan ia sendiri menyungkurkan wajahnya ke tanah. Ia menangis tersedu-sedu. Begitu sedihnya, hingga membasahi surat yang telah terlebih dahulu jatuh...

Murid-murid dan sahabat-sahabatnya hanya diam terpaku, tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

"Duhai Bahlul...," tiba-tiba saja Sang ahli ibadah yang zuhud itu berbicara pada dirinya sendiri. "Tidakkah engkau lihat, seorang wanita dari Samarkand mengirim surat padamu?!! Ia mengira engkau seorang hamba yang shalih... Duhai betapa celakanya engkau, jika saja Allah tidak menutupi semua aib-aibmu... Sungguh betapa celakanya engkau..."

***

Hmm, jika engkau mencari seorang manusia yang cerdas dan berakal, maka seperti itulah sesungguhnya manusia berakal itu...

-------------------

[1] Secara harfiah, dalam bahasa Arab "bahlul" itu artinya bodoh

Oleh : Muhammad Ihsan Zainuddin, "Tangannya telah Berada di Surga", hal. 75-78.

Perubahan dari Titik Nol

Episode-episode keterpurukan itu nampak sangat jelas. Keterpurukan dalam peradaban, ekonomi, budaya dan kekuatan milter persenjataan seperti menjadi sebuah serial yang terus saja berkelanjutan layaknya sebuah film atau sinetron yang selalu menyediakan episode lanjutan. Banyak yang pesimis dan kecut pada akhirnya. Yah, umat yang -katanya dan seharusnya- gagah menggantungkan 'izzahnya kepada Allah 'azza wa jalla itu dibuat kecut, pesimis dan rendah diri akibat terlalu banyak menyaksikan serial keterpurukannya sendiri. Akibatnya mereka menjadi kaku. Tidak mampu berdiri. Apalagi bergerak.

Padahal sesungguhnya, jenis kelemahan yang paling dahsyat adalah bila kita dengan penuh ketidakberdayaan menerima dan bersandar pada realitas. Realitas bahwa kita telah terpuruk. Realitas bahwa kekuatan hizb asy-syaithan begitu kuat dalam setiap lini. Sungguh, kelemahan yang satu ini sangat menakutkan. Sebab ketika kita semua menjadi manusia yang pasrah dengan kenyataan, lalu tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan episode kekalahan ini, maka kita akan menjadi sekumpulan prajurit dan ksatria yang kalah sebelum perang mengibarkan benderanya. Sebab jiwa kita telah takluk, bertekuk lutut. Sekuat apapun senjata penghancurmu, jika jiwamu terkulai, jangan pernah bermimpi meraih kemenangan.

***

Jalan perubahan (baca : jalan kemenangan) itu sendiri sesungguhnya telah begitu jelas bagi umat ini. "Dan sungguh benar-benar Allah pasti akan memenangkan siapa yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Berkuasa." (Terjemah al-Hajj ayat 40)

Seharusnya seorang mukmin tidak boleh kalah dan takluk di depan keputusasaan dan kerendahdirian. Sebab imam yang ia miliki bersumber dari Sang Rabb yang mengingatkannya, "Dan janganlah kalian merasa hina rendah, dan jangan (pula) kalian bersedih, sebab kalianlah yang tertinggi bila kalian beriman." (Terjemah Alu Imran ayat 139)

Hanya saja, umat ini seharusnya tidak pernah lupa akan satu hal. Bahwa kemenangan dan kebangkitan umat ini tidak akan lahir dengan sebuah mukjizat. Sebab ia akan terlahir melalui proses sunnatullah. Ya, sunnatullah itu tidak akan mungkin dilanggar. Sunnatullah yang disebutkan Allah Ta'ala ketika menyatakan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Terjemah ar-Ra'ad ayat 11)

