Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
10 Desember 2016
Jika Andai Mencintainya, Amalkan Sunnahnya
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi yang tercinta ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin? Maka beliau menjawab,
ذَلِكَ يَوْمَ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمَ بُعِثْتُ أوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
“Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku.”
Beliau ﷺ
mengabarkan bahwa dirinya dilahirkan pada hari Senin, walaupun
sebenarnya beliau tidak ditanya tentang hal itu. Akan tetapi beliau
tidak menyebutkan tanggal lahirnya dan para shahabat pun tidak bertanya
tentang tanggal tersebut, sementara mereka adalah orang-orang yang
sangat antusias untuk mengerjakan kebaikan, karena pengetahuan tentang
tanggal lahir itu tidak berkonsekuensi pada apapun.
Andai
pengetahuan tentang hal itu memiliki konsekuensi syar’i dan kebaikan
untuk umatnya, niscaya beliau tidak akan pernah menyembunyikannya dari
umatnya.
Kalau
memang seorang muslim benar-benar mencintai Nabi ﷺ, maka amalkan
sunnahnya dengan berpuasa pada hari Senin, karena beliau ﷺ menyukai
puasa pada hari tersebut, dengan dua alasan yang disebutkan dalam hadits
Muslim di atas dan juga alasan ketiga, bahwa hari Senin –dan juga
Kamis- adalah hari dimana amal-amal dihadapkan kepada Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda,
تُعْرَضُ الأعْمَالُ يَوْمَ الإثْنَيْنِ وَالخَمِيْس، فَأُحِبُّ أنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأنَا صَائِمٌ
“Amal-amal
dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka jika
amalku diperlihatkan sementara aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi, dan diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i dari haditsnya Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dan diriwayatkan juga oleh An-Nasa’i dari Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha).
Semoga Allah menguatkan hati kita di atas sunnah nabi-Nya dan mewafatkan kita di atas sunnah tersebut.
Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âlihi wa shahihbihi ‘ajma’în.
06 Desember 2016
Inilah Alasan Penyelenggaraan Maulid Nabawi
Orang-orang yang merayakan Maulid Nabi ﷺ telah melegalkan perbuatan mereka tersebut dengan alasan-alasan berikut ini,
1. Penyelenggaraan Maulid yang dilakukan setiap tahunnya, dengannya kaum muslimin akan kembali mengingat Nabi-nya ﷺ, sehingga bertambahlah kecintaan dan pengagungan mereka terhadap beliau.
2. Mendengarkan asy-Syama’il al-Muhammadiyyah (adab dan akhlak Nabi ﷺ) dan mengenal nasab beliau yang mulia.
3. Menampakkan kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah ﷺ yang menunjukkan akan kecintaan terhadap diri beliau dan kesempurnaan iman terhadapnya.
4. Memberi makan, dan ini adalah
perkara yang diperintahkan. Padanya ada ganjaran yang besar terutama
dengan niat syukur kepada Allah Ta’ala.
5. Berkumpul untuk berzikir kepada Allah dengan membaca Al-Quran dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.
Ini lima perkara yang dijadikan alasan
pembenaran untuk merayakan Maulid oleh sebagian pendukungnya.
Alasan-alasan ini tidaklah memuaskan dan sangat nampak kebatilannya
karena kelancangan terhadap Syari’at dengan membuat sesuatu yang tidak
pernah disyari’atkan walaupun ada hajat kepada hal tersebut.
Berikut ini
adalah penjelasan tentang kebatilan alasan-alasan tersebut,
Pertama;
Perkara Maulid yang dijadikan sebagai peringatan tahunan; hal ini layak untuk dijadikan alasan jika seorang muslim tidak menyebut dan mengingat Nabi ﷺ puluhan kali pada setiap harinya, sehingga dibuatkanlah peringatan tahunan atau bulanan untuk mengingatnya yang dengan itu akan bertambahlah iman dan kecintaan muslim tersebut terhadap diri beliau.
Adapun seorang muslim; tidaklah dia shalat pada malam dan siang kecuali dia akan menyebut padanya nama Rasul ﷺ, dan tidak masuk waktu shalat dan tidak pula ditegakkan shalat tersebut kecuali akan disebut nama Rasul ﷺ dan dibacakan shalawat untuknya.
Yang pantas untuk dibuatkan perayaan
karena khawatir akan dilupakan adalah orang-orang yang tidak menyebut
dan mengingatnya. Adapun orang yang selalu menyebut, mengingat dan tidak
lupa, apa pentingnya dibuatkan acara tersebut agar dia tidak lupa?
Bukankah hal ini mencari sesuatu yang sebenarnya sudah ada pada diri
setiap muslim?
Kedua;
Mendengarkan sebagian dari asy-Syama’il al-Muhammadiyyah dan nasabnya yang mulia; ini juga adalah alasan yang tidak kuat. Karena mengenal asy-Syama’il al-Muhammadiyah
dan nasab beliau yang mulia tidaklah cukup hanya untuk didengarkan
setahun sekali. Apa yang bisa mencukupi seorang muslim dengan hanya
mendengarkannya sekali dalam setahun sementara hal itu adalah bagian
dari aqidah Islam?!
Yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah adalah
mengenal nasab Nabinya ﷺ dan
sifat-sifatnya sebagaimana dia mengenal Allah Ta’ala dengan nama-nama
dan sifat-sifatNya. Yang seperti ini mesti dengan pengajaran, tidak
cukup hanya dengan mendengarkan bacaan kisahnya setahun sekali.
Ketiga;
Menunjukkan kegembiraan adalah alasan yang sangat-sangat lemah, karena kegembiraan itu entah karena pribadi Rasul ﷺ
atau karena hari yang beliau dilahirkan padanya. Kalau memang karena
pribadinya, maka itu harus berlangsung kontinyu pada setiap kali
disebutkan Rasul ﷺ dan tidak khusus
pada waktu-waktu tertentu saja. Jika kegembiraan itu karena hari yang
beliau dilahirkan padanya, maka sungguh, hari itu adalah juga adalah
hari wafatnya beliau –ﷺ. Saya tidak
mengira seorang yang berakal akan mengadakan perayaan kegembiraan di
satu hari yang pada hari itu telah meninggal dunia kekasih yang
dicintainya. Kematian beliau –ﷺ– adalah musibah terbesar yang pernah menimpa umat ini.
Keempat;
Memberi makan
adalah alasan yang jauh lebih lemah dari alasan-alasan yang sebelumnya.
Karena memberi makan adalah perkara yang sunnah dan sangat dianjurkan
pada setiap kali ada kebutuhan untuk hal itu. Seorang muslim akan selalu
menjamu tamu, memberi makan orang yang lapar dan bersedekah sepanjang
tahun, dan tidak perlu kepada satu hari tertentu pada satu tahunnya
untuk memberi makan. Karenanya, perkara ini bukanlah alasan yang layak
untuk bolehnya membuat bid’ah dalam agama.
