"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2016

Jika Andai Mencintainya, Amalkan Sunnahnya

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi yang tercinta ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin? Maka beliau menjawab,

ذَلِكَ يَوْمَ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمَ بُعِثْتُ أوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku.”

Beliau ﷺ mengabarkan bahwa dirinya dilahirkan pada hari Senin, walaupun sebenarnya beliau tidak ditanya tentang hal itu. Akan tetapi beliau tidak menyebutkan tanggal lahirnya dan para shahabat pun tidak bertanya tentang tanggal tersebut, sementara mereka adalah orang-orang yang sangat antusias untuk mengerjakan kebaikan, karena pengetahuan tentang tanggal lahir itu tidak berkonsekuensi pada apapun.

Andai pengetahuan tentang hal itu memiliki konsekuensi syar’i dan kebaikan untuk umatnya, niscaya beliau tidak akan pernah menyembunyikannya dari umatnya.

Kalau memang seorang muslim benar-benar mencintai Nabi ﷺ, maka amalkan sunnahnya dengan berpuasa pada hari Senin, karena beliau ﷺ menyukai puasa pada hari tersebut, dengan dua alasan yang disebutkan dalam hadits Muslim di atas dan juga alasan ketiga, bahwa hari Senin –dan juga Kamis- adalah hari dimana amal-amal dihadapkan kepada Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda,

تُعْرَضُ الأعْمَالُ يَوْمَ الإثْنَيْنِ وَالخَمِيْس، فَأُحِبُّ أنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأنَا صَائِمٌ

Amal-amal dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka jika amalku diperlihatkan sementara aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi, dan diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i dari haditsnya Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dan diriwayatkan juga oleh An-Nasa’i dari Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha).

Semoga Allah menguatkan hati kita di atas sunnah nabi-Nya dan mewafatkan kita di atas sunnah tersebut.

Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âlihi wa shahihbihi ‘ajma’în.

06 Desember 2016

Inilah Alasan Penyelenggaraan Maulid Nabawi

Orang-orang yang merayakan Maulid Nabi telah melegalkan perbuatan mereka tersebut dengan alasan-alasan berikut ini,

1. Penyelenggaraan Maulid yang dilakukan setiap tahunnya, dengannya kaum muslimin akan kembali mengingat Nabi-nya ﷺ, sehingga bertambahlah kecintaan dan pengagungan mereka terhadap beliau.

2. Mendengarkan asy-Syama’il al-Muhammadiyyah (adab dan akhlak Nabi ﷺ) dan mengenal nasab beliau yang mulia.

3. Menampakkan kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah ﷺ yang menunjukkan akan kecintaan terhadap diri beliau dan kesempurnaan iman terhadapnya.

4. Memberi makan, dan ini adalah perkara yang diperintahkan. Padanya ada ganjaran yang besar terutama dengan niat syukur kepada Allah Ta’ala.

5. Berkumpul untuk berzikir kepada Allah dengan membaca Al-Quran dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.

Ini lima perkara yang dijadikan alasan pembenaran untuk merayakan Maulid oleh sebagian pendukungnya. Alasan-alasan ini tidaklah memuaskan dan sangat nampak kebatilannya karena kelancangan terhadap Syari’at dengan membuat sesuatu yang tidak pernah disyari’atkan walaupun ada hajat kepada hal tersebut.

Berikut ini adalah penjelasan tentang kebatilan alasan-alasan tersebut,


Pertama; 

Perkara Maulid yang dijadikan sebagai peringatan tahunan; hal ini layak untuk dijadikan alasan jika seorang muslim tidak menyebut dan mengingat Nabi ﷺ puluhan kali pada setiap harinya, sehingga dibuatkanlah peringatan tahunan atau bulanan untuk mengingatnya yang dengan itu akan bertambahlah iman dan kecintaan muslim tersebut terhadap diri beliau.


Adapun seorang muslim; tidaklah dia shalat pada malam dan siang kecuali dia akan menyebut padanya nama Rasul ﷺ, dan tidak masuk waktu shalat dan tidak pula ditegakkan shalat tersebut kecuali akan disebut nama Rasul ﷺ dan dibacakan shalawat untuknya.

Yang pantas untuk dibuatkan perayaan karena khawatir akan dilupakan adalah orang-orang yang tidak menyebut dan mengingatnya. Adapun orang yang selalu menyebut, mengingat dan tidak lupa, apa pentingnya dibuatkan acara tersebut agar dia tidak lupa? Bukankah hal ini mencari sesuatu yang sebenarnya sudah ada pada diri setiap muslim?

Kedua; 

Mendengarkan sebagian dari asy-Syama’il al-Muhammadiyyah dan nasabnya yang mulia; ini juga adalah alasan yang tidak kuat. Karena mengenal asy-Syama’il al-Muhammadiyah dan nasab beliau yang mulia tidaklah cukup hanya untuk didengarkan setahun sekali. Apa yang bisa mencukupi seorang muslim dengan hanya mendengarkannya sekali dalam setahun sementara hal itu adalah bagian dari aqidah Islam?!

Yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah adalah mengenal nasab Nabinya ﷺ dan sifat-sifatnya sebagaimana dia mengenal Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifatNya. Yang seperti ini mesti dengan pengajaran, tidak cukup hanya dengan mendengarkan bacaan kisahnya setahun sekali.

Ketiga; 

Menunjukkan kegembiraan adalah alasan yang sangat-sangat lemah, karena kegembiraan itu entah karena pribadi Rasul ﷺ atau karena hari yang beliau dilahirkan padanya. Kalau memang karena pribadinya, maka itu harus berlangsung kontinyu pada setiap kali disebutkan Rasul ﷺ dan tidak khusus pada waktu-waktu tertentu saja. Jika kegembiraan itu karena hari yang beliau dilahirkan padanya, maka sungguh, hari itu adalah juga adalah hari wafatnya beliau –ﷺ. Saya tidak mengira seorang yang berakal akan mengadakan perayaan kegembiraan di satu hari yang pada hari itu telah meninggal dunia kekasih yang dicintainya. Kematian beliau –ﷺ– adalah musibah terbesar yang pernah menimpa umat ini.