Jadi, bila engkau bertanya tentang titik awal jalan perubahan dan kemenangan ini, maka jawabnya adalah bahwa ia bermula dari diri kita masing-masing. Adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal -dan sangat disayangkan kesalahan ini diyakini sebagai kebenaran oleh sebagian pelaku pergerakan Islam- bila kita ingin mengubah keadaan tanpa terlebih dahulu melakukan perubahan pada diri para pelaku keadaan itu. Melakukan "pembangunan" ulang dan tarbiyah adalah jalan yang paling tepat untuk mengawali sebuah episode perubahan dan kemenangan. Sebab, kunci dasar dari sebuah kebangkitan dan perubahan keadaan ada pada diri manusia. Itulah sebabnya, dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepenuhnya tertuju pada pembinaah (tarbiyah) dan pensucian (tazkiyah). "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummiy seorang Rasul, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah)." (Terjemah QS. al-Jumu'ah ayat 2)

Manusia dengan segala potensi yang dikaruniakan Allah padanya adalah makhluk yang memiliki kemampuan yang dahsyat untuk membuat sejarah. Itu pula sebabnya mengapa Allah Ta'ala memilih mereka untuk mengemban amanah yang paling berat. Amanah yang telah ditawarkan sebelumnya kepada langit, bumi dan gunung -makhluk yang secara fisik jauh lebih besar dari fisik manusia- lalu mereka semua menolaknya. Manusialah yang kemudian -dengan gagah- menerimanya.

Namun, manusia pulalah yang menjelma menjadi sosok makhluk yang sangat kompleks. Itulah sebabnya, siapa saja yang meyakini pentingnya membina pribadi pembangun peradaban dan kejayaan umat ini harus menyadari betul bahwa jalan tarbiyah dan tazkiyah ini adalah jalan yang panjang. Kesabaranmu harus berlipat. Dan nafasmu harus sangat panjang...

Tapi itulah jalannya. Jangan tergesa-gesa menitinya. Persis seperti saat dimana pada suatu ketika Khabbab bin Al-Arats radhiyallahu 'anhu mengeluh kepada Sang Rasul betapa beratnya penindasan kaum musyrik pada mereka dan mempertanyakan mengapa tidak segera meminta pada Allah untuk dimenangkan... Persis seperti jawab Sang Rasul yang marah memerah wajahnya, "Sungguh generasi sebelum kalian ada yang disisir kepalanya dengan sisir besi hingga terkoyak dan nampak tulang dari dagingnya, namun itu tak memalingkannya dari agamanya... Lalu diletakkan sebuah gergaji diatas kepalanya, kemudian (kepalanya itu) dibelah hingga menjadi dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya... Sungguh Allah pasti akan menyempurnakan urusan (agama) ini hingga seseorang dapat berkendara dari Shan'a ke Hadhramaut, ia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam dombanya... Tapi kalian adalah orang yang tergesa-gesa..." (Terjemah HR. al-Bukhary)

Jadi, itulah jalannya. Dan jalan itu belum pernah berhenti. Jalan itu tidak terhenti walau engkau telah mendapatkan kursimu. Jalan itu tidak akan berakhir saat orang-orangmu telah diangkat menjadi menteri. Tidak. Sebab jalan ini hanya akan berhenti ketika engkau telah mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Sang Pencipta seluruh makhluk. Jalan itu akan usai pada satu titik. Pada titik "TAUHID".

(Oleh : Muhammad Ihsan Zainuddin-Makassar)

08 Desember 2012

Sebuah Cermin

Berhentilah sejenak...
Hanya sejenak...
Sekedar bercermin...
Meskipun mungkin, cermin ini "terlalu besar" untuk kita...

*****

 Pada al-Ahnaf bin Qais pernah dikatakan, "Berhentilah berpuasa, usiamu sudah lanjut, dan puasa itu akan membuatmu semakin lemah."

Tapi ia menjawab, "Sesungguhnya aku menyiapkannya untuk sebuah perjalanan yang panjang..."

*****

Bila malam tiba, Syaddad bin Aus gelisah di atas tempat tidurnya. Ia selalu saja kesulitan tidur. Ia seperti sebutir kacang di atas penggorengan yang panas. Bila sudah demikian, maka ia bangkit berdiri.

"Ya Allah, sungguh bayangan tentang neraka-Mu membuatku tak dapat tidur," ujarnya.

Ia pun berdiri mengerjakan shalat... hingga saat Subuh tiba.