Kelima;
Berkumpul
untuk zikir; ini adalah alasan yang rusak dan batil, karena berkumpul
untuk berzikir dengan satu suara tidaklah dikenal di kalangan para
Salaf. Adapun puji-pujian dengan paduan satu suara, maka ini adalah
bid’ah yang buruk dan tidak dilakukan kecuali orang yang bingung dalam
agamanya, wal ‘iyadzu bi_Llahi.
Walaupun sebenarnya juga, kaum muslimin
telah (dan akan selalu) berkumpul pada setiap malam dan siang sepanjang
tahunnya untuk shalat-shalat berjamaah di masjid-masjid dan juga
menghadiri majelis-majelis ilmu. Karenanya, mereka tidak butuh kepada
majelis tahunan untuk mendengarkan tabuhan-tabuhan dan menyantap makanan
dan minuman yang umumnya faktor pendorongnya adalah keinginan-keinginan
jiwa dan syahwat.
(Sumber: Al-Inshâf fî mâ Qîla fî al-Maulid min al-Ghuluww wa al-Ijhâf, Syaikh Abû Bakr bin Jâbir al-Jazâ’irî)
13 November 2016
Aqidah Ahlussunnah tentang Al-Quran Al-Karim
Ahlussunnah wal Jama’ah beriman bahwa Al-Quran
adalah kalam (perkataan) Allah, hurufnya dan maknanya. Dari-Nya bermula dan
kepada-Nya dia akan kembali. Diturunkan bukan sebagai makhluk ciptaan. Allah
mengucapkannya dengan hak, mewahyukannya kepada Jibril, dan Jibril
‘alaihissalam membawanya turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Al-Quran diturunkan oleh Allah Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan lisan Arab yang jelas. Dinukil kepada
kita dengan jalan periwayatan yang mutawatir, yang tidak tersentuh oleh
keraguan sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِيْنَ، عَلىَ قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ اْلمُنْذِرِيْنَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ
"Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar
diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin
(Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara
orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu’arâ’ ayat 192-195)
Al-Quran Al-Karim tertulis dalam Al-Lauh Al-Mahfûdzh, dihafalkan dalam dada, terbaca oleh lisan dan dicatat dalam
lembaran. Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِى
صُدُوْرِ الَّذِيْنَ أُوتُوا اْلعِلْمَ
"Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang
nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang
mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ankabût
ayat 49).
Dan firman-Nya,
إنَّهُ لَقٌرْآنٌ كَرِيْمٌ، فِى
كِتَابٍ مَكْنُوْنٍ، لَا يَمَسُّهُ إِلَّا اْلمُطَهَّرُوْنَ، تَنْزِيْلٌ مِن رَّبِّ اْلعَالَمِيْنَ
"Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang
sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudzh), tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam." (QS. Al-Wâqi’ah ayat 77-80)
Al-Quran adalah mu’jizat terbesar yang abadi
bagi Nabi Islam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia adalah kitab
samawi yang terakhir. Tidak akan dihapus dan diganti. Allah telah menanggung
penjagaannya dari segala bentuk perubahan, tambahan atau pengurangan sampai Dia
mengangkatnya kembali menjelang Hari Kiamat nanti.
Allah Ta’ala berfirman,
إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ
وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr ayat 9)
Al-Quran tidak diturunkan sekaligus kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, diturunkan
berangsur-angsur sesuai dengan kejadian tertentu, atau sebagai jawaban atas
pertanyaan, atau sesuai dengan tuntutan keadaan selama 23 tahun.
Al-Quran terdiri atas 114 surat; 86 diantaranya
diturunkan di Mekkah dan 28 diturunkan di Madinah.
Al-Quran telah ditulis di masa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, dengan pengawasan beliau. Dimana beliau memiliki
penulis-penulis wahyu dari kalangan sahabat-sahabat pilihan radhiyallahu
‘anhum, yang menuliskan setiap apa yang turun dari Al-Quran dan dengan
perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian di masa Abu Bakr
radhiyallahu ‘anhu, Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah mushaf, dan di masa Utsman
radhiyallahu ‘anhu dikumpulkan dalam satu bacaan.
Ahlussunnah wal Jama’ah sangat peduli dengan
pengajaran Al-Quran, hafalan, tilawah (bacaan) dan tafsir serta pengamalannya.
Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan
supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shâd ayat
29)
Mereka beribadah kepada Allah dengan membacanya,
karena pada bacaan setiap hurufnya ada satu kebaikan sebagaimana yang
dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
من قرأ حرفًا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، ولا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألف حرفٌ، و لام حرفٌ، و ميم حرفٌ
"Barangsiapa
membaca satu huruf dari Kitab Allah, baginya satu kebaikan dengan satu
huruf tersebut. Dan satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Saya
tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf; akan tetapi Alif satu huruf,
Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Ahlussunnah wal Jama’ah tidak membolehkan
penafsiran Al-Quran dengan logika semata-mata, karena hal itu termasuk berkata-kata
atas nama Allah tanpa ilmu dan termasuk perbuatan syaitan. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ
الشَيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ، إِنَّمَا يَأمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلىَ اللهِ مَالَا
تَعْلَمُوْنَ
"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu
berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui." (QS. Al-Baqarah ayat 168-169)
Bahkan mereka menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri, kemudian dengan Sunnah, kemudian dengan perkataan
Sahabat, kemudian dengan perkataan Tabi’in, dan kemudian dengan bahasa Arab
yang dengannya Al-Quran diturunkan.
Wa bi_Llâhi at-taufîq.
------------------
Sumber :
01 Mei 2016
Mereka tidak Mengkafirkan Kaum Muslimin
Diantara
prinsip dasar aqidah as-Salaf ash-Shalih, Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwa
mereka tidak mengkafirkan individu tertentu dari kaum muslimin yang
melakukan sesuatu yang berkonsekuensi pada kekafiran, kecuali setelah
ditegakkannya hujjah (argumen); terpenuhi syarat-syaratnya, hilang penghalang-penghalangnya (al mawâni’) dan tidak ada lagi syubhat (kesamaran) dalam diri seorang jahil atau memiliki ta’wil/penafsiran (muta-awwil).
Dan sudah
dipahami, bahwa hal ini hanya pada perkara-perkara samar/tersembunyi
yang butuh kepada penjelasan, bukan pada persoalan-persoalan yang sudah
sangat jelas, seperti mengingkari wujud Allah Ta’ala, mendustakan Rasul ﷺ, atau mengingkari risalah atau penutup kenabiannya.