Keempat; 

Memberi makan adalah alasan yang jauh lebih lemah dari alasan-alasan yang sebelumnya. Karena memberi makan adalah perkara yang sunnah dan sangat dianjurkan pada setiap kali ada kebutuhan untuk hal itu. Seorang muslim akan selalu menjamu tamu, memberi makan orang yang lapar dan bersedekah sepanjang tahun, dan tidak perlu kepada satu hari tertentu pada satu tahunnya untuk memberi makan. Karenanya, perkara ini bukanlah alasan yang layak untuk bolehnya membuat bid’ah dalam agama.

Kelima; 

Berkumpul untuk zikir; ini adalah alasan yang rusak dan batil, karena berkumpul untuk berzikir dengan satu suara tidaklah dikenal di kalangan para Salaf. Adapun puji-pujian dengan paduan satu suara, maka ini adalah bid’ah yang buruk dan tidak dilakukan kecuali orang yang bingung dalam agamanya, wal ‘iyadzu bi_Llahi.

Walaupun sebenarnya juga, kaum muslimin telah (dan akan selalu) berkumpul pada setiap malam dan siang sepanjang tahunnya untuk shalat-shalat berjamaah di masjid-masjid dan juga menghadiri majelis-majelis ilmu. Karenanya, mereka tidak butuh kepada majelis tahunan untuk mendengarkan tabuhan-tabuhan dan menyantap makanan dan minuman yang umumnya faktor pendorongnya adalah keinginan-keinginan jiwa dan syahwat.

(Sumber: Al-Inshâf fî mâ Qîla fî al-Maulid min al-Ghuluww wa al-Ijhâf, Syaikh Abû Bakr bin Jâbir al-Jazâ’irî)

13 November 2016

Aqidah Ahlussunnah tentang Al-Quran Al-Karim

Ahlussunnah wal Jama’ah beriman bahwa Al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah, hurufnya dan maknanya. Dari-Nya bermula dan kepada-Nya dia akan kembali. Diturunkan bukan sebagai makhluk ciptaan. Allah mengucapkannya dengan hak, mewahyukannya kepada Jibril, dan Jibril ‘alaihissalam membawanya turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Quran diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan lisan Arab yang jelas. Dinukil kepada kita dengan jalan periwayatan yang mutawatir, yang tidak tersentuh oleh keraguan sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِيْنَ، عَلىَ قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ اْلمُنْذِرِيْنَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ

"Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu’arâ’ ayat 192-195)
 
Al-Quran Al-Karim tertulis dalam Al-Lauh Al-Mahfûdzh, dihafalkan dalam dada, terbaca oleh lisan dan dicatat dalam lembaran. Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِى صُدُوْرِ الَّذِيْنَ أُوتُوا اْلعِلْمَ

"Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ankabût ayat 49).

Dan firman-Nya,

إنَّهُ لَقٌرْآنٌ كَرِيْمٌ، فِى كِتَابٍ مَكْنُوْنٍ، لَا يَمَسُّهُ إِلَّا اْلمُطَهَّرُوْنَ، تَنْزِيْلٌ مِن رَّبِّ اْلعَالَمِيْنَ

"Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam." (QS. Al-Wâqi’ah ayat 77-80)

Al-Quran adalah mu’jizat terbesar yang abadi bagi Nabi Islam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia adalah kitab samawi yang terakhir. Tidak akan dihapus dan diganti. Allah telah menanggung penjagaannya dari segala bentuk perubahan, tambahan atau pengurangan sampai Dia mengangkatnya kembali menjelang Hari Kiamat nanti.

Allah Ta’ala berfirman,

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr ayat 9)

Al-Quran tidak diturunkan sekaligus kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, diturunkan berangsur-angsur sesuai dengan kejadian tertentu, atau sebagai jawaban atas pertanyaan, atau sesuai dengan tuntutan keadaan selama 23 tahun.

Al-Quran terdiri atas 114 surat; 86 diantaranya diturunkan di Mekkah dan 28 diturunkan di Madinah.

Al-Quran telah ditulis di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan pengawasan beliau. Dimana beliau memiliki penulis-penulis wahyu dari kalangan sahabat-sahabat pilihan radhiyallahu ‘anhum, yang menuliskan setiap apa yang turun dari Al-Quran dan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian di masa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah mushaf, dan di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dikumpulkan dalam satu bacaan.

  
Ahlussunnah wal Jama’ah sangat peduli dengan pengajaran Al-Quran, hafalan, tilawah (bacaan) dan tafsir serta pengamalannya.

Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shâd ayat 29)

Mereka beribadah kepada Allah dengan membacanya, karena pada bacaan setiap hurufnya ada satu kebaikan sebagaimana yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

من قرأ حرفًا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، ولا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألف حرفٌ، و لام حرفٌ، و ميم حرفٌ

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, baginya satu kebaikan dengan satu huruf tersebut. Dan satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf; akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak membolehkan penafsiran Al-Quran dengan logika semata-mata, karena hal itu termasuk berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu dan termasuk perbuatan syaitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ، إِنَّمَا يَأمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلىَ اللهِ مَالَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah ayat 168-169) 

Bahkan mereka menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri, kemudian dengan Sunnah, kemudian dengan perkataan Sahabat, kemudian dengan perkataan Tabi’in, dan kemudian dengan bahasa Arab yang dengannya Al-Quran diturunkan.

Wa bi_Llâhi at-taufîq.

------------------

Sumber :

Al-Wajîz fî ‘Aqîdah As-Salaf Ash-Shâlih, Ahl As-Sunnah wa Al-Jamâ’ah, Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Cet. Dar Ar-Rayah, 1425 H.

01 Mei 2016

Mereka tidak Mengkafirkan Kaum Muslimin

Diantara prinsip dasar aqidah as-Salaf ash-Shalih, Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwa mereka tidak mengkafirkan individu tertentu dari kaum muslimin yang melakukan sesuatu yang berkonsekuensi pada kekafiran, kecuali setelah ditegakkannya hujjah (argumen); terpenuhi syarat-syaratnya, hilang penghalang-penghalangnya (al mawâni’) dan tidak ada lagi syubhat (kesamaran) dalam diri seorang jahil atau memiliki ta’wil/penafsiran (muta-awwil).