*****

Putri tetangga al-Manshur bin al-Mu'tamir pernah bertanya pada ayahnya, "Wahai ayah, kemana gerangan perginya 'batang kayu' yang tegak berdiri di atap Tuan al-Manshur tadi malam?"

Ayahnya menjawab, "Tidak, anakku... Itu bukan batang kayu. Itu adalah al-Manshur. Ia sedang mengerjakan qiyamul lail."

*****

Seringkali, setiap usai membaca kita ar-Raqa'iq (kitab-kita yang bertujuan melembutkan dan menyadarkan hati), Abdullah bin al-Mubarak akan menangis. Tidak sekedar menangis biasa. Ia menangis seperti seekor kambing yang disembelih. Hingga -kata Nu'aim bin Hammad, salah seorang sahabatnya-, tidak seorang pun yang berani bertanya padanya melainkan akan didorongnya.

*****

"Bila engkau tidak pernah sanggup untuk bangun mengerjakan qiyamul lail dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau benar-benar orang yang diharamkan dari kebaikan. Hatimu telah dibuat bebal oleh dosa," Kata al-Fudhail bin 'Iyadh suatu ketika.

*****

Semoga Anda sudah selesai mematut diri di depan cermin "kebesaran" itu...
Tidak mengapa... Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali...

--------------------

Sumber :

"Tangannya telah Berada di Surga", Muhammad Ihsan Zainuddin

23 Juli 2012

Memohon Pembenahan Ilahi dalam Segala Urusan

Berkata Syaikh al ‘Allâmah Nâshir bin Abdurrahmân as Sa’dî rahimahullahu :
 
Hal yang paling bermanfaat dalam meniti peristiwa di masa yang akan datang adalah mengamalkan doa yang diamalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

اللهُمَّ أصْلِحْ لِيْ دِينِيْ الذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِيْ، وَ أصْلِحْ لِيْ دُنْيَايَ التِيْ فِيْهَا مَعَاشِيْ، وَأصْلِحْ لِيْ آخِرَتِي التِيْ إلَيْهَا مَعَادِيْ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لي فِى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لي مِنْ كلِّ شَرّ

Allâhumma ashlih lî dîni_lladzî huwa ‘ishmatu amrî, wa ashlih li dun-yâya_llatî fîhâ ma’âsyî, wa ashlih lî âkhirati_llatî ilaihâ ma’âdî, wa_j’ali_lhayâta ziyâdatan lî fî kulli khair, wa_j’ali_lmauta râhatan lî min kulli syarr.

Ya Allah, perbaikilah agamaku, yang merupakan penjaga bagi segala urusanku, perbaikilah duniaku, yang padanya ada kehidupanku, perbaikilah akhiratku, yang merupakan tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai tempat beristirahat untukku dari segala keburukan… [1]

Dan juga doa beliau;

اللهُمَّ رَحْمَتَكَ أرْجُوْ، فَلاَ نَكِّلْنِيْ إلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأصْلِحْ لِيْ شَأنِيْ كُلهُ، إلا إلهَ إلا أنْتَ

Allahumma rahmataka arjû, fa lâ takkilnî ilâ nafsî tharfata ‘ain, wa ashlih lî sya’nî kullah, lâ ilâha illa anta.

Ya Allah, kasih sayang-Mu jualah yang aku harapkan, maka janganlah Engkau biarkan aku pada diriku sendiri sekejap mata pun. Perbaikilah untukku seluruh urusanku. Tiada ilâh (yang hak) selain Engkau… [2]

Jika bibir seorang hamba mengucapkan doa ini –yang mengandung kebaikan masa depan bagi nilai religinya maupun urusan dunianya; dengan menghadirkan hati, niat yang benar, dengan terus berupaya mewujudkan hal itu dengan berbuat, niscaya Allah akan mewujudkan apa yang ia minta dalam doanya. Apa yang ia harapkan dan upayakan itu akan menjadi kenyataan. Kegelisahannya pun akan berubah menjadi kebahagiaan dan kegembiraan.

(Al Wasâ-il al Mufîdah li al Hayât as Sa’îdah, Syaikh al ‘Allâmah Nâshir bin Abdurrahmân as Sa’dî rahimahullahu)

-------------------

[1] HR. Muslim
[2] HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan ath Thabrani      

16 Juli 2012

Bagaimana Anda Melatih Anak Berpuasa?