Ahlussunnah tidak mengkafirkan orang yang dalam keadaan dipaksa (mukrah), jika hatinya tetap tenang dalam keimanan.
Demikian
juga, mereka tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin dengan
setiap dosa, walaupun dosa-dosa itu merupakan dosa-dosa besar (kabâ-ir adz dzunûb)
yang selain syirik. Ahlussunnah tidak memvonis kafir kepada para pelaku
dosa besar. Mereka hanya menghukuminya dengan sifat kefasikan atau
berkurangnya iman selama dia tidak menghalalkan dosanya tersebut. Karena
Allah Ta’ala berfirman,
إنَّ
اللهَ لاَ يَغْفِرُ أنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ, وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَد افْتَرىَ إثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 48).
Dan firmanNya,
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أسْرَفُوا عَلىَ أنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن
رَحْمَةِ اللهِ إنَّ اللهَ يَغْفِرُوا الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah
: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar ayat 53).
Ahlussunnah
wal Jama’ah tidak mengkafirkan seorang pun karena sebuah dosa yang
tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa dosa itu adalah sebuah
kekufuran. Jika orang tersebut meninggal dalam keadaan demikian, maka
urusannya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, jika Dia menghendaki Dia
akan menyiksanya, dan jika Dia menghendaki maka Dia akan mengampuninya.
Hal ini menyelisihi firqah-firqah sesat yang menghukumi para pelaku dosa
besar dengan kekafiran seperti keyakinan sekte Khawarij, atau berada
pada satu diantara dua status (al-manzilah bainal manzilatain), bukan muslim dan bukan kafir sebagaimana
yang diyakini Mu’tazilah.
Nabi ﷺ telah memperingatkan dari bahaya mengkafirkan tersebut. Beliau bersabda,
أيما امرئٍ قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما، إن كان كما قال وإلا رجعت عليه
“Siapa
saja yang berkata kepada saudaranya: Hai kafir!, maka perkataan itu
kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika benar seperti yang orang
itu katakan, atau jika tidak benar, perkataan itu kembali kepadanya.” (HR. Muslim).
Beliau ﷺ bersabda,
من دعا رجلاً بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه
“Siapa
yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau dia mengatakan: Musuh
Allah!, dan orang itu tidaklah demikian, melainkan hal itu akan kembali
kepada yang mengucapkan.” (HR. Muslim).
Beliau ﷺ juga bersabda,
ومن رمى مؤمنًا بكفلرٍ فهو كقتله
“Siapa yang menuduh seorang mukmin dengan vonis kekafiran, maka itu seperti membunuhnya.” (HR. Al-Bukhary).
Dan beliau ﷺ bersabda,
إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما
“Jika seorang laki-laki berkata kepada saudaranya: Hai kafir!, maka perkataan itu kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Al-Bukhary).
Ahlussunnah
wal Jama’ah membedakan antara hukum mutlak terhadap para pelaku bid’ah
dan maksiat atau kekafiran, serta hukum terhadap individu tertentu
–orang yang telah pasti keislamannya dengan yakin- bahwasannya dia
adalah seorang pendosa, seorang fasik atau seorang yang kafir. Mereka
tidak menghukuminya dengan vonis-vonis tersebut hingga jelas baginya
kebenaran, yaitu dengan menegakkan hujjah dan menghilangkan syubhat. Ini
dalam perkara-perkara yang tersembunyi dan samar, bukan dalam
perkara-perkara yang jelas.
Dan mereka tidak mengkafirkan individu tertentu kecuali jika telah terpenuhi padanya syarat-syarat (asy syurûth) dan hilang penghalang-penghalangnya (al mawâni’).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Dahulu
ada dua orang dari Bani Israil yang saling bersaudara. Salah satunya
suka melakukan dosa, sementara yanng lainnya rajin beribadah. Ahli
ibadah itu selalu melihat yang lainnya melakukan dosa, maka ia berkata :
Berhentilah! Suatu hari ia mendapatkannya sedang melakukan dosa dan ia
berkata padanya : Berhentilah! Orang itu menjawab : Biarkan aku dengan
Rabb-ku! Apakah engkau diutus untuk mengawasi aku?! Maka ahli ibadah itu
berkata : Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu! – atau
(perkatannya) : Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam Surga!… Mereka
akhirnya diwafatkan dan keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam.
Allah berkata kepada ahli ibadah : Apakah engkau mengetahui tentang Aku
ataukah engkau berkuasa atas apa yang ada di Tangan-Ku?! Dan Dia berkata
kepada si pendosa : Pergilah, dan masuklah ke dalam Surga dengan
rahmat-Ku. Dan Dia berkata kepada yanng lainnya : Bawalah dia ke dalam
Neraka!”
Berkata
Abu Hurairah : “Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, dia berbicara
dengan satu kata yang menghancurkan dunia dan akhiratnya!” (Terjemah HR.
Abu Dawud).
Kekafiran adalah lawan dari keimanan.
Hanya saja, kekafiran dalam istilah Syari’at terbagi dua; jika
disebutkan kata “kekafiran” dalam dalil-dalil maka terkadang yang
dimaksudkan adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah (agama), dan
terkadang dimaksudkan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari millah.
Yang demikian itu karena kekafiran memiliki cabang-cabang sebagaimana
keimanan juga memiliki cabang.
(Sumber : Al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih)
05 April 2016
Iman kepada Para Rasul
Iman
kepada rasul adalah salah satu prinsip dasar keimanan, karena merekalah
perantara antara Allah dan para makhluk dalam menyampaikan risalah-Nya
dan menegakkan hujjah-Nya atas mereka.
Iman
kepada rasul bermakna; pembenaran akan risalah mereka, mengakui kenabian
mereka, dan bahwasannya mereka adalah orang-orang yang jujur dalam
menyampaikan apa yang datang dari Allah. Mereka telah menunaikan amanat
risalah tersebut dan menjelaskan kepada manusia seluruh apa yang
diperintahkan Allah kepada mereka.
Rasul-rasul
yang disebutkan nama-namanya oleh Allah dalam al Quran, wajib diimani
setiap individunya tersebut, dan mereka berjumlah 25 orang. 18 orang
diantaranya Allah sebutkan dalam QS. Al-An’aam ayat 83-86; dan sisanya
–yang 7 orang- disebutkan di tempat yang berbeda-beda dalam al-Quran.
Siapa yang tidak disebutkan namanya dalam al-Quran, wajib diimani secara global. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقدْ أرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan
sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula)
yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir : 78).
Dan firmanNya,
وَرُسُلاً قَدْ قصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ، وَكَلّمَ اللهُ مُوْسىَ تكْلِيْمًا
“Dan
(Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan
tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan
tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara
langsung.” (QS. An-Nisaa’ : 164).