Dan sudah dipahami, bahwa hal ini hanya pada perkara-perkara samar/tersembunyi yang butuh kepada penjelasan, bukan pada persoalan-persoalan yang sudah sangat jelas, seperti mengingkari wujud Allah Ta’ala, mendustakan Rasul , atau mengingkari risalah atau penutup kenabiannya.

Ahlussunnah tidak mengkafirkan orang yang dalam keadaan dipaksa (mukrah), jika hatinya tetap tenang dalam keimanan.

Demikian juga, mereka tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin dengan setiap dosa, walaupun dosa-dosa itu merupakan dosa-dosa besar (kabâ-ir adz dzunûb) yang selain syirik. Ahlussunnah tidak memvonis kafir kepada para pelaku dosa besar. Mereka hanya menghukuminya dengan sifat kefasikan atau berkurangnya iman selama dia tidak menghalalkan dosanya tersebut. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ, وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَد افْتَرىَ إثْمًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 48).

Dan firmanNya,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أسْرَفُوا عَلىَ أنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَحْمَةِ اللهِ إنَّ اللهَ يَغْفِرُوا الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah : Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar ayat 53).

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak mengkafirkan seorang pun karena sebuah dosa yang tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa dosa itu adalah sebuah kekufuran. Jika orang tersebut meninggal dalam keadaan demikian, maka urusannya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, jika Dia menghendaki Dia akan menyiksanya, dan jika Dia menghendaki maka Dia akan mengampuninya.

Hal ini menyelisihi firqah-firqah sesat yang menghukumi para pelaku dosa besar dengan kekafiran seperti keyakinan sekte Khawarij, atau berada pada satu diantara dua status (al-manzilah bainal manzilatain), bukan muslim dan bukan kafir sebagaimana yang diyakini Mu’tazilah.
 
Nabi telah memperingatkan dari bahaya mengkafirkan tersebut. Beliau bersabda,

أيما امرئٍ قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما، إن كان كما قال وإلا رجعت عليه

Siapa saja yang berkata kepada saudaranya: Hai kafir!, maka perkataan itu kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika benar seperti yang orang itu katakan, atau jika tidak benar, perkataan itu kembali kepadanya.” (HR. Muslim).

Beliau bersabda,

من دعا رجلاً بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه

Siapa yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau dia mengatakan: Musuh Allah!, dan orang itu tidaklah demikian, melainkan hal itu akan kembali kepada yang mengucapkan.” (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda,

ومن رمى مؤمنًا بكفلرٍ فهو كقتله

Siapa yang menuduh seorang mukmin dengan vonis kekafiran, maka itu seperti membunuhnya.” (HR. Al-Bukhary).

Dan beliau bersabda,

إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما

Jika seorang laki-laki berkata kepada saudaranya: Hai kafir!, maka perkataan itu kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Al-Bukhary).

Ahlussunnah wal Jama’ah membedakan antara hukum mutlak terhadap para pelaku bid’ah dan maksiat atau kekafiran, serta hukum terhadap individu tertentu –orang yang telah pasti keislamannya dengan yakin- bahwasannya dia adalah seorang pendosa, seorang fasik atau seorang yang kafir. Mereka tidak menghukuminya dengan vonis-vonis tersebut hingga jelas baginya kebenaran, yaitu dengan menegakkan hujjah dan menghilangkan syubhat. Ini dalam perkara-perkara yang tersembunyi dan samar, bukan dalam perkara-perkara yang jelas.

Dan mereka tidak mengkafirkan individu tertentu kecuali jika telah terpenuhi padanya syarat-syarat (asy syurûth) dan hilang penghalang-penghalangnya (al mawâni’).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Dahulu ada dua orang dari Bani Israil yang saling bersaudara. Salah satunya suka melakukan dosa, sementara yanng lainnya rajin beribadah. Ahli ibadah itu selalu melihat yang lainnya melakukan dosa, maka ia berkata : Berhentilah! Suatu hari ia mendapatkannya sedang melakukan dosa dan ia berkata padanya : Berhentilah! Orang itu menjawab : Biarkan aku dengan Rabb-ku! Apakah engkau diutus untuk mengawasi aku?! Maka ahli ibadah itu berkata : Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu! – atau (perkatannya) : Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam Surga!… Mereka  akhirnya diwafatkan dan keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Allah berkata kepada ahli ibadah : Apakah engkau mengetahui tentang Aku ataukah engkau berkuasa atas apa yang ada di Tangan-Ku?! Dan Dia berkata kepada si pendosa : Pergilah, dan masuklah ke dalam Surga dengan rahmat-Ku. Dan Dia berkata kepada yanng lainnya : Bawalah dia ke dalam Neraka!
Berkata Abu Hurairah : “Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, dia berbicara dengan satu kata yang menghancurkan dunia dan akhiratnya!” (Terjemah HR. Abu Dawud).

Kekafiran adalah lawan dari keimanan. Hanya saja, kekafiran dalam istilah Syari’at terbagi dua; jika disebutkan kata “kekafiran” dalam dalil-dalil maka terkadang yang dimaksudkan adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah (agama), dan terkadang dimaksudkan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari millah. Yang demikian itu karena kekafiran memiliki cabang-cabang sebagaimana keimanan juga memiliki cabang.

(Sumber : Al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih)

05 April 2016

Iman kepada Para Rasul

Iman kepada rasul adalah salah satu prinsip dasar keimanan, karena merekalah perantara antara Allah dan para makhluk dalam menyampaikan risalah-Nya dan menegakkan hujjah-Nya atas mereka.

Iman kepada rasul bermakna; pembenaran akan risalah mereka, mengakui kenabian mereka, dan bahwasannya mereka adalah orang-orang yang jujur dalam menyampaikan apa yang datang dari Allah. Mereka telah menunaikan amanat risalah tersebut dan menjelaskan kepada manusia seluruh apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.

Rasul-rasul yang disebutkan nama-namanya oleh Allah dalam al Quran, wajib diimani setiap individunya tersebut, dan mereka berjumlah 25 orang. 18 orang diantaranya Allah sebutkan dalam QS. Al-An’aam ayat 83-86; dan sisanya –yang 7 orang- disebutkan di tempat yang berbeda-beda dalam al-Quran.