Umur berapa seorang anak kecil diharuskan berpuasa? Dan bagaimana cara menyemangati untuk berpuasa dan shalat di masjid terutama shalat tarawih? Adakah agenda keagamaan yang praktis untuk kegiatan mengisi waktu kosong anak-anak di bulan Ramadan?

-----ooooo-----
Alhamdulillah,

Pertama, puasa tidak diwajibkan untuk anak-anak sampai dia baligh berdasarkan sabda Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عَنْ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يفِيقَ ، وَعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

"Pena diangkat (gugur kewajiban) dari tiga; Orang gila yang hilang akal hingga sembuh, orang tidur hingga bangun dan anak kecil hingga bermimpi (baligh)." (HR. Abu Dawud, no. 4399 dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahîh Sunan Abi Dâwûd)

Meskipun begitu, seyogyanya anak kecil dianjurkan untuk berpuasa agar terbiasa. Dan karena akan ditulis untuknya sebagai amalan saleh yang dilakukannya. Umur yang dapat dimulai anak-anak belajar berpuasa adalah umur yang mampu untuk berpuasa. Hal ini berbeda sesuai dengan kondisi fisik anak. Sebagian ulama menentukan umur sepuluh tahun.


Al-Khiraqi rahimahullahu berkata, "Kalau anak berumur sepuluh tahun dan mampu berpuasa, maka dibiasakan (puasa)."

Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, "Yakni diharuskan berpuasa, diperintah dan dipukul kalau meninggalkannya agar terlatih dan terbiasa. Sebagaimana diharuskan shalat dan diperintahkan. Di antara ulama yang berpendapat agar anak kecil diperintahkan berpuasa kalau sudah mampu adalah Atha’, Hasan, Ibnu Sirin, az-Zuhri, Qatadah dan asy-Syafi’i."

Al-Auza’i rahimahullahu berkata, "Kalau dia mampu berpuasa selama tiga hari berturut-turut dan dia tidak lemah, maka diperintahkan kepadanya untuk berpuasa sebulan Ramadan."

Ishaq berkata, "Kalau sudah berumur dua belas tahun, saya lebih senang kalau dia diberi beban berpuasa agar terbiasa."

Dijadikan patokan umur sepuluh tahun pertama, karena Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan untuk memukul anak kecil yang meninggalkan shalat. Disamakan antara puasa dengan shalat itu lebih baik, karena adanya kedekatan antara satu dengan lainnya. Kesamaannya, bahwa keduanya termasuk ibadah fisik dari rukun Islam. Cuma puasa lebih berat, maka perlu adanya kekuatan. Karena terkadang dia mampu shalat, akan tetapi tidak mampu berpuasa." (Al-Mughnî, 4/412)

Termasuk kebiasaan shahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik anak-anaknya, mereka memerintahkan yang kuat untuk berpuasa. Kalau ada yang  menangis karena lapar, mereka diberi mainan agar melupakannya. Namun tidak diperkenankan memaksanya berpuasa kalau hal itu berdampak buruk yang dapat mengakibatkan kelemahan fisik atau sakit.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Anak kecil tidak diharuskan berpuasa sampai dia baligh. Akan tetapi dianjurkan (untuk melakukannya) apabila dia kuat agar terlatih dan terbiasa, sehingga akan mudah (melakukannya) apabila telah baligh. Dahulu para shahabat radhiyallahu ‘anhum – dan mereka adalah umat terbaik- menganjurkan puasa pada anak-anak mereka yang masih kecil." (Majmû Fatâwâ Syaikh Ibn Utsaimîn, 19/28-29)

Syaikh rahimahullahu juga ditanya, "Anakku yang masih kecil bersikeras untuk berpuasa di bulan Ramadan, padahal puasa berdampak buruk bagi dirinya karena umurnya masih kecil dan berdampak pada kesehatannya. Apakah saya harus menggunakan kekerasan kepadanya agar berbuka?"