Apa
perbedaan antara nabi dan rasul? Pendapat yang paling kuat tentang
perbedaan keduanya adalah bahwa setiap nabi dan rasul diberikan wahyu
kepada masing-masing mereka, tapi umumnya, nabi diutus kepada suatu kaum
yang beriman kepada syariat yang terdahulu seperti halnya nabi-nabi
Bani Israil. Adapun rasul, maka umumnya mereka diutus kepada kaum yang
kafir yang mereka dakwahi kepada tauhid, dan sebagian orang-orang
tersebut justru mendustakan mereka.
Seorang rasul lebih afdhal daripada seorang nabi. Dan rasul bertingkat-tingkat kedudukannya. Allah berfirman,
تِلْكَ الرُسُلُ فَضّلْنَا فَضّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلىَ بَعضٍ، مِنْهُمْ مَنْ كلّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
“Rasul-rasul
itu telah Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.
Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan
sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” (QS. Al-Baqarah : 253).
Rasul-rasul
yang paling afdhal adalah rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Dan merekalah yang
disebutkan Allah dalam QS. Al-Ahzab : 7 dan Asy-Syura : 13.
Dan yang paling afdhal dari para rasul Ulul ‘Azmi adalah al-Khalil Ibrahim dan Muhammad, ‘alaihimassalam, dan yang paling afdhal dari keduanya adalah Muhammad ﷺ.
Nubuwwah
(kenabian) ini adalah murni anugerah, keutamaan dan pilihan yang datang
dari Allah Ta’ala, dan tidak mungkin didapatkan dengan usaha-usaha
tertentu.
Wallahu a’lam.
16 Februari 2016
Iman terhadap Karamah Wali
Diantara prinsip pokok aqidah Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengimani karamah para wali Allah.
Karamah
adalah perkara-perkara luar biasa yang Allah jadikan pada sebagian
wali-waliNya dari kalangan orang-orang shalih yang komitmen dengan hukum-hukum Syari'at, sebagai bentuk pemuliaan dariNya terhadap mereka.
Jika hal itu terjadi tanpa disertai iman yang benar dan amal yang shalih, maka itu adalah istidrâj.
Jika hal itu terjadi tanpa disertai iman yang benar dan amal yang shalih, maka itu adalah istidrâj.
Allah Ta’ala berfirman,
ألاَ
إِنَّ أولِيَاءَ اللهِ لاَ خَوفٌ عَلَيهِم وَلاَ هُم يَحْزَنُونَ،
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَقُونَ، لَهُمُ البُشْرىَ فِي الحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ
الفَوزُ العَظِيْمُ
“Ingatlah
sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan
(dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus ‘alaihissalam ayat 62-64).
Ahlussunnah
wal Jama’ah meyakini kebenaran karamah para wali, namun dengan
kaedah-kaedah syar’i yang dijelaskan oleh dalil. Tidaklah setiap perkara
luar biasa merupakan karamah dari Allah Ta’ala, karena bisa jadi itu
merupakan bentuk istidrâj atau perbuatan para pendusta, tukang sihir atau perbuatan syaitan.
Karamah
berasal dari Allah dan sebabnya adalah ketaatan dan ketakwaan. Karamah
hanya berlaku khusus bagi orang-orang yang istiqamah diatas agama Allah
Ta’ala. Allah berfirman,
وَمَا كَانُوا أوْلِيَاءَهُ إنْ أولِيَاؤُهُ إِلاَّ المُتَّقُونَ
“Dan
mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang
berhak menguasainya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Anfal ayat 34).
Sementara
sihir berasal dari syaitan yang sebabnya adalah kekufuran dan maksiat,
dan hanya berlaku bagi para pelaku kesesatan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإنَّ الشَيَاطِينَ لَيُوحُونَ إلىَ أولِيَائِهِم لِيُجَادِلُوكُم وَإنْ أطَعْتُمُوهُم أنَّكُم لَمُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya
syaitan-syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am ayat 121).
Terjadinya karamah terhadap para wali-wali pada hakikatnya adalah sebuah bentuk mukjizat untuk para nabi 'alaihimussalâm. Karena karamah itu tidak mungkin terjadi untuk salah seorang dari mereka kecuali dengan berkah mutâba'ahnya dia terhadap nabinya dan istiqamahnya dia di atas petunjuk dan syari'at nabinya.
Di antara bentuk karamah yang disebutkan para Salaf adalah istiqamah di atas al-Kitab dan as-Sunnah, taat kepada keduanya, ridha terhadap hukum keduanya dan sejalan dengan keduanya dalam ilmu dan amal.
Tidak adanya karamah pada diri sebagian -bahkan banyak- orang-orang mukmin tidak menunjukkan akan kelemahan iman mereka, jika benar dia seorang muslim yang komitmen terhadap al-Quran dan Sunnah. Karena itu, pada banyak Shahabat radhiyallâhu 'anhum, karamah itu tidak terlihat pada diri-diri mereka, karena kuatnya iman mereka dan sempurnanya keyakinan mereka, yang merupakan salah satu sebab munculnya karamah tersebut.
Di antara sebab lainnya datangnya karamah tersebut pada sebagian mukmin adalah untuk menegakkan hujjah/argumen terhadap musuh.
Sihir dan Ahli Sihir
Terjadinya karamah terhadap para wali-wali pada hakikatnya adalah sebuah bentuk mukjizat untuk para nabi 'alaihimussalâm. Karena karamah itu tidak mungkin terjadi untuk salah seorang dari mereka kecuali dengan berkah mutâba'ahnya dia terhadap nabinya dan istiqamahnya dia di atas petunjuk dan syari'at nabinya.
Di antara bentuk karamah yang disebutkan para Salaf adalah istiqamah di atas al-Kitab dan as-Sunnah, taat kepada keduanya, ridha terhadap hukum keduanya dan sejalan dengan keduanya dalam ilmu dan amal.
Tidak adanya karamah pada diri sebagian -bahkan banyak- orang-orang mukmin tidak menunjukkan akan kelemahan iman mereka, jika benar dia seorang muslim yang komitmen terhadap al-Quran dan Sunnah. Karena itu, pada banyak Shahabat radhiyallâhu 'anhum, karamah itu tidak terlihat pada diri-diri mereka, karena kuatnya iman mereka dan sempurnanya keyakinan mereka, yang merupakan salah satu sebab munculnya karamah tersebut.
Di antara sebab lainnya datangnya karamah tersebut pada sebagian mukmin adalah untuk menegakkan hujjah/argumen terhadap musuh.
Sihir dan Ahli Sihir
Ahlussunnah juga meyakini bahwa di dunia ini terdapat sihir dan ahli sihir. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا جَاءَ السَحَرَةُ
“Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang…” (QS. Yunus ayat 80).