Siapa yang tidak disebutkan namanya dalam al-Quran, wajib diimani secara global. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقدْ أرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir : 78).

Dan firmanNya,

وَرُسُلاً قَدْ قصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ، وَكَلّمَ اللهُ مُوْسىَ تكْلِيْمًا

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisaa’ : 164).

Apa perbedaan antara nabi dan rasul? Pendapat yang paling kuat tentang perbedaan keduanya adalah bahwa setiap nabi dan rasul diberikan wahyu kepada masing-masing mereka, tapi umumnya, nabi diutus kepada suatu kaum yang beriman kepada syariat yang terdahulu seperti halnya nabi-nabi Bani Israil. Adapun rasul, maka umumnya mereka diutus kepada kaum yang kafir yang mereka dakwahi kepada tauhid, dan sebagian orang-orang tersebut justru mendustakan mereka.

Seorang rasul lebih afdhal daripada seorang nabi. Dan rasul bertingkat-tingkat kedudukannya. Allah berfirman,

تِلْكَ الرُسُلُ فَضّلْنَا فَضّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلىَ بَعضٍ، مِنْهُمْ مَنْ كلّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

Rasul-rasul itu telah Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” (QS. Al-Baqarah : 253).

Rasul-rasul yang paling afdhal adalah rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Dan merekalah yang disebutkan Allah dalam QS. Al-Ahzab : 7 dan Asy-Syura : 13.

Dan yang paling afdhal dari para rasul Ulul ‘Azmi adalah al-Khalil Ibrahim dan Muhammad, ‘alaihimassalam, dan yang paling afdhal dari keduanya adalah Muhammad ﷺ.

Nubuwwah (kenabian) ini adalah murni anugerah, keutamaan dan pilihan yang datang dari Allah Ta’ala, dan tidak mungkin didapatkan dengan usaha-usaha tertentu.

Wallahu a’lam.

 
(Sumber : al Irsyâd ilâ Shahîh al I’tiqâd wa ar Radd ‘alâ Ahl asy Syirki wa al Ilhâd, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan)

16 Februari 2016

Iman terhadap Karamah Wali

Diantara prinsip pokok aqidah Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengimani karamah para wali Allah.

Karamah adalah perkara-perkara luar biasa yang Allah jadikan pada sebagian wali-waliNya dari kalangan orang-orang shalih yang komitmen dengan hukum-hukum Syari'at, sebagai bentuk pemuliaan dariNya terhadap mereka.

Jika hal itu terjadi tanpa disertai iman yang benar dan amal yang shalih, maka itu adalah istidrâj.

Allah Ta’ala berfirman,

ألاَ إِنَّ أولِيَاءَ اللهِ لاَ خَوفٌ عَلَيهِم وَلاَ هُم يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَقُونَ، لَهُمُ البُشْرىَ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الفَوزُ العَظِيْمُ

Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus ‘alaihissalam ayat 62-64).

Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini kebenaran karamah para wali, namun dengan kaedah-kaedah syar’i yang dijelaskan oleh dalil. Tidaklah setiap perkara luar biasa merupakan karamah dari Allah Ta’ala, karena bisa jadi itu merupakan bentuk istidrâj atau perbuatan para pendusta, tukang sihir atau perbuatan syaitan.

Karamah berasal dari Allah dan sebabnya adalah ketaatan dan ketakwaan. Karamah hanya berlaku khusus bagi orang-orang yang istiqamah diatas agama Allah Ta’ala. Allah berfirman,

وَمَا كَانُوا أوْلِيَاءَهُ إنْ أولِيَاؤُهُ إِلاَّ المُتَّقُونَ

Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasainya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Anfal ayat 34).

Sementara sihir berasal dari syaitan yang sebabnya adalah kekufuran dan maksiat, dan hanya berlaku bagi para pelaku kesesatan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإنَّ الشَيَاطِينَ لَيُوحُونَ إلىَ أولِيَائِهِم لِيُجَادِلُوكُم وَإنْ أطَعْتُمُوهُم أنَّكُم لَمُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am ayat 121).

Terjadinya karamah terhadap para wali-wali pada hakikatnya adalah sebuah bentuk mukjizat untuk para nabi 'alaihimussalâm. Karena karamah itu tidak mungkin terjadi untuk salah seorang dari mereka kecuali dengan berkah mutâba'ahnya dia terhadap nabinya dan istiqamahnya dia di atas petunjuk dan syari'at nabinya.

Di antara bentuk karamah yang disebutkan para Salaf adalah istiqamah di atas al-Kitab dan as-Sunnah, taat kepada keduanya, ridha terhadap hukum keduanya dan sejalan dengan keduanya dalam ilmu dan amal.

Tidak adanya karamah pada diri sebagian -bahkan banyak- orang-orang mukmin tidak menunjukkan akan kelemahan iman mereka, jika benar dia seorang muslim yang komitmen terhadap al-Quran dan Sunnah. Karena itu, pada banyak Shahabat radhiyall
âhu 'anhum, karamah itu tidak terlihat pada diri-diri mereka, karena kuatnya iman mereka dan sempurnanya keyakinan mereka, yang merupakan salah satu sebab munculnya karamah tersebut.

Di antara sebab lainnya datangnya karamah tersebut pada sebagian mukmin adalah untuk menegakkan hujjah/argumen terhadap musuh.

Sihir dan Ahli Sihir

Ahlussunnah juga meyakini bahwa di dunia ini terdapat sihir dan ahli sihir. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا جَاءَ السَحَرَةُ

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang…” (QS. Yunus ayat 80).

Dan firmanNya,

وَلَكِنَّ الشَيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِحْرَ

Akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah ayat 102).

Hanya saja, sihir dan para pelakunya tidak akan mampu menimpakan keburukan kepada seseorang kecuali dengan izin Allah sebagaimana dalam firmanNya,

وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِن أحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُم وَلاَ يَنْفَعُهُمْ

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.” (QS. Al-Baqarah ayat 102).