Beliau menjawab, "Kalau anak kecil yang belum baligh, tidak diharuskan berpuasa. Akan tetapi kalau dia mampu tanpa ada beban, maka dianjurkan (untuk berpuasa). Dahulu para shahabat radhiyallahu ‘anhum menganjurkan anak-anak mereka untuk berpuasa. Sampai anak kecil di antara mereka ada yang menangis dan diberi mainan agar terlupakan. Akan tetapi jika benar (puasa) berdampak negatif, maka harus dilarang. Kalau Allah subhânahu wa ta’âla melarang kita memberikan harta anak kecil kepadanya karena khawatir timbul kerusakan, maka akibat negatif terhadap fisik lebih utama untuk dilarang. Akan tetapi melarangnya jangan dengan cara kekerasan. Karena hal itu tidak layak diterapkan dalam berinteraksi ketika mendidik anak." (Majmû’ Fatâwâ Syaikh Ibn Utsaimîn, 19/83)


Kedua, kedua orang tua dapat juga memberikan semangat kepada anak-anaknya untuk berpuasa dengan memberinya hadiah setiap hari. Atau dengan menumbuhkan semangat berlomba di antara mereka yang seumur atau yang lebih kecil umurnya. Begitu juga dapat memberikan semangat menunaikan shalat dengan diajak ke masjid untuk shalat. Terutama kalau mereka keluar bersama ayahnya untuk shalat di beberapa masjid setiap hari. Begitu juga dapat memberikan semangat dengan memberikan apresiasi akan hal itu. Baik apresiasi berupa sanjungan dan pujian atau mengajak bertamasya atau membelikan apa yang disukainya atau yang semacamnya.

Sangat disayangkan sekali banyak sebagian bapak dan ibu yang melalaikan anaknya dalam memberikan semangat, bahkan ada sebagian yang melarang melakukan ibadah ini. Sebagian orang tua dengan alasan kasih sayang tidak menganjurkan anaknya berpuasa atau menunaikan shalat. Ini adalah suatu kesalahan nyata dalam sisi agama maupun dari sisi pendidikan.
 
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullahu berkata, "Allah telah mewajibkan puasa untuk dilaksanakan oleh setiap muslim, mukallaf (yang sudah terkena beban kewajiban), mampu dan dalam keadaan mukim (berdiam) di negerinya. Sedangkan anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa, berdasarkan sabda Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam, "Di angakat pena (dari beban kewajiban) tiga golongan"; diantaranya disebutkan, "Anak kecil sampai dia baligh." Akan tetapi, walinya dianjurkan memerintahkannya berpuasa kalau dia sudah memiliki kekuatan untuk berpuasa. Karena hal itu merupakan (cara) mendidik dan membiasakan untuk melasanakan rukun Islam. Kami melihat sebagian orang membiarkan anak-anaknya tidak diperintahkan untuk shalat juga tidak berpuasa. Ini adalah suatu kesalahan, karena dia bertanggung jawab akan hal itu di sisi Allah tabâraka wa ta’âla. Mereka tidak memerintahkannya berpuasa dengan alasan merasa kasihan dan kasih sayang kepadanya. Padahal sebenarnya orang yang kasihan dan kasih sayang kepada anak-anaknya adalah orang yang membiasakanya dengan akhlak yang baik dan perbuatan baik. Bukan membiarkannya tanpa didikan yang bermanfaat."  (Majmû’ Fatâwâ Syaikh Ibn Utsaimîn, 19/19-20)


Ketiga, kedua orang tua dapat memberikan kesibukan kepada anak-anaknya dengan membaca al-Qur’an dan sedikit menghafalkan setiap hari. Begitu juga dengan membaca buku-buku yang sesuai dengan keadaannya, mendengarkan berbagai macam kaset agar dapat menggabungkan antara faedah dan kesenangan seperti nasyid, menyediakan CD yang bermanfaat untuknya. Channel Al-Majd (sebuah saluran TV Islam di Timur Tengah) banyak memiliki acara seperti ini. Mungkin juga setiap hari ada waktu khusus mengevaluasi apa yang bermanfaat untuk anak-anaknya.


Kami sangat berterima kasih kepada penanya yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan anaknya. Hal ini menunjukkan kebaikan dalam rumah tangga muslim. Akan tetapi masih banyak yang belum dapat mengembangkan potensi anak, baik sisi ilmiah  maupun fisik, sehingga anak-anak terbiasa dengan santai, malas dan bersandar kepada orang lain. Sebagaiamana belum ada perhatian untuk memberikan semangat dalam ibadah seperti shalat dan puasa. Generasi yang tumbuh seperti ini hatinya akan menjauhi ibadah ketika mereka sudah dewasa, dan akibatnya orang tuanya kesulitan dalam memberikan arahan serta nasehat. Jika mereka memberikan perhatian sejak awal, maka tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala untuk membantu kita dalam mendidik anak-anak kita agar tumbuh dalam kecintaan terhadap ibadah dan memberikan taufiq kepada kita untuk menunaikan kewajiban terhadap mereka.

Wallahu’alam.

-----ooooo-----

Sumber : http://www.islamqa.info  
            

30 Juni 2012

Antara Musa dan Yunus 'alaihimassalam

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab "Madârij as-Sâlikîn Baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în" :


Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah mensucikan ruhnya- berkata :

"Lihatlah kepada Musa –shalawat dan salam dari Allah untuknya-; ia telah melempar lempengan-lempengan yang tertulis padanya firman Allah yang dituliskan-Nya dengan Tangan-Nya hingga hancur berkeping-keping, menarik janggut seorang nabi yang sepertinya yaitu Harun, menampar mata Malaikat Maut hingga lepas dan 'mengkritik' Rabb-nya saat malam Isra’ dalam persoalan Muhammad; sementara Rabb-nya menanggung semua itu untuknya, mencintainya dan memuliakannya, karena ia telah berjuang untuk Allah dengan perjuangan yang besar dalam menghadapi musuh terbesar-Nya, menyampaikan perintah-Nya dan memperbaiki bangsa Koptik (Qibti) dan Bani Israil dengan sekuat tenaga. Perkara-perkara ini ibaratnya sehelai rambut di tengah lautan yang luas.

 
Dan lihatlah kepada Yunus bin Matta 'alaihissalam yang tidak memiliki kedudukan sebagaimana halnya Musa. Ia telah membuat marah Rabb-nya sekali saja, maka Rabb-nya menghukumnya dan mengurungnya di perut ikan. Rabb-nya tidak menanggung untuknya seperti yang Dia tanggung untuk Musa". 


Sangat jauh perbedaan antara orang yang datang dengan sebuah kesalahan sementara dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan yang bisa memberikan syafaat untuknya, dan orang yang datang dengan sebuah kesalahan kemudian datanglah kebaikan-kebaikannya sebagai pemberi syafa’at. Sebagaimana dikatakan :

وإذا الحبيب أتى بذنبٍ واحـــدٍ # جـاءتْ محـاسنه بألفِ شفيــعٍ

Jika seorang kekasih datang dengan sebuah dosa
Datanglah kebaikan-kebaikannya dengan seribu syafa’at
 

Amal-amal shalih akan menjadi syafa’at bagi pemiliknya di sisi Allah dan menjadi pengingat baginya jika dia terjatuh pada kesulitan. Allah Ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Yunus ‘alaihissalam) :

فلولا أنه كان من المسبحين، للبث في بطنه إلى يوم يبعثون

"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit". (QS. Ash-Shaaffaat ayat 143-144)

Dan (tentang) Fir’aun, karena dia tidak memiliki kebaikan yang mendahuluinya untuk menjadi syafa’at baginya, ia berkata :

آمنتُ أنه لا إله إلا الذي آمنتْ به بنو إسرائيل

"Aku beriman bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang diimani oleh Bani Israil..

Maka Jibril berkata kepadanya :

الآنَ و قدْ عصيتَ قبلُ و كنتَ من المفسدين

"Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan". (Lihat QS. Yunus ayat 90 dan 91)


(Sumber : Tahdzîb Madârij as Sâlikîn, oleh Abdul Mun’im Shalih al ‘Uliy al ‘Izzi, hal. 296-297)


******

Sahabat,

Bekerja, berjuang dan persembahkanlah yang terbaik untuk Allah dan agama-Nya, barangkali saja Dia berkenan memaafkan segala kekurangan kita dalam penghambaan kita terhadap-Nya...        

27 Juni 2012

Indahnya Islam

Panglima Qutaibah ibnu Muslim al-Bâhily adalah seorang panglima besar yang telah menaklukkan negeri-negeri di Asia Tengah sampai perbatasan China. Diantara negeri-nengeri yang ditaklukkan tersebut adalah Samarkand. Negeri ini ditaklukkan oleh kaum muslimin tanpa memberikan pilihan terlebih dahulu kepada penduduknya untuk memeluk Islam, berdamai atau berperang.


 
Setelah berlalu dua puluh tahun dari penaklukannya tersebut, Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu diangkat menjadi Khalifah. Penduduk Samarkand mendengar tentang keadilan Sang Khalifah. Maka mereka pun mendatangi gubernur Samarkand saat itu, Sulaiman bin Abi as-Sirry dan berkata :

”Qutaibah dahulu telah berkhianat, bersikap aniaya dan merampas negeri kami, dan sekarang Allah telah membangkitkan keadilan. Izinkanlah kami untuk mendatangi Amirul Mukminin dan mengadukan kezaliman yang menimpa kami”.

Setelah mendapatkan izin, mereka mengirim delegasi kepada Khalifah di Damaskus mengadukan perkara mereka.

Mendengar pengaduan tersebut, Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Gubernur Sulaiman bin Abi as-Sirry yang isinya :

”Penduduk Samarkand telah mengadukan kezaliman yang menimpa mereka dan serangan yang dilakukan Qutaibah yang telah mengusir mereka dari negerinya. Jika sampai suratku ini padamu, angkatlah seorang qadhi (hakim) yang akan mengadili perkara mereka ini. Jika dia memenangkan perkara mereka, maka kembalikanlah mereka ke negerinya sebagaimana dahulu dan kalian kembali ke tempat kalian sebelum Qutaibah memenangkan perang”.

Gubernur memilihkan untuk mereka seorang qadhi besar di masanya yaitu Jâmi’ bin Hâdhir al-Qâdhy an Nâjy. Dalam sebuah persidangan besar, Sang Qadhi akhirnya memutuskan dalam sidang tersebut bahwa seluruh orang Arab dan balatentara Islam yang ada di Samarkand harus keluar dari negeri itu dan mengembalikan seluruh perjanjian mereka dengan cara yang jujur. Semuanya harus dimulai dengan perjanjian yang baru atau kemenangan baru dengan sebuah perang yang terhormat.

Mendengar keputusan hakim tersebut, penduduk Samarkand heran dan merasakan kekaguman yang luar biasa. Mereka pun akhirnya berkata:

”Kami ridha dengan keadaan kami sekarang…”.

Ya... Pada akhirnya penduduk Samarkand lebih memilih untuk hidup dibawah naungan kaum muslimin setelah melihat keadilan Islam...


*****

Andai saja kaum muslimin memahami ajaran agamanya dengan benar, pastilah Islam akan benar-benar akan menjadi agama yang dikagumi dan dianut oleh banyak penduduk dunia.

Andai saja para pelaku teror atas nama jihad memahami ajaran Islam yang benar sesuai tuntunan al Quran dan Sunnah; memahami bagaimana seharusnya memperlakukan musuh dengan cara yang terhormat; memahamai bagaimana seharusnya seorang muslim menghormati perjanjian dan aturan main dalam perang; niscaya Islam akan semakin berjaya dan tidak akan tertuduh sebagai agama yang menyukai kekerasan.

Mengapa harus selalu berpikir untuk membalas keburukan musuh dengan keburukan yang sama? Bukankah hal yang "wajar" jika mereka melakukan tindakan biadab layaknya binatang buas karena mereka bukanlah orang-orang yang beragama? Apakah kita harus ikut menjadi sama buruknya seperti mereka hanya karena berperang atas nama dendam?

Demi Allah, kami tidak akan berperang kecuali dengan nilai-nilai Islam yang mulia... Karena, nilai itulah yang membedakan kita dengan orang-orang kafir...

Hanya kepada Allah kami mengadukan kebodohan sebagian pemuda umat ini. Wallahul musta'an.


=======================

Kisah diatas disarikan dari Tarikh ath Thabary, VIII/138-139