Dan firmanNya,
وَلَكِنَّ الشَيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِحْرَ
“Akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah ayat 102).
Hanya
saja, sihir dan para pelakunya tidak akan mampu menimpakan keburukan
kepada seseorang kecuali dengan izin Allah sebagaimana dalam firmanNya,
وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِن أحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُم وَلاَ يَنْفَعُهُمْ
“Dan
mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu
yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.” (QS. Al-Baqarah ayat 102).
Siapa yang
meyakini bahwa sihir itu mampu membahayakan atau memberi kebaikan
dengan sendirinya maka dia kafir. Kaum muslimin telah bersepakat tentang
keharaman sihir. Pelaku sihir diminta untuk bertaubat, jika dia tidak
mau bertaubat maka dia berhak mendapat hukuman mati.
(Sumber : Al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, dengan ringkas)
11 Februari 2016
Ta’at kepada Penguasa Muslim dalam Perkara yang Ma’ruf
Diantara
prinsip aqidah as-Salaf ash-Shalih, Ahlussunnah wal Jama’ah; mereka
memandang wajibnya mematuhi dan mentaati para penguasa kaum muslimin
selama mereka tidak menyuruh kepada maksiat terhadap Allah Ta’ala.
Jika
mereka menyuruh kepada perkara maksiat, tidak boleh mentaati perintah
mereka dalam perkara tersebut, namun tetap wajib tunduk dan patuh dalam
perkara-perkara lainnya.
Prinsip
ini, yaitu taat kepada para penguasa muslim dalam perkara yang ma’ruf,
adalah sebuah prinsip yang sangat agung dan mendasar dalam aqidah Islam.
Karenanya, ulama Salaf memasukkannya dalam bagian prinsip-prinsip dasar
aqidah. Hampir tidak ada satu buku aqidah yang ditulis oleh para imam,
melainkan padanya terdapat penyebutan dan penjelasan dari prinsip
tersebut.
Ketaatan
terhadap penguasa ini adalah kewajiban syar’i bagi setiap muslim, tidak
akan terwujud ketenangan dan stabilitas dalam sebuah negara tanpa adanya
ketaatan terhadap penguasa.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَسُوْلَ
وَأُولِى الأمْرِ مِنْكُمْ، فَإِن تَنَازَعْتُم فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلىَ اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاليَوْمِ
الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَاْوِيْلاً
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil
amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 59).
Dan dalam hadits-hadits shahih;
Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
إن السلطان ظل الله فى الأرض، فمن أكرمه أكرمه الله و من أهانه أهانه الله
“Sesungguhnya
penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Siapa yang memuliakan
penguasa, niscaya Allah akan memuliakannya, dan siapa yang menghinakan
penguasa, niscaya Allah akan menghinakannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan Al-Albani).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعصى الامير فقد عصاني
“Barangsiapa
yang taat kepadaku, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.
Barangsiapa taat kepada penguasa, maka dia telah taat kepadaku. Dan
barangsiapa yang membangkang kepada penguasa maka dia telah bermaksiat
kepadaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,
ألا من ولي عليه والٍ فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره الذي يأتي من معصية الله ولا ينزع يدا من طاعة
“Ketahuilah,
barangsiapa yang berkuasa atasnya seorang pemimpin, dan dia melihatnya
melakukan sesuatu perbuatan maksiat kepada Allah, maka bencilah
perbuatannya tersebut dan jangan melepaskan tangan dari ketaatan!” (HR. Muslim).
Beliau ﷺ bersabda kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,
تسمع وتطيع للأمير وإن ضُرب ظهرك وَأُخِذَ مالُك، فاسمعْ وأطعْ
“Engkau mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas. Dengar dan taatlah!” (HR. Muslim).
Dan pesan beliau ﷺ kepada para shahabatnya,
اسمعوا وأطيعوا وإن استعمل عليكم عبدٌ حبشيٌّ كأن رأسه زبيبة
“Mendengar dan taatlah, walaupun berkuasa atas kalian seorang budak Habasyi seakan-akan kepalanya seperti anggur kering.” (HR. Al-Bukhary).
12 Januari 2016
Iman kepada Takdir Allah
Iman kepada takdir (al-qadha' wa al-qadar) adalah meyakini dengan keyakinan yang kuat dan kokoh bahwa setiap kebaikan dan
keburukan terjadi dengan ketentuan dan ketetapan Allah Ta’ala, dan Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki. Segala sesuatu dengan irâdah
(kehendak)Nya dan tidak ada yang keluar dari keinginan dan
pengaturanNya. Dia mengetahui setiap apa yang telah terjadi, dan segala
apa yang akan terjadi sebelum hal itu terjadi dalam ilmuNya yang azali
(ada tanpa permulaan). Dia menetapkan takdir segala sesuatu di alam ini
sesuai dengan dengan apa yang ada dalam pengetahuanNya dan konsekuensi
dari hikmahNya. Dia mengetahui keadaan para hamba, rezki-rezki mereka,
ajal-ajal mereka, perbuatan mereka dan lain-lain dari urusan-urusan
mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَكانَ أمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al-Ahzab ayat 38).
Dia juga berfirman,
إنّا كُلَّ شَيْئٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadarnya.” (QS. Al-Qamar ayat 49).
Dan Nabi ﷺ bersabda,
لا يؤمن عبدٌ حتى يؤمن بالقدر خيره وشرّه من الله وحتى يعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأنّ ما أخطأه لم يكن ليصيبه
“Tidaklah
seorang hamba beriman hingga dia beriman kepada takdir, baik dan
buruknya berasal dari Allah. Dan hingga dia mengetahui bahwa apa yang
akan menimpanya tidak akan pernah meleset darinya, dan apa yang
dihindarkan darinya tidak akan bakal menimpanya.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).
Iman
kepada takdir tidak akan sempurna tanpa empat perkara yang disebut
tingkatan takdir atau rukun-rukunnya. Perkara-perkara ini adalah
pengantar untuk memahami persoalan takdir. Tidak akan sempurna iman
terhadap takdir kecuali dengan mewujudkan seluruh rukun-rukunnya
tersebut, karena sebagiannya akan berkait dengan sebagian lainnya.
Pertama : Ilmu (al-‘ilm)
Yaitu
mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala apa yang telah terjadi, apa
yang akan terjadi, apa yang belum terjadi dan bagaimana kalau hal itu
terjadi, secara global maupun terperinci. Dia Maha Mengetahui apa yang
bakal dilakukan para hamba sebelum penciptaan mereka, mengetahui rezki,
ajal dan perbuatan mereka, mengetahui gerak dan diamnya mereka,
mengetahui yang celaka dan bahagia diantara mereka, dan yang demikian
itu dengan ilmuNya yang qadîm, yang Dia disifatkan dengannya semenjak azali. Allah Ta’ala berfirman,
إنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah ayat 115).