Siapa yang meyakini bahwa sihir itu mampu membahayakan atau memberi kebaikan dengan sendirinya maka dia kafir. Kaum muslimin telah bersepakat tentang keharaman sihir. Pelaku sihir diminta untuk bertaubat, jika dia tidak mau bertaubat maka dia berhak mendapat hukuman mati.

(Sumber : Al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, dengan ringkas)

11 Februari 2016

Ta’at kepada Penguasa Muslim dalam Perkara yang Ma’ruf

Diantara prinsip aqidah as-Salaf ash-Shalih, Ahlussunnah wal Jama’ah; mereka memandang wajibnya mematuhi dan mentaati para penguasa kaum muslimin selama mereka tidak menyuruh kepada maksiat terhadap Allah Ta’ala.

Jika mereka menyuruh kepada perkara maksiat, tidak boleh mentaati perintah mereka dalam perkara tersebut, namun tetap wajib tunduk dan patuh dalam perkara-perkara lainnya.

Prinsip ini, yaitu taat kepada para penguasa muslim dalam perkara yang ma’ruf, adalah sebuah prinsip yang sangat agung dan mendasar dalam aqidah Islam. Karenanya, ulama Salaf memasukkannya dalam bagian prinsip-prinsip dasar aqidah. Hampir tidak ada satu buku aqidah yang ditulis oleh para imam, melainkan padanya terdapat penyebutan dan penjelasan dari prinsip tersebut.

Ketaatan terhadap penguasa ini adalah kewajiban syar’i bagi setiap muslim, tidak akan terwujud ketenangan dan stabilitas dalam sebuah negara tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَسُوْلَ وَأُولِى الأمْرِ مِنْكُمْ، فَإِن تَنَازَعْتُم فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلىَ اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَاْوِيْلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 59).

Dan dalam hadits-hadits shahih;

Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

إن السلطان ظل الله فى الأرض، فمن أكرمه أكرمه الله و من أهانه أهانه الله

Sesungguhnya penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Siapa yang memuliakan penguasa, niscaya Allah akan memuliakannya, dan siapa yang menghinakan penguasa, niscaya Allah akan menghinakannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan Al-Albani).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,

من أطاعني فقد أطاع الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعصى الامير فقد عصاني

Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa taat kepada penguasa, maka dia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang membangkang kepada penguasa maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,

ألا من ولي عليه والٍ فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره الذي يأتي من معصية الله ولا ينزع يدا من طاعة

Ketahuilah, barangsiapa yang berkuasa atasnya seorang pemimpin, dan dia melihatnya melakukan sesuatu perbuatan maksiat kepada Allah, maka bencilah perbuatannya tersebut dan jangan melepaskan tangan dari ketaatan!” (HR. Muslim).

Beliau ﷺ bersabda kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,

تسمع وتطيع للأمير وإن ضُرب ظهرك وَأُخِذَ مالُك، فاسمعْ وأطعْ

Engkau mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas. Dengar dan taatlah!” (HR. Muslim).

Dan pesan beliau ﷺ kepada para shahabatnya,

اسمعوا وأطيعوا وإن استعمل عليكم عبدٌ حبشيٌّ كأن رأسه زبيبة

Mendengar dan taatlah, walaupun berkuasa atas kalian seorang budak Habasyi seakan-akan kepalanya seperti anggur kering.” (HR. Al-Bukhary).

12 Januari 2016

Iman kepada Takdir Allah

Iman kepada takdir (al-qadha' wa al-qadar) adalah meyakini dengan keyakinan yang kuat dan kokoh bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi dengan ketentuan dan ketetapan Allah Ta’ala, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Segala sesuatu dengan irâdah (kehendak)Nya dan tidak ada yang keluar dari keinginan dan pengaturanNya. Dia mengetahui setiap apa yang telah terjadi, dan segala apa yang akan terjadi sebelum hal itu terjadi dalam ilmuNya yang azali (ada tanpa permulaan). Dia menetapkan takdir segala sesuatu di alam ini sesuai dengan dengan apa yang ada dalam pengetahuanNya dan konsekuensi dari hikmahNya. Dia mengetahui keadaan para hamba, rezki-rezki mereka, ajal-ajal mereka, perbuatan mereka dan lain-lain dari urusan-urusan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَكانَ أمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al-Ahzab ayat 38).

Dia juga berfirman,

إنّا كُلَّ شَيْئٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadarnya.” (QS. Al-Qamar ayat 49).

Dan Nabi bersabda,

لا يؤمن عبدٌ حتى يؤمن بالقدر خيره وشرّه من الله وحتى يعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأنّ ما أخطأه لم يكن ليصيبه

Tidaklah seorang hamba beriman hingga dia beriman kepada takdir, baik dan buruknya berasal dari Allah. Dan hingga dia mengetahui bahwa apa yang akan menimpanya tidak akan pernah meleset darinya, dan apa yang dihindarkan darinya tidak akan bakal menimpanya.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

Iman kepada takdir tidak akan sempurna tanpa empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau rukun-rukunnya. Perkara-perkara ini adalah pengantar untuk memahami persoalan takdir. Tidak akan sempurna iman terhadap takdir kecuali dengan mewujudkan seluruh rukun-rukunnya tersebut, karena sebagiannya akan berkait dengan sebagian lainnya.

Pertama : Ilmu (al-‘ilm)

Yaitu mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, apa yang belum terjadi dan bagaimana kalau hal itu terjadi, secara global maupun terperinci. Dia Maha Mengetahui apa yang bakal dilakukan para hamba sebelum penciptaan mereka, mengetahui rezki, ajal dan perbuatan mereka, mengetahui gerak dan diamnya mereka, mengetahui yang celaka dan bahagia diantara mereka, dan yang demikian itu dengan ilmuNya yang qadîm, yang Dia disifatkan dengannya semenjak azali. Allah Ta’ala berfirman,

إنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah ayat 115).