Kedua : Penulisan (al-kitâbah)
Yaitu mengimani bahwa Allah telah menuliskan segala apa yang ada dalam ilmuNya dari ketetapan takdir para hamba di al-Lauh al-Mahfuzh,
sebuah kitab yang tidak ada kelalaian sedikit pun padanya. Segala apa
yang terjadi dan bakal terjadi di alam ini hingga Hari Kiamat, telah
tertulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitâb, dan dinamakan juga
adz-Dzikr, al-Imâm dan al-Kitâb al-Mubîn. Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلّ شَيْئٍ أحْصَيْنَاهُ فى إمَامٍ مُبِيْنٍ
“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (QS. Yasin ayat 12)
Dan Nabi ﷺ bersabda,
إن أول ما خلق الله القلم فقال : اكتب، فقال : ما أكتب؟ قال : اكتب القدر ما كان وما هو كائنُ إلى الأبد
“Sesungguhnya
yang pertama Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena). Dia berfirman :
Tulislah! Al-Qalam berkata : Apa yang aku tulis? Allah berfirman :
Tulislah takdir, apa yang terjadi dan apa yang bakal terjadi untuk
seterusnya.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).
Ketiga : Kehendak (al-irâdah wa al-masyî’ah)
Bahwa
setiap apa yang terjadi di alam ini, maka itu terjadi dengan kehendak
Allah dan keinginanNya yang beredar antara kasih sayang dan hikmahNya.
Dia memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan kasih
sayangNya, dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmahNya,
dan Dia tidak ditanya atas apa yang diperbuatNya karena kesempurnaan
hikmah dan kekuasaanNya tersebut. Semua itu terjadi selaras dengan
pengetahuanNya yang qadim, yang tercatat dalam al-Lauh
al-Mahfuzh. KehendakNya pasti terwujud. Tidak ada sesuatu pun yang lepas
dari kehendakNya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تشاءُونَ إلاّ أنْ يَشاءَ الله رَبُّ العَالمِيْنَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir ayat 29).
Nabi ﷺ bersabda,
إن قلوب بني آدم كلها بين إصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد يصرّفه حيث يشاء
“Sesungguhnya
hati-hati anak-anak Adam seluruhnya berada diantara dua jari dari
jari-jari Ar-Rahman, seperti sebuah hati yang satu. Dia mengaturnya
bagaimana saja Dia kehendaki.” (HR. Muslim).
Keempat : Penciptaan (al-khalq)
Yaitu
mengimani bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tidak ada khâliq
(pencipta) selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Segala sesuatu
yang selain Dia adalah makhluk (yang diciptakan). Dia-lah pencipta
setiap yang berbuat dan perbuatannya, setiap yang bergerak dan
gerakannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَخَلَقَ كلَّ شَيْئٍ فَقَدّرَهُ تقْدِيْرًا
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan ayat 2)
Segala apa
yang terjadi dari kebaikan dan keburukan, kekafiran dan keimanan,
ketaatan dan maksiat, semuanya telah dikehendakiNya, ditetapkanNya dan
diciptakanNya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كانَ لِنَفْسٍ أنْ تؤْمِنَ إلا بإذْنِ اللهِ
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.” (QS. Yunus ‘alaihissalam ayat 100).
قُل لَن يُصِيْبَنَا إلا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا
“Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (QS. At-Taubah ayat 51).
Allah
menyukai ketaatan dan membenci maksiat. Dia memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki dengan keutamaan yang datang dariNya, dan Dia
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilanNya.
إنْ
تكفُرٌوا فَإنّ الله غنيٌّ عَنْكمْ وَلا يَرْضىَ لِعِبَادِهِ الكُفْرَ
وَإنْ تَشْكرُوا يَرْضَهُ لَكمْ وَلا تزرُ وَازرَةٌ وزْرَ أخْرىَ
“Jika
kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia
tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya
Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain.” (QS. Az-Zumar ayat 7).
Tidak ada
argumen dan uzur bagi orang yang telah Dia sesatkan, karena Allah telah
mengutus para rasul untuk menyampaikan hujjahNya. Dan Dia telah
menyandarkan pekerjaan seorang hamba kepada dirinya sendiri dan
menjadikannya sebagai usahanya sendiri, Dia tidak membebankan kecuali
apa yang dalam kemampuan hamba tersebut.
اليَوْمَ تُجْزَى كلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ اليَوْمَ
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.” (QS. Ghafir ayat 17).
لا يُكلفُ اللهُ نَفْسًا إلاّ وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286)
Akan
tetapi, keburukan tidak dinisbatkan/disandarkan kepada Allah karena
kesempurnaan kasih sayangNya. Karena Dia telah menyuruh kepada kebaikan
dan melarang dari keburukan. Keburukan itu hanyalah ada pada
konsekuensinya dan juga terjadi dengan hikmah dan kebijaksanaanNya.
مَا أصَابَكَ مِن حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَفْسِكَ
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’ ayat 79).
Allah
Ta’ala disucikan dari segala bentuk kezaliman, disifatkan dengan
keadilan. Dia tidak menzalimi seorang pun dengan kezaliman sekecil
apapun. Seluruh perbuatanNya adalah keadilan dan kasih sayang. Allah
Ta’ala berfirman,
وَمَا أنَا بظلاّمٍ للعَبِيْدِ
“Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu.” (QS. Qaf ayat 29).
وَلا يَظْلِمُ رَبّكَ أحَدًا
“Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahf ayat 49).
إنَّ اللهَ لاَ يَظلِمُ مِثقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An-Nisa’ ayat 40).
Dan Allah tidak ditanya atas apa yang Dia perbuat dan apa yang Dia kehendaki.
لاَ يُسْألُ عَمّا يَفْعَلُ وَهُوْ يُسْألُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 23).
Allah
telah menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia menjadikan untuknya
kehendak, kemampuan dan pilihan, sebagai anugerah dariNya agar seluruh
perbuatannya itu benar-benar berasal darinya secara hakiki dan bukan
majaz (kiasan). Dia juga memberikan manusia itu akal untuk memilah
antara yang baik dan buruk, dan tidak menghisabnya kecuali sesuai dengan
kadar amalan-amalannya yang terjadi dengan keinginan dan pilihannya
sendiri. Seorang manusia tidak dalam keadaan terpaksa. Dia memiliki
keinginan dan pilihan, dan dialah yang memilih perbuatannya dan
keyakinannya. Hanya saja, dalam kehendaknya itu dia mengikuti kehendak
Allah. Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak
dikehendakinya tidak bakal terjadi. Allah Ta’ala, Dia-lah pencipta
perbuatan para hamba, dan merekalah yang melakukan perbuatannya sendiri.