Kedua : Penulisan (al-kitâbah)

Yaitu mengimani bahwa Allah telah menuliskan segala apa yang ada dalam ilmuNya dari ketetapan takdir para hamba di al-Lauh al-Mahfuzh, sebuah kitab yang tidak ada kelalaian sedikit pun padanya. Segala apa yang terjadi dan bakal terjadi di alam ini hingga Hari Kiamat, telah tertulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitâb, dan dinamakan juga adz-Dzikr, al-Imâm dan al-Kitâb al-Mubîn. Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلّ شَيْئٍ أحْصَيْنَاهُ فى إمَامٍ مُبِيْنٍ

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (QS. Yasin ayat 12)

Dan Nabi bersabda,

إن أول ما خلق الله القلم فقال : اكتب، فقال : ما أكتب؟ قال : اكتب القدر ما كان وما هو كائنُ إلى الأبد

Sesungguhnya yang pertama Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena). Dia berfirman : Tulislah! Al-Qalam berkata : Apa yang aku tulis? Allah berfirman : Tulislah takdir, apa yang terjadi dan apa yang bakal terjadi untuk seterusnya.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).

Ketiga : Kehendak (al-irâdah wa al-masyî’ah)

Bahwa setiap apa yang terjadi di alam ini, maka itu terjadi dengan kehendak Allah dan keinginanNya yang beredar antara kasih sayang dan hikmahNya. Dia memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan kasih sayangNya, dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmahNya, dan Dia tidak ditanya atas apa yang diperbuatNya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaanNya tersebut. Semua itu terjadi selaras dengan pengetahuanNya yang qadim, yang tercatat dalam al-Lauh al-Mahfuzh. KehendakNya pasti terwujud. Tidak ada sesuatu pun yang lepas dari kehendakNya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تشاءُونَ إلاّ أنْ يَشاءَ الله رَبُّ العَالمِيْنَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir ayat 29).

Nabi bersabda,

إن قلوب بني آدم كلها بين إصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد يصرّفه حيث يشاء

Sesungguhnya hati-hati anak-anak Adam seluruhnya berada diantara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti sebuah hati yang satu. Dia mengaturnya bagaimana saja Dia kehendaki.” (HR. Muslim).

Keempat : Penciptaan (al-khalq)

Yaitu mengimani bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tidak ada khâliq (pencipta) selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Segala sesuatu yang selain Dia adalah makhluk (yang diciptakan). Dia-lah pencipta setiap yang berbuat dan perbuatannya, setiap yang bergerak dan gerakannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَخَلَقَ كلَّ شَيْئٍ فَقَدّرَهُ تقْدِيْرًا

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan ayat 2)

Segala apa yang terjadi dari kebaikan dan keburukan, kekafiran dan keimanan, ketaatan dan maksiat, semuanya telah dikehendakiNya, ditetapkanNya dan diciptakanNya. Allah Ta’ala berfirman,
 
وَمَا كانَ لِنَفْسٍ أنْ تؤْمِنَ إلا بإذْنِ اللهِ

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.” (QS. Yunus ‘alaihissalam ayat 100).

قُل لَن يُصِيْبَنَا إلا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا

Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (QS. At-Taubah ayat 51).

Allah menyukai ketaatan dan membenci maksiat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan keutamaan yang datang dariNya, dan Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilanNya.

إنْ تكفُرٌوا فَإنّ الله غنيٌّ عَنْكمْ وَلا يَرْضىَ لِعِبَادِهِ الكُفْرَ وَإنْ تَشْكرُوا يَرْضَهُ لَكمْ وَلا تزرُ وَازرَةٌ وزْرَ أخْرىَ

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Az-Zumar ayat 7).

Tidak ada argumen dan uzur bagi orang yang telah Dia sesatkan, karena Allah telah mengutus para rasul untuk menyampaikan hujjahNya. Dan Dia telah menyandarkan pekerjaan seorang hamba kepada dirinya sendiri dan menjadikannya sebagai usahanya sendiri, Dia tidak membebankan kecuali apa yang dalam kemampuan hamba tersebut.

اليَوْمَ تُجْزَى كلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ اليَوْمَ

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.” (QS. Ghafir ayat 17).

لا يُكلفُ اللهُ نَفْسًا إلاّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286)

Akan tetapi, keburukan tidak dinisbatkan/disandarkan kepada Allah karena kesempurnaan kasih sayangNya. Karena Dia telah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. Keburukan itu hanyalah ada pada konsekuensinya dan juga terjadi dengan hikmah dan kebijaksanaanNya.

مَا أصَابَكَ مِن حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’ ayat 79).

Allah Ta’ala disucikan dari segala bentuk kezaliman, disifatkan dengan keadilan. Dia tidak menzalimi seorang pun dengan kezaliman sekecil apapun. Seluruh perbuatanNya adalah keadilan dan kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أنَا بظلاّمٍ للعَبِيْدِ

Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu.” (QS. Qaf ayat 29).

وَلا يَظْلِمُ رَبّكَ أحَدًا

Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahf ayat 49).

إنَّ اللهَ لاَ يَظلِمُ مِثقَالَ ذَرَّةٍ

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An-Nisa’ ayat 40).

Dan Allah tidak ditanya atas apa yang Dia perbuat dan apa yang Dia kehendaki.

لاَ يُسْألُ عَمّا يَفْعَلُ وَهُوْ يُسْألُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 23).

Allah telah menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia menjadikan untuknya kehendak, kemampuan dan pilihan, sebagai anugerah dariNya agar seluruh perbuatannya itu benar-benar berasal darinya secara hakiki dan bukan majaz (kiasan). Dia juga memberikan manusia itu akal untuk memilah antara yang baik dan buruk, dan tidak menghisabnya kecuali sesuai dengan kadar amalan-amalannya yang terjadi dengan keinginan dan pilihannya sendiri. Seorang manusia tidak dalam keadaan terpaksa. Dia memiliki keinginan dan pilihan, dan dialah yang memilih perbuatannya dan keyakinannya. Hanya saja, dalam kehendaknya itu dia mengikuti kehendak Allah. Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya tidak bakal terjadi. Allah Ta’ala, Dia-lah pencipta perbuatan para hamba, dan merekalah yang melakukan perbuatannya sendiri. Perbuatan itu berasal dari Allah dalam bentuk ciptaan dan ketetapan takdir, dan berasal dari hamba dalam bentuk pekerjaan dan usaha.

وَمَا تشاءُونَ إلاّ أنْ يَشاءَ الله رَبُّ العَالمِيْنَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir ayat 29).

Takdir adalah rahasia Allah pada mahkluk ciptaanNya. Tidak ada yang mengetahuinya, tidak malaikat yang didekatkan, dan tidak juga rasul yang diutus. Berlebihan dalam mengkaji dan menyelidiki persoalan ini adalah kesesatan, karena Allah telah melipat ilmu tentang takdir ini dari para hamba, dan Dia melarang mereka untuk menyingkap hakikatnya. Alla berfirman,

لاَ يُسْألُ عَمّا يَفْعَلُ وَهُوْ يُسْألُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 23).

———————–

(Sumber : al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, Ahl as Sunnah wa al Jamâ’ah)

08 Januari 2016

Iman Seorang Mukmin kepada Hari Akhir

Iman kepada hari Akhir adalah keyakinan yang kokoh dan pembenaran yang sepenuhnya terhadap Hari Kiamat serta mengimani seluruh apa yang dikabarkan Allah ‘azza wa jalla dalam KitabNya dan dikabarkan rasulNya ﷺ tentang perkara-perkara yang bakal terjadi setelah kematian hingga masuknya penduduk Surga ke dalam Surga dan masuknya penghuni Neraka ke dalam Neraka.

Allah Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat orang yang bertakwa,

وَالذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بمَا أنْزلَ إلَيْكَ وَمَا أنزلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبالآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Quran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) Akhirat.” (QS. Al-Baqarah ayat 4).

Termasuk dalam iman kepada Hari Akhir adalah mengimani segala apa yang telah, sedang dan akan terjadi dari tanda-tanda Kiamat.

Tanda-tanda kecil Kiamat

Tanda-tanda kecil Kiamat adalah tanda-tanda yang mendahului Kiamat itu sebelum terjadinya untuk rentang waktu yang agak panjang. Sebagiannya telah terjadi dan sebagiannya masih terjadi dan akan terjadi sebagai pengantar datangnya tanda-tanda besar terjadinya Hari Kiamat.

Tanda-tanda kecil ini sangatlah banyak, dan akan kami sebutkan sebagiannya dari apa yang disebutkan dalam dalil yang shahih. Diantaranya :
 
Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, kematian beliau, penaklukan Baitul Maqdis, munculnya fitnah peperangan dan munculnya para pendusta yang mendakwakan kenabian.

Diantaranya juga adalah pembuatan hadits-hadits palsu atas nama Rasulullah ﷺ dan penolakan terhadap sunnahnya, tersebarnya kedustaan, diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan dan kerusakan, wafatnya orang-orang shalih, dan terasingnya Islam dan umatnya.

Diantaranya juga yang masih masih terus berlangsung pada masa kita sekarang dan makin memburuk;  banyaknya pembunuhan, tersebarnya zina, minuman keras dan riba, sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya jumlah wanita serta keluarnya para wanita dalam keadaan berpakaian tapi telanjang.

Demikian juga termasuk dalam tanda-tanda kecilnya adalah banyaknya pengabaian terhadap amanah, berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan, berbangga-bangga dengan menghiasi masjid-masjid, perubahan zaman hingga berhala kembali disembah dan muncullah kesyirikan di umat ini.

Diantara tanda-tandanya yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih; memberi salam hanya kepada orang yang dikenali, ramainya perdagangan, banyaknya pasar dan harta yang berada di tangan manusia tanpa disertai rasa syukur, semakin banyaknya sifat rakus dan kikir, banyaknya persaksian palsu, menyembunyikan persaksian yang benar, permusuhan, diputusnya silaturrahim dan sikap buruk dalam bertetangga. Demikian juga semakin berdekatannya zaman, hilangnya keberkahan waktu, terjadinya fitnah seperti penggalan malam yang gelap gulita, meremehkan sunnah yang dianjurkan dalam Islam dan orang-orang tua yang suka berlagak seperti anak-anak muda.


Tanda-tanda besar Kiamat

Yaitu tanda-tanda yang menunjukkan semakin dekatnya Kiamat tersebut. Jika tanda-tanda ini muncul, maka Kiamat akan segera terjadi. Diantaranya :

Datangnya al-Mahdi, yaitu Muhammad bin Abdillah, dari keluarga Nabi ﷺ. Ia datang dari arah Timur dan berkuasa selama tujuh tahun dengan penuh keadilan setelah sebelumnya bumi ini diliputi oleh kezaliman.

Keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan turunnya Isa putra Maryam ‘alaihissalam di menara putih sebelah timur Damaskus. Ia turun sebagai hakim yang memutuskan perkara dengan Syariat Muhammad ﷺ, membunuh Dajjal dan menerapkan hukum di muka bumi dengan hukum Islam.

Diantara tanda-tanda besar lainnya adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, pembenaman di tiga tempat; di Timur, Barat dan di Jazirah Arab; keluarnya asap/kabut, terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, keluarnya hewan melata (dâbbah al ardh) yang berbicara kepada manusia dan keluarnya api yang menggiring manusia ke mahsyar (tempat berkumpul).

Termasuk iman kepada Hari Akhir adalah mengimani setiap perkara ghaib yang terjadi setelah kematian, yang dikabarkan Allah dan rasulNya ﷺ yang berkait dengan sakaratul maut, datangnya Malaikat Maut, hadirnya syaitan saat kematian, tidak diterimanya iman seorang kafir saat kematian, alam barzakh, pertanyaan dua malaikat, kenikmatan dan siksa kubur, dan lain-lain.

Dan juga perkara-perkara yang terjadi pada Hari Kiamat Kubra, dimana Allah menghidupkan orang-orang mati, membangkitkan mereka dari kuburnya dan kemudian menghisab mereka.

Mengimani tentang tiga tiupan, kebangkitan dari kubur, dikumpulkannya manusia di mahsyar dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki dan tidak berkhitan, matahari di dekatkan kepada mereka dan diantara mereka ada yang ditenggelamkan keringatnya sendiri.