Perbuatan itu berasal dari Allah dalam bentuk ciptaan dan ketetapan
takdir, dan berasal dari hamba dalam bentuk pekerjaan dan usaha.
وَمَا تشاءُونَ إلاّ أنْ يَشاءَ الله رَبُّ العَالمِيْنَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir ayat 29).
Takdir
adalah rahasia Allah pada mahkluk ciptaanNya. Tidak ada yang
mengetahuinya, tidak malaikat yang didekatkan, dan tidak juga rasul yang
diutus. Berlebihan dalam mengkaji dan menyelidiki persoalan ini adalah
kesesatan, karena Allah telah melipat ilmu tentang takdir ini dari para
hamba, dan Dia melarang mereka untuk menyingkap hakikatnya. Alla
berfirman,
لاَ يُسْألُ عَمّا يَفْعَلُ وَهُوْ يُسْألُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 23).
———————–
(Sumber : al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, Ahl as Sunnah wa al Jamâ’ah)
08 Januari 2016
Iman Seorang Mukmin kepada Hari Akhir
Iman kepada hari Akhir adalah
keyakinan yang kokoh dan pembenaran yang sepenuhnya terhadap Hari Kiamat
serta mengimani seluruh apa yang dikabarkan Allah ‘azza wa jalla
dalam KitabNya dan dikabarkan rasulNya ﷺ tentang perkara-perkara yang
bakal terjadi setelah kematian hingga masuknya penduduk Surga ke dalam
Surga dan masuknya penghuni Neraka ke dalam Neraka.
Allah Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat orang yang bertakwa,
وَالذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بمَا أنْزلَ إلَيْكَ وَمَا أنزلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبالآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
“Dan
mereka yang beriman kepada kitab (al-Quran) yang diturunkan kepadamu dan
kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan
adanya (kehidupan) Akhirat.” (QS. Al-Baqarah ayat 4).
Termasuk dalam iman kepada Hari Akhir adalah mengimani segala apa yang telah, sedang dan akan terjadi dari tanda-tanda Kiamat.
Tanda-tanda kecil Kiamat
Tanda-tanda kecil Kiamat adalah tanda-tanda yang mendahului Kiamat itu sebelum terjadinya untuk rentang
waktu yang agak panjang. Sebagiannya telah terjadi dan sebagiannya masih
terjadi dan akan terjadi sebagai pengantar datangnya tanda-tanda besar
terjadinya Hari Kiamat.
Tanda-tanda kecil ini sangatlah banyak, dan akan
kami sebutkan sebagiannya dari apa yang disebutkan dalam dalil yang
shahih. Diantaranya :
Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, kematian beliau, penaklukan Baitul Maqdis, munculnya fitnah peperangan dan munculnya para pendusta yang mendakwakan kenabian.
Diantaranya juga adalah pembuatan hadits-hadits palsu atas nama Rasulullah ﷺ
dan penolakan terhadap sunnahnya, tersebarnya kedustaan, diangkatnya
ilmu, tersebarnya kebodohan dan kerusakan, wafatnya orang-orang shalih,
dan terasingnya Islam dan umatnya.
Diantaranya
juga yang masih masih terus berlangsung pada masa kita sekarang dan
makin memburuk; banyaknya pembunuhan, tersebarnya zina, minuman keras
dan riba, sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya jumlah wanita serta
keluarnya para wanita dalam keadaan berpakaian tapi telanjang.
Demikian juga termasuk dalam tanda-tanda kecilnya adalah banyaknya pengabaian terhadap amanah, berlomba-lomba dalam
meninggikan bangunan, berbangga-bangga dengan menghiasi masjid-masjid,
perubahan zaman hingga berhala kembali disembah dan muncullah kesyirikan
di umat ini.
Diantara
tanda-tandanya yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih;
memberi salam hanya kepada orang yang dikenali, ramainya perdagangan,
banyaknya pasar dan harta yang berada di tangan manusia tanpa disertai
rasa syukur, semakin banyaknya sifat rakus dan kikir, banyaknya
persaksian palsu, menyembunyikan persaksian yang benar, permusuhan,
diputusnya silaturrahim dan sikap buruk dalam bertetangga. Demikian juga
semakin berdekatannya zaman, hilangnya keberkahan waktu, terjadinya
fitnah seperti penggalan malam yang gelap gulita, meremehkan sunnah yang
dianjurkan dalam Islam dan orang-orang tua yang suka berlagak seperti
anak-anak muda.
Tanda-tanda besar Kiamat
Yaitu
tanda-tanda yang menunjukkan semakin dekatnya Kiamat tersebut. Jika
tanda-tanda ini muncul, maka Kiamat akan segera terjadi. Diantaranya :
Datangnya al-Mahdi, yaitu Muhammad bin Abdillah, dari keluarga Nabi ﷺ.
Ia datang dari arah Timur dan berkuasa selama tujuh tahun dengan penuh
keadilan setelah sebelumnya bumi ini diliputi oleh kezaliman.
Keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan turunnya Isa putra Maryam ‘alaihissalam di menara putih sebelah timur Damaskus. Ia turun sebagai hakim yang memutuskan perkara dengan Syariat Muhammad ﷺ, membunuh Dajjal dan menerapkan hukum di muka bumi dengan hukum Islam.
Diantara
tanda-tanda besar lainnya adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, pembenaman
di tiga tempat; di Timur, Barat dan di Jazirah Arab; keluarnya
asap/kabut, terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, keluarnya hewan
melata (dâbbah al ardh) yang berbicara kepada manusia dan keluarnya api yang menggiring manusia ke mahsyar (tempat berkumpul).
Termasuk
iman kepada Hari Akhir adalah mengimani setiap perkara ghaib yang
terjadi setelah kematian, yang dikabarkan Allah dan rasulNya ﷺ
yang berkait dengan sakaratul maut, datangnya Malaikat Maut, hadirnya
syaitan saat kematian, tidak diterimanya iman seorang kafir saat
kematian, alam barzakh, pertanyaan dua malaikat, kenikmatan dan siksa
kubur, dan lain-lain.
Dan juga
perkara-perkara yang terjadi pada Hari Kiamat Kubra, dimana Allah
menghidupkan orang-orang mati, membangkitkan mereka dari kuburnya dan
kemudian menghisab mereka.
Mengimani
tentang tiga tiupan, kebangkitan dari kubur, dikumpulkannya manusia di
mahsyar dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki dan tidak berkhitan,
matahari di dekatkan kepada mereka dan diantara mereka ada yang
ditenggelamkan keringatnya sendiri.
Pada hari yang sangat agung itu, manusia keluar dari kuburnya seakan-akan mereka adalah belalang yang bertebaran, bersegera menuju kepada Rabb Yang Maha Perkasa. Manusia diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, terdiam, dimana lembaran catatan akan dibuka, segala yang tersembunyi akan disingkap, dan Allah berbicara langsung kepada para hambaNya tanpa perantara. Manusia akan dipanggil dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka.
Demikian pula Ahlussunnah beriman tentang timbangan (mîzân) yang dengannya ditimbang amal-amal para hamba, dibukanya catatan-catatan amal, shirât (jembatan) yang dibentangkan diatas Jahannam, Surga dan Neraka yang kekal abadi, telaga Rasulullah ﷺ yang panjangnya sejauh perjalanan sebulan dan lebarnya sejauh perjalan sebulan. Orang yang minum darinya tidak akan haus untuk selamanya. Dan Rasulullah ﷺ akan memberikan syafaat para hamba, demikian juga para nabi, malaikat dan orang-orang shalih lainnya.
(Disadur dari al Wajîz fî ‘Aqîdah as Salaf ash Shâlih, Ahlu as Sunnah wa al Jamâ’ah)
04 Juni 2015
Definisi Iman menurut Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah
Iman
menurut Aqidah para Salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah pembenaran dengan hati, ucapan
dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh, yang bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
Iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu ucapan hati dan lisan, serta perbuatan hati, lisan dan anggota tubuh.
Ucapan hati adalah pembenaran, pengakuan dan keyakinannya.
Ucapan lisan adalah pengakuan dalam bentuk amalan, yaitu dengan mengucapkan syahadatain dan mengamalkan segala konsekuensinya.
Perbuatan hati adalah niat, kepasrahan, keikhlasan, ketundukan, cinta dan kehendaknya untuk beramal shalih.
Sementara perbuatan lisan dan anggota tubuh adalah dengan mengerjakan segala perintah dan meninggalkan larangan-larangan.
Tidak ada
iman tanpa amalan. Tidak ada ucapan dan perbuatan tanpa niat. Dan tidak
ada ucapan, perbuatan dan niat tanpa kesesuaian dengan Sunnah.
Allah
telah menyebutkan sifat orang mukmin yang hak adalah untuk orang-orang
yang beriman dan mengamalkan konsekuensi dari iman mereka terhadap
prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, yang lahir maupun yang
batin. Konsekuensi dari iman itu akan nampak pada keyakinan-keyakinan
mereka, ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan mereka yang lahir
maupun yang batin.Allah Ta’ala berfirman,
إنَّمَا
المؤْمِنُونَ الذِيْنَ إذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قلوبُهُم وَإذا
تُلِيَتْ عَلَيْهِم آيَاتُهُ زَادَتْهُم إيْمَانًا وعَلىَ رَبِّهِم
يَتَوَكَّلونَ، الذِيْنَ يُقِيمونَ الصَلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهم
يُنْفِقُونَ، أولَئِكَ هُمُ المُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُم دَرَجَاتٌ عِنْدَ
رَبِّهِم وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-nya
mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah
orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rezki
yang mulia.” (QS. Al-Anfal ayat 2-4).
Allah telah menggandengkan antara iman dengan amalan dalam banyak ayat al-Quran. Diantaranya adalah firmanNya,
إنَّ الَّذِيْنَ آمنُوا وَعَمِلُوا الصَالِحَاتِ كانَتْ لَهُم جَنَّاتُ الفِرْدَوسَ نُزُلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bermamal shalih, bagi mereka Surga Firdaus yang menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahf ayat 107).
Dan firmanNya,
وَتِلْكَ الجَنَّةُ أوْرِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُم تَعْمَلُونَ
“Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf ayat 72).
Dan Nabi ﷺ bersabda,
الإيمان بضعٌ وسبعون شعبةً فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبةٌ من الإيمان
“Iman
itu tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utamanya adalah ucapan La
ilaha illa_Llahu. Yang paling rendahnya menyingkirkan duri dari jalan.
Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhary).
Telah
disebutkan dalam dalil-dalil yang banyak bahwa iman itu memiliki derajat
dan cabang, yang bisa bertambah dan berkurang, dan bahwa pemiliknya
bertingkat-tingkat. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala,
إنَّمَا
المؤْمِنُونَ الذِيْنَ إذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قلوبُهُم وَإذا
تُلِيَتْ عَلَيْهِم آيَاتُهُ زَادَتْهُم إيْمَانًا وعَلىَ رَبِّهِم
يَتَوَكَّلونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-nya
mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal ayat 2).
Dan sabda Nabi ﷺ,
من رأى منكم منكرًا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
“Siapa
diantara kamu yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya.
Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ubahlah
dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Demikianlah apa yang dipelajari dan dipahami oleh para Shahabat dari Rasulullah ﷺ, bahwa iman itu adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
Berkata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Kesabaran dalam keimanan ibarat kepala bagi tubuh. Siapa yang tidak memiliki kesabaran, tidak iman baginya.”
Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, tambahkan untuk kami keimanan, keyakinan dan fiqh.”
Berkata Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhum, “Iman itu bertambah dan berkurang.”
Berkata Waki’ bin al-Jarrah rahimahullahu, “Ahlussunnah mengatakan : Iman adalah ucapan dan perbuatan.”
Dan berkata Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hanbal rahimahullahu, “Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambahnya itu dengan amalan, dan berkurangnya dengan meninggalkan amal.”[1]
Berkata al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, “Bukanlah iman itu hiasan dan angan-angan semata, akan tetapi apa yang bersemayam dalam hati dan dibenarkan oleh amalan.”[2]
Ahlussunnah
juga mengatakan : Siapa yang mengeluarkan amalan dari keimanan maka dia
adalah seorang Murji’ah, ahli bid’ah yang sesat.
Dan siapa
yang menetapkan syahadatain dengan lisannya serta meyakini keesaan Allah
dengan hatinya, akan tetapi dia memiliki kelalaian dalam mengamalkan
sebagian dari rukun-rukun Islam dengan anggota tubuhnya, maka imannya
tidak sempurna. Siapa yang tidak pernah menetapkan syahadatain, tidak
akan pernah ada padanya nama iman dan islam.
——————————
[1] Seluruh atsar yang disebutkan diriwayatkan dengan jalan-jalan periwayatan yang shahih oleh Imam al-Lâlikâ’i rahimahullahu dalam bukunya Syarh Ushûl I’tiqâd Ahl as Sunnah wa al Jamâ’ah.
[2] Kitâb al Îmân, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu.
