Pada hari yang sangat agung itu, manusia keluar dari kuburnya seakan-akan mereka adalah belalang yang bertebaran, bersegera menuju kepada Rabb Yang Maha Perkasa. Manusia diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, terdiam, dimana lembaran catatan akan dibuka, segala yang tersembunyi akan disingkap, dan Allah berbicara langsung kepada para hambaNya tanpa perantara. Manusia akan dipanggil dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka.

Demikian pula Ahlussunnah beriman tentang timbangan (mîzân) yang dengannya ditimbang amal-amal para hamba, dibukanya catatan-catatan amal, shirât (jembatan) yang dibentangkan diatas Jahannam, Surga dan Neraka yang kekal abadi, telaga Rasulullah ﷺ yang panjangnya sejauh perjalanan sebulan dan lebarnya sejauh perjalan sebulan. Orang yang minum darinya tidak akan haus untuk selamanya. Dan Rasulullah akan memberikan syafaat para hamba, demikian juga para nabi, malaikat dan orang-orang shalih lainnya.

(Disadur dari al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, Ahlu as Sunnah wa al Jamâ’ah)

04 Juni 2015

Definisi Iman menurut Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah

Iman menurut Aqidah para Salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu ucapan hati dan lisan, serta perbuatan hati, lisan dan anggota tubuh.

Ucapan hati adalah pembenaran, pengakuan dan keyakinannya.

Ucapan lisan adalah pengakuan dalam bentuk amalan, yaitu dengan mengucapkan syahadatain dan mengamalkan segala konsekuensinya.

Perbuatan hati adalah niat, kepasrahan, keikhlasan, ketundukan, cinta dan kehendaknya untuk beramal shalih.

Sementara perbuatan lisan dan anggota tubuh adalah dengan mengerjakan segala perintah dan meninggalkan larangan-larangan.

Tidak ada iman tanpa amalan. Tidak ada ucapan dan perbuatan tanpa niat. Dan tidak ada ucapan, perbuatan dan niat tanpa kesesuaian dengan Sunnah.


Allah telah menyebutkan sifat orang mukmin yang hak adalah untuk orang-orang yang beriman dan mengamalkan konsekuensi dari iman mereka terhadap prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, yang lahir maupun yang batin. Konsekuensi dari iman itu akan nampak pada keyakinan-keyakinan mereka, ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan mereka yang lahir maupun yang batin.Allah Ta’ala berfirman, 


إنَّمَا المؤْمِنُونَ الذِيْنَ إذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قلوبُهُم وَإذا تُلِيَتْ عَلَيْهِم آيَاتُهُ زَادَتْهُم إيْمَانًا وعَلىَ رَبِّهِم يَتَوَكَّلونَ، الذِيْنَ يُقِيمونَ الصَلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهم يُنْفِقُونَ، أولَئِكَ هُمُ المُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُم دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِم وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-nya mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rezki yang mulia.” (QS. Al-Anfal ayat 2-4).

Allah telah menggandengkan antara iman dengan amalan dalam banyak ayat al-Quran. Diantaranya adalah firmanNya,

إنَّ الَّذِيْنَ آمنُوا وَعَمِلُوا الصَالِحَاتِ كانَتْ لَهُم جَنَّاتُ الفِرْدَوسَ نُزُلاً

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bermamal shalih, bagi mereka Surga Firdaus yang menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahf ayat 107).

Dan firmanNya,

وَتِلْكَ الجَنَّةُ أوْرِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُم تَعْمَلُونَ

Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf ayat 72).

Dan Nabi  bersabda,

الإيمان بضعٌ وسبعون شعبةً فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبةٌ من الإيمان

Iman itu tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utamanya adalah ucapan La ilaha illa_Llahu. Yang paling rendahnya menyingkirkan duri dari jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhary).

Telah disebutkan dalam dalil-dalil yang banyak bahwa iman itu memiliki derajat dan cabang, yang bisa bertambah dan berkurang, dan bahwa pemiliknya bertingkat-tingkat. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala,

إنَّمَا المؤْمِنُونَ الذِيْنَ إذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قلوبُهُم وَإذا تُلِيَتْ عَلَيْهِم آيَاتُهُ زَادَتْهُم إيْمَانًا وعَلىَ رَبِّهِم يَتَوَكَّلونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-nya mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal ayat 2).

Dan sabda Nabi ,

من رأى منكم منكرًا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Demikianlah apa yang dipelajari dan dipahami oleh para Shahabat dari Rasulullah , bahwa iman itu adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
 
Berkata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Kesabaran dalam keimanan ibarat kepala bagi tubuh. Siapa yang tidak memiliki kesabaran, tidak iman baginya.”

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, tambahkan untuk kami keimanan, keyakinan dan fiqh.”

Berkata Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhum, “Iman itu bertambah dan berkurang.”

Berkata Waki’ bin al-Jarrah rahimahullahu, “Ahlussunnah mengatakan : Iman adalah ucapan dan perbuatan.”

Dan berkata Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hanbal rahimahullahu, “Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambahnya itu dengan amalan, dan berkurangnya dengan meninggalkan amal.”[1]

Berkata al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, “Bukanlah iman itu hiasan dan angan-angan semata, akan tetapi apa yang bersemayam dalam hati dan dibenarkan oleh amalan.”[2]

Ahlussunnah juga mengatakan : Siapa yang mengeluarkan amalan dari keimanan maka dia adalah seorang Murji’ah, ahli bid’ah yang sesat.

Dan siapa yang menetapkan syahadatain dengan lisannya serta meyakini keesaan Allah dengan hatinya, akan tetapi dia memiliki kelalaian dalam mengamalkan sebagian dari rukun-rukun Islam dengan anggota tubuhnya, maka imannya tidak sempurna. Siapa yang tidak pernah menetapkan syahadatain, tidak akan pernah ada padanya nama iman dan islam.

(Sumber : al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, Ahlu as Sunnah wa al Jamâ’ah)

——————————

[1] Seluruh atsar yang disebutkan diriwayatkan dengan jalan-jalan periwayatan yang shahih oleh Imam al-Lâlikâ’i rahimahullahu dalam bukunya Syarh Ushûl I’tiqâd Ahl as Sunnah wa al Jamâ’ah.

[2] Kitâb al Îmân, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu.