Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
25 November 2015
Atas Nama “Mashlahat Dakwah”
Diantara
tipuan syaitan terhadap sebagian aktivis dakwah adalah pelegalan hal-hal
yang menyimpang dari prinsip dasar keyakinan agama mereka atas nama
mashlahat dan kepentingan dakwah!
Atas nama
mashlahat dakwah, gambar dan foto tokoh yang dibanggakan dalam suatu
jama’ah boleh dipajang dengan berbagai macam gaya dan bentuknya. Padahal
banyak para ustadznya dan kader dakwah sejatinya yang masih menganggap
tabu persoalan foto, tapi anehnya sepertinya tidak ada masalah jika
berkait dengan kepentingan pencitraan lembaga dan tokohnya.
Atas nama
kepentingan dakwah, dibenarkan berkawan dan bermesraan dengan siapa saja
selama dia masih muslim tanpa peduli bagaimana prinsip dasar aqidah dan
manhajnya.
Atas nama
dakwah, para aktivis wanitanya diharuskan keluar rumah untuk ikut andil
dalam memperjuangkan “dakwah” (baca : jamaah/lembaga/organisasi)
walaupun itu harus mengorbankan rumahnya[1]. Kami tidak berbicara
tentang wanita yang keluar untuk belajar dan menuntut ilmu syar’i dalam
batas-batas yang diperlukan dan tidak menyita waktu dan tenaganya. Yang
kami bicarakan adalah eksploitasi para akhawat untuk bekerja
mati-matian demi kepentingan rekrutmen kader untuk mencapai jumlah
tertentu demi kebanggaan dan ketenaran!
Atas nama
kemashlahatan dakwah, majelis ilmu tidak lagi dianggap penting dan
efektif kalau tidak bisa mengumpulkan banyak massa yang akan direkrut
menjadi kadernya.
Atas nama
kepentingan dakwah pula kualitas kader tidak lagi menjadi perhatian
penting karena semuanya diharuskan sibuk untuk memperbanyak jumlah.
Atas nama
dakwah, ketulusan dalam berjuang harus ternoda oleh semangat untuk
pencitraan lembaga dan para ustadznya agar dikenal di kalangan
masyarakat. Lagi-lagi untuk sebuah kepentingan.
Atas nama
kepentingan dakwah, para kader diarahkan untuk bepartisipasi dalam
pemilihan kepala daerah dengan mendukung calon tertentu. Tidak ada yang
salah jika tujuannya memang benar untuk kemashlahatan Islam dan kaum
muslimin. Tapi kalau dukungan itu dengan imbalan pemberian “bantuan
materi” si calon?! Kami jadi ragu, jangan-jangan dukungan itu hanya
untuk mashlahat jamaah si pendukung calon tersebut.
Agama ini adalah agama rabbânî
yang Allah telah menjadikan tujuannya adalah sebaik-baik tujuan. Dan
Dia menjadikan sarana untuk mewujudkan tujuan tersebut sebagai sarana
yang mulia dan terhormat.
Allah tidak akan mungkin menjadikan kemenangan dakwah ini tegak diatas manhaj yang bukan berasal dari manhaj dakwah Nabi ﷺ.
Penggunaan wasilah dan sarana apa saja yang menyelisihi manhaj rabbânî
yang telah digariskan oleh Rasulullah ﷺ dalam dakwah beliau adalah
bentuk penyimpangan dari jalan kebenaran dan pelecehan terhadapnya.
Bahkan, walaupun sebagian wasilah itu bisa mendatangkan sedikit manfaat
menarik dalam pandangan para pengikut dakwah tersebut.
Para ulama
kita dahulu telah menetapkan sebuah kaedah penting, bahwa “akhir umat
ini tidak akan pernah baik kecuali dengan perkara yang telah menjadikan
baik generasi awalnya”.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu ditanya, “Apakah wajib mendapatkan sebagian mashlahat, baik yang bersifat wajib kifa’i atau ‘aini, jika jalan menuju kepada mashlahat tersebut terdapat perkara-perkara yang menyimpang dan diharamkan?”
Beliau rahimahullahu menjawab,
“Tidak boleh! Karena tidak ada dalam Islam kaedah yang mengatakan ‘tujuan membolehkan segala cara’.
Bahkan Islam telah menyebutkan lebih dari satu dalil dalam Kitab-Nya
dan sunnah nabiNya – ﷺ – bahwa rezki yang telah Allah tetapkan untuk
seseorang, tidak boleh seorang muslim mencari jalan untuk mendapatkannya
dengan jalan yang diharamkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
(riwayat) al-Hakim dan lainnya dari sabda Nabi ﷺ,
إِنَّ مَا عِنْدَ الله لَا يُنَالُ بِالحَرَامِ
‘Apa yang berada di sisi Allah tidak boleh didapatkan dengan cara yang haram.’
Rezki yang
berasal dari Allah, yang dia itu tidak seperti kedudukan shalat dan
yang semacamnya dari kewajiban-kewajiban yang fardhu ‘ain, rezki itu
diusahakan seorang muslim semata-mata untuk memelihara dirinya dari
meminta-minta kepada manusia. Andai ia mencukupkan diri dengan rezki
yang halal dan tidak berusaha yang selain itu, ia tidak dianggap sebagai
orang yang lalai, karena mencari rezki sebagaimana yang kami sebutkan
semata-mata agar seorang manusia bisa menjaga dirinya dari meminta-minta
kepada manusia.
Jika saja
usaha untuk mendapatkan rezki itu tidak boleh dengan cara yang haram
dengan dalil hadits yang sudah dikenal, yaitu sabdanya, ‘Apa yang di sisi Allah tidak boleh diusahakan dengan cara yang haram’;
maka lebih pantas lagi, dan lebih layak lagi bahwasannya tidak
dibolehkan seorang muslim, bahkan seluruh muslim, dan bahkan sebuah
jamaah Islam, yang ingin mendakwahi manusia untuk mengamalkan Kitab
Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ; sangat layak bagi mereka untuk tidak
menghalalkan sebagian perkara yang diharamkan untuk mewujudkan sebagian
dari tujuan-tujuan mereka. Karena hal itu kebalikan dari firman Allah tabâraka wa ta’âlâ seperti,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
‘Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.’ (QS. Ath-Thalaq ayat 2 & 3).
Itu dari satu sisi.
Di sisi lain, kita berbeda dari seluruh jamaah-jamaah dan kelompok-kelompok. Kita bukanlah kelompok (hizb),
dan kita bukanlah koalisi (gabungan beberapa kelompok)… Kita adalah
kaum muslimin, dan kita berusaha untuk berjalan dalam Islam kita ini di
atas manhaj para Salafush shalih kita, radhiyallâhu ‘anhum ‘ajma’în.
Setiap
kita mengetahui dengan pasti bahwa mereka suatu waktu dahulu tidak
pernah terlintas dalam benak mereka, apalagi untuk mewujudkan itu dalam
kehidupan mereka, bahwa mereka akan menghalalkan sebagian perkara haram
demi untuk mewujudkan sebagian tujuan-tujuan islami… Bagaimana bisa (itu
dilegalkan)?! Sementara ayat tadi mengatakan,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
‘Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.’ (QS. Ath-Thalaq ayat 2 & 3).
Lisan
orang yang mengucapkan bolehnya melakukan sebagian pelanggaran untuk
mewujudkan sebagian tujuan-tujuan syar’i; ucapan mereka itu bertolak
belakang dengan ayat tersebut. Yaitu ucapan mereka bahwa ‘siapa yang
bertakwa kepada Allah di masa kini, yang ingin menerapkan hukum-hukum
Allah seluruhnya, maka dakwahnya akan sangat terbatas dan sempit.
Karenanya telah menjadi keharusan untuk melanggar sebagian perkara yang
tidak diizinkan Rasul sehingga kita bisa melebarkan dakwah ini!’
Saya
katakan, di sana ada peringatan yang mengingatkan tentang adanya
keburukan yang berbahaya jika para pengemban dakwah kebenaran tidak
memperbaiki urusan mereka sebelum dia menjadi semakin runyam. Yaitu kami
mendengar dari waktu ke waktu bahwa mereka selalu saja melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang banyak dalam jalan yang mereka sebut
sebagai penyebaran dakwah!”[2]
Penggunaan
istilah “mashlahat dakwah” pada saat ini dalam banyak kasus adalah
pemutar balikan fakta untuk kepentingan tertentu dari orang-orang yang
menggunakannya. Seorang da’i dalam pergerakan Islam besar di abad ini
pernah memperingatkan bahaya dari penggunaan istilah tersebut. Beliau
berkata, semoga Allah mengampuni dan merahmatinya, “(Ungkapan) mashlahat
dakwah telah berubah menjadi berhala yang dipuja oleh para pengikut
dakwah dan mereka mulai melupakan manhaj dakwah yang prinsip. Wajib bagi
para pengikut dakwah untuk istiqamah diatas jalan dakwah tersebut dan
benar-benar teliti menempuh jalan itu, tanpa harus menoleh kepada
hasil-hasil yang terkadang mengganggu pikiran mereka bahwa padanya ada
bahaya yang akan mengancam dakwah dan para pengikutnya… Satu-satunya
bahaya yang wajib mereka khawatirkan adalah bahaya penyimpangan dari
manhaj dikarenakan oleh salah satu dari sebab-sebab, baik penyimpangan
itu banyak atau sedikit. Allah lebih tahu dari mereka persoalan
mashlahat dan mereka tidak dibebankan untuk hal itu. Mereka hanya
dibebankan satu perkara, yaitu jangan sekali-kali menyimpang dari
manhaj, jangan sekali-kali melenceng dari jalan ini!”[3]
Kami tidak
pernah mengingkari istilah mashlahat dakwah. Yang kami ingkari adalah
penggunaan istilah itu untuk kepentingan yang selain kepentingan Islam
dan kaum muslimin. Tidak boleh memanfaatkan istilah “mashlahat dakwah”
untuk kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok yang sempit.
Sehingga digambarkan kepada para pengikutnya bahwa kepentingan pribadi
dan kelompoknya itulah dia mashlahat dan kepentingan dakwah atau
sebaliknya. Sebagaimana juga tidak boleh menghalalkan segala cara untuk
mencapai tujuan-tujuan dakwah yang mulia.
Kita
telah berkomitmen terhadap diri-diri kita bahwa kita tidak akan
melakukan perkara yang diharamkan, tidak akan meninggalkan apa yang
diwajibkan, dan tidak akan melakukan bid’ah demi untuk mashlahat dakwah!
Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita untuk istiqamah![4]
Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
“Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat ayat 6).
Dan Dia berfirman mengajak kepada sikap istiqamah,
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي
أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ، نُزُلا مِّنْ غَفُورٍ
رَّحِيمٍ
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah dan mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka
(dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu
bersedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu’. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam
kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang
kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.
Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Fushshilat ayat 30-32).
—————————
Footnotes :
[1]
Para ulama membolehkan seorang wanita yang memilliki kapasitas ilmu
syar’i untuk keluar rumah berdakwah di kalangan wanita, mengajarkan
mereka urusan agamanya. Tapi dengan syarat hal itu dilakukan dengan izin
suami dan tidak mengabaikan urusan rumah, suami dan anak-anak. Anehnya
di zaman ini, seorang muslimah baru saja mengenal Islam, dan waktu,
tenaga dan pikirannya dieksploitasi habis-habisan untuk mengurus dan
memperjuangkan kepentingan lembaga yang mereka sebut “dakwah”!!
[2] Rekaman no. 401 dari Silsilah al-Hudâ wa an-Nûr
[3] Afrâh ar-Rûh, Sayyid Quthb rahimahullahu
[4] Al-Makhraj min al-Fitnah, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullahu
09 Oktober 2015
Ketika Muslimah Keluar Rumah untuk “Dakwah”
Seorang
wanita ketika benar ia telah mendapat hidayah dan berubah menjadi salah
seorang “akhawat muslimah”, maka yang mesti menjadi obsesinya adalah
berdiam di rumahnya, belajar untuk menjadi wanita sejati yang
profesional dalam rumahnya (bukan justru lebih hebat di luar) serta
melayani dan mengurus suami dan anak-anaknya jika ia sudah menikah
sebagai wujud ibadah dan kepatuhannya kepada perintah Allah Ta’ala.
Tapi
sebuah fakta yang sangat aneh di zaman ini dari banyak pergerakan Islam,
hampir tidak ada perbedaan antara wanita yang awam dengan wanita yang
“telah mendapatkan hidayah” itu. Kecuali sedikit saja “perbedaan” dalam
pemahaman dan gaya berpakaian saat keluar rumah.
Wanita
“yang telah mendapatkan hidayah” itu justru lebih semangat keluar rumah,
sangat aktif di luar rumah dan rela menyibukkan diri mengurus orang
lain –dan anehnya- dengan anggapan dan keyakinan bahwa itu adalah sebuah
“pengorbanan” yang mengatasnamakan Allah, Islam dan dakwah (?!).
Sebagian
suami “yang tertipu” bahkan berbangga dengan aktivitas istrinya itu dan
mendorong orang lain melakukannya –juga katanya- untuk kebaikan Islam
dan dakwah.
Kalau
benar mereka taat kepada aturan Allah, maka Allah telah menyuruh wanita
untuk berdiam di rumah. Bagaimana bisa kemudian ada “pemikiran” atau
“dalih” yang lebih baik dari perintah Allah dan –hebatnya lagi-
mengatasnamakan agama Allah.
Berdiam di
rumah adalah sebuah ibadah agung bagi seorang wanita, karena Allah
telah memerintahkan hal itu dalam Kitab Suci-Nya. Sementara pemikiran
sebagian orang, entah dia seorang ustadz atau siapapun, adalah sekedar
pemikiran yang tidak bisa dibenturkan dengan dalil.
Allah Ta’ala berfirman,
وقَرْنَ فى بُيُوْتِكُنَّ وَلا تَبَرّجْنَ تَبَرّجَ الجَاهِلِيّةِ الأوْلىَ
“Dan berdiamlah kamu di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab ayat 33).
Benar apa
yang dikatakan Syaikh Al-Albani rahimahullahu, “Karena kaum lelaki tidak
menunaikan kewajibannya, hingga akhirnya medan perjuangan itu kosong,
dan kemudian dibayangkan pada sebagian wanita bahwa tidak boleh tidak,
kita mesti mengisi kekosongan tersebut”. (Az Zawâj fi al Islâm).
Ya,
“kehebatan” banyak aktivis “dakwah” wanita di zaman ini justru semakin
melemahkan kaum laki-laki. Di banyak pergerakan, kaum wanitalah yang
justru lebih dominan, dan terkesan para lelaki itu bergantung kepada
wanita dalam urusan jumlah pengikut dakwah mereka.
Dakwah
adalah kewajiban setiap muslim, laki-laki maupun wanita. Tapi secara
sengaja mengorganisir atau memobilisasi kaum wanita untuk keluar rumah
atas nama dakwah (baca : lembaga/organisasi) adalah bid’ah yang tidak
pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Salaf radhiyallahu ‘anhum.
Jangan
tertipu dengan “manfaat” tersebarnya dakwah dan terselamatkannya banyak
wanita dengan dakwah tersebut yang sering mereka dengungkan, karena
mendatangkan manfaat tidak dengan cara yang bertentangan dengan aturan
Allah Ta’ala dan petunjuk rasul-Nya.
Terimalah kebenaran, walaupun pahit terasa.
Wallahul musta’an.
22 April 2015
Untuk Muslimah yang Sibuk dengan “Dakwah”
Dakwah adalah kewajiban mendasar bagi seorang muslimah sebagaimana halnya laki-laki. Kami tidak pernah memungkiri hal tersebut.
Namun, fenomena “dakwah” modern bagi seorang muslimah bukanlah sebuah persoalan mudah dan sederhana.
Dakwah di zaman ini identik dengan kelompok-kelompok pergerakan yang mengorganisir anggotanya untuk bekerja “atas nama dakwah”.
Dan
definisi “dakwah” itu akan sangat identik dengan begitu banyak pekerjaan
yang akan sangat menguras tenaga, waktu dan pikiran… Bakti sosial,
seminar, tabligh akbar, bazar, membuka usaha dan seterusnya disamping
agenda-agenda “utama” yang kadang terabaikan karena kerja yang menumpuk
seperti menuntut ilmu dan ibadah.
Dakwah dengan definisi seperti ini tentu bukanlah hal mudah bagi seorang wanita yang lemah, apalagi ketika dia telah menikah.
Walaupun
jarang diakui, atau mungkin diakui tapi jarang “diributkan dan
dipermasalahkan”, kerja yang seabrek “atas nama dakwah” tersebut telah
–sedikit banyak- menjauhkan seorang aktivis wanita dari jati dirinya
sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang muslimah.
Bukan
rahasia lagi bahwa banyak diantara aktivis-aktivis akhawat yang begitu
hebatnya dalam aktivitas “dakwah” tapi tidak pandai mengurus diri, rumah
dan keluarganya. Tidak pandai masak, pakaian dicucikan orang tua, kamar
tidur dan rumah yang berantakan, tidak betahan diam di rumah dan –bagi
yang sudah menikah- urusan rumah, suami dan anak-anak yang “sedikit”
terbengkalai.
Ya,
mungkin hal-hal itu tidak berpengaruh besar bagi jalannya aktivitas
keseharian diri dan keluarganya, tapi pemahaman seperti ini adalah
sebuah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Yaitu pemahaman bahwa
“kewajiban dakwah”nya seorang aktivis muslimah sama kedudukannya dengan
urusan dalam rumahnya.
Sewajib-wajibnya
dakwah bagi seorng muslimah, hal itu tidak akan pernah bisa
menggugurkan atau mengurangi kewajiban besarnya terhadap diri, suami dan
rumah tangganya. Keliru besar kalau ada yang berpikiran seperti itu.
Kami tidak
mengingkari semua bentuk dakwah yang tidak bertentangan dengan manhaj
Islam, termasuk dakwah melalui organisasi dan yang semacamnya. Yang kami
ingkari adalah keterlibatan berlebihan dari kaum wanita dalam urusan
ini yang berakibat buruk bagi diri mereka dan keluarga muslim.
Berikut
ini adalah nasehat dari seorang ulama besar di abad ini, semoga bisa
sedikit memperbaiki kekeliruan pemahaman para akhawat tentang dakwah. Wallahul musta’an.
Nasehat Syaikh Al-Albani rahimahullahu kepada Para “Aktivis Muslimah”
Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu :
Apakah boleh seorang muslimah menggeluti “nasyath islami” tertentu?*
Aku
katakan sebagai nasehat dan peringatan : termasuk musibah dunia Islam
pada saat ini adalah keluarnya kaum wanita, bahkan muslimat, bahkan
wanita-wanita berhijab, dan bahkan sebagian wanita-wanita salafiyyah;
mereka keluar dari rumah-rumahnya kepada apa yang bukan urusan mereka.
Menggeluti
“nasyath islami” bagi kaum wanita tidaklah ada. Kegiatan wanita adalah
di rumahnya, di dalam rumahnya. Tidak boleh bagi wanita menyerupai kaum
laki-laki, demikian pula tidak boleh wanita muslimah menyerupai
laki-laki muslim.
Wanita-wanita muslimah jika benar ingin berkhidmat untuk Islam, maka khidmat itu di rumahnya.
Tidak boleh seorang wanita keluar, dan tidak boleh dia mensyaratkan
terhadap suaminya bahwa ketika telah menikah maka dia akan aktif dalam
“nasyath islami”.
Aktivitasnya
dahulu andaipun boleh –boleh secara mutlak- maka itu adalah aktivitas
yang cocok dengan gadis lajang yang belum memiliki tanggung jawab.
Adapun sekarang dia telah menjadi ibu rumah tangga. Dia memiliki
kewajiban terhadap suaminya dan terhadap apa yang telah Allah
anugerahkan untuknya dari anak-anak. Sangatlah aksiomatik jika
kehidupannya sekarang berubah. Hal ini andai syarat tadi itu dibolehkan,
dan kami tidak memandang bahwa hal itu boleh secara mutlak.
Dahulu
para wanita shahabiyat, mereka adalah teladan dalam ilmu, wawasan dan
seterusnya. Tapi kami tidak mengetahui bahwa seorang dari mereka keluar
untuk memimpin kegiatan islami diantara kaum laki-laki. Ketika kalian
mendengar Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha keluar dari rumahnya
-dan ia telah keluar dalam sebuah masalah dan fitnah yang terjadi-,
dibayangkan padanya bahwa keluarnya adalah kebaikan untuk kaum muslimin
dan hakikatnya tidak seperti itu. Tidak diragukan bahwa para ulama Islam
telah menghukumi kekeliruannya dengan keikutsertaannya tersebut.
Ceramahnya pada perang Jamal dan selainnya adalah kesalahan. Hanya saja
kesalahannya itu termaafkan dengan kebaikan-kebaikan dirinya. Akan
tetapi tidak pantas seorang wanita meneladani kekeliruannya yang dirinya
sendiri pun telah bertaubat dari kesalahan tersebut. Itu pun sepanjang
hidupnya tidak dikenali darinya sedikitpun keikutsertaan yang seperti
ini.
Dengan
demikian, kasus itu adalah sebuah kondisi khusus dan ijtihad khusus
darinya. Dan walaupun begitu semuanya adalah kesalahan.
Adapun
engkau melihatnya (seorang wanita) pergi dan pulang layaknya seorang
pemuda yang gesit, bahkan mungkin sebagian mereka bersafar sendirian
dalam sebuah safar yang diharamkan dalam Islam -tidak boleh seorang
wanita melakukan safar kecuali ada bersamanya suami atau mahramnya-;
engkau dapatkan para wanita itu bersafar sendirian di jalan dakwah
kepada Islam. Akan tetapi fenomena ini sebabnya adalah karena kaum
lelaki tidak menunaikan kewajibannya, hingga akhirnya medan perjuangan
itu kosong, dan kemudian dibayangkan pada sebagian wanita bahwa tidak
boleh tidak, “kita mesti mengisi kekosongan tersebut”.
Wajib bagi
kita kaum lelaki untuk berjuang menunaikan kewajiban dakwah ini dalam
pemahaman, amalan, penerapan dan seruan, dan mewajibkan kaum wanita
untuk berdiam di rumah-rumahnya, menunaikan kewajiban mentarbiyah
keluarga mereka, anak-anak, saudari, saudara dan seterusnya. Tidak
mengapa para tetangga wanita saling berkumpul di tempat khusus wanita,
dengan suara yang rendah, yang sesuai dengan tempat bermajelis mereka.
Apa yang
kita lihat pada hari ini, maka saya meyakini bahwa hal itu bukanlah
bagian dari Islam sedikitpun. Walaupun sebagian jamaah-jamaah Islam
mengorganisir pergerakan-pergerakan kaum wanita dengan mengatasnamakan
Islam, saya yakin bahwa hal ini termasuk perkara-perkara baru dalam
agama. Kalian telah menghafalkan, dan telah tiba masanya kalian
menghafalkan ucapan Rasul ‘alaihishshalâtu wassalâm,
وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار
“Jauhilah
olehmu perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru (dalam agama)
adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.”
Cukup sekian.
سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك
(Syaikh al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani rahimahullahu, dalam rekaman ceramah yang berjudul “Az Zawâj fi al Islâm”. Teks arabnya silahkan dibaca di sini)
———————
* Nasyath
islami secara harfiah adalah kegiatan/aktivitas islami, dan yang beliau
maksudkan adalah bentuk-bentuk pergerakan “dakwah” modern yang
terorganisir yang umum kita kenal di zaman ini.
06 Desember 2014
Dakwah Tauhid akan Menyatukan Hati
Syaikh Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia ditanya :
Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang mengatakan : "Kita telah mengabaikan manusia dengan tauhid"?
Beliau menjawab hafidzhahullahu :
Ungkapan seperti itu adalah keliru. Tauhid, dialah yang akan menyatukan hati, menyatukan barisan dan menjadikan umat ini umat yang satu. Kita tidak akan pernah menjadi umat yang satu kecuali jika kita menjadi muwahhid (ahli tauhid) kepada Allah, memurnikan amal-amal semata-mata hanya untuk Allah.
Allah Jalla wa 'Alaa berfirman kepada nabi-Nya,
وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ
"Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." (QS. Al-Qalam ayat 9); yaitu, orang-orang musyrik sangat ingin jika engkau mengalah dalam persoalan tauhid, engkau tidak menyatakan secara terang-terangan berlepas diri dari kesyirikan. Mereka bermanis-manis muka dihadapanmu dan mendekatimu (untuk itu)... Tidak, tauhid adalah sesuatu yang mesti ada. Mesti dimuliakan dan dinampakkan... Akan menyukainya orang suka, dan membencinya orang yang benci.
23 Maret 2014
Bertahap dalam Menyampaikan Dakwah
Apakah tahapan dalam pensyari'atan telah berhenti dengan sempurnanya Risalah (Islam)? Apakah boleh bagi seorang da'i menyampaikan dakwah secara bertahap seperti berlemah lembut terhadap muslim yang masih baru, bertahap dalam menyampaikan perintah-perintah Islam, dan bertahap dalam menyampaikan larangan-larangan agar tidak berbenturan?
Jawab :
Disyariatkan untuk melakukan tahapan dalam penyampaian dakwah untuk mengamalkan hadits Mu'adz ketika ia diutus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ke Yaman.
Al-Jama'ah[1] telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Mu'adz bin Jabal ketika ia mengutusnya ke Yaman,
إنك
ستأتي قوما من أهل الكتاب ، فإذا جئتهم فادعهم أن يشهدوا أن لا إله إلا
الله وأن محمدًا رسول الله ، فإن هم أطاعوك بذلك فأخبرهم أن الله قد فرض
عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن هم أطاعوا لك بذلك فأخبرهم أن الله
قد فرض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم ، فإن هم أطاعوا لك
بذلك فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم ؛ فإنه ليس بينها وبين الله
حجاب
"Engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Jika engkau mendatangi mereka maka ajaklah mereka untuk mempersaksikan bahwa tiada ilaah (yang hak) kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mematuhimu dalam perkara itu, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat pada sehari dan semalam. Jika mereka telah mematuhimu dalam perkara itu, kabarkanlah pada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat), yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diserahkan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka telah mematuhimu dalam perkara itu, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta mereka yang paling berharga. Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sungguh, tidak ada batas antara doanya dengan Allah."
Adapun persoalan tasyri' (pensyari'atan), maka hal itu telah sempurna dengan wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Ta'ala berfirman,
اليَوْمَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah ayat 3)
----------------
[1] Al-Jama'ah yaitu para Imam hadits yang enam dan Imam Ahmad, rahimahumullahu.
04 Februari 2013
Berinteraksi dengan Kerabat yang Murtad
Apa hukumnya silaturahim kepada kerabat yang murtad? Bagaimana pula hukum menziarahinya? Apakah boleh bercakap dengannya serta duduk-duduk bersamanya? Jika seandainya itu boleh, apa saja batasan-batasannya? Jika saya belum menegakkan hujjah (argumen) atas dirinya karena dia suka mengikuti hawa nafsunya; apakah saya harus mempergaulinya layaknya pergaulan terhadap orang murtad atau tidak?
*****
Jawab :
Alhamdulillah,
Pertama,
Murtad adalah orang yang keluar dari Islam kepada kekafiran, dengan sebuah ucapan, perbuatan, hal meninggalkan atau keyakinan.
Tidaklah setiap orang yang jatuh pada kekafiran otomatis menjadi kafir murtad. Terdapat beberapa uzur yang bisa saja diberikan kepada seorang muslim sehingga tidak dihukumi dengan kekafiran. Diantaranya adalah kejahilan, ta'wil, keterpaksaan dan kekeliruan.
Sebagian jenis-jenis riddah (kemurtadan) tidak diberikan uzur kepada pelakunya; seperti mencaci Allah Ta'ala, atau mencaci rasulNya shallallahu 'alaihi wasallam, atau terang-terangan dengan kekafiran; dengan kesepakatan orang-orang awam dari kaum muslimin dan para ulama bahwa perkara-perkara tersebut termasuk kekafiran dan murtad dari Islam. Siapa yang mengerjakan sesuatu dari perkara-perkara itu dan tidak bertaubat, maka dia telah murtad.
Kedua,
Orang yang telah pasti murtadnya dengan keyakinan, dan orang itu termasuk kerabat, maka dia dipergauli dengan hal-hal berikut;
- Berlepas diri dari apa yang dilakukannya dari kekafiran dan kemurtadan
- Haram berwala' (memberikan loyalitas), menyayangi dan mencintainya
- Wajib menasehati dan mendakwahinya kepada Allah
- Boleh menziarahinya, berbicara kepadanya dan duduk bersamanya dengan tujuan untuk mendakwahinya dan semangat dalam memberikan hidayah kepadanya, bagi orang yang ahli dalam hal tersebut
- Boleh menjalin silaturahim kepadanya dengan memberikan hadiah atau yang semacamnya agar dia mau bertaubat dan kembali kepada petunjuk
- Mengisolir dan memboikotnya jika dia terus dalam kesesatannya, khususnya jika ada mashlahat dalam boikot tersebut, dengan tujuan untuk menyingkap keburukannya, atau memberikan pelajaran dan peringatan bagi kerabat lainnya untuk tidak mengikutinya
Kesimpulannya; Anda harus memahami bahwa orang yang murtad sangat dibenci di sisi Allah Ta'ala, Syari'at tidak mentolerir dirinya terus berada dalam kemurtadan, dan dengan kemurtadan itu dia telah menggugurkan apa yang pantas dia dapatkan dari penghormatan dan hak-hak yang wajib atas kaum muslimin (terhadap dirinya). Sementara di sisi lain, berdakwah kepada Allah dan antusias terhadap hidayah para hamba termasuk amalan yang terbaik dan akhlak yang terpuji. Maka, diatas kedua prinsip inilah landasan dalam pergaulan; membenci orang kafir karena agamanya dan mendakwahinya serta berusaha keras untuk menyelamatkannya dari kekafiran.
Wallahu a'lam.
---------------------------
Disadur dari; Islam Soal Jawab
http://islamqa.info/ar/ref/169985
Dengan Apa Seorang Da'i Memulai Dakwahnya?
Jama'ah-jama'ah Islamiyah di sini berbeda-beda dalam prioritas pertama dakwah yang wajib bagi para da'i untuk memulainya; apakah dimulai dari sisi politik, aqidah atau akhlak? Apa saja perkara-perkara yang menurut Anda harus dimulai dalam dakwah?
*****
Jawab :
Disyari'atkan memulainya dengan aqidah sebagaimana yang dimulai oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan dimulai oleh semua rasul. Dan juga dengan dalil hadits Mu'adz,
إنك ستأتي أقواماً من أهل الكتاب ، فإذا جئتهم فادعهم أن يشهدوا أن لا إله
إلا الله وأن محمداً رسول الله ، فإن هم أطاعوك بذلك فأخبرهم أن الله قد
فرض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن هم أطاعوك بذلك فأخبرهم إن الله
قد فرض عليهم صدقة تأخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم ، فإن هم أطاعوك
بذلك فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله
حجاب
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum-kaum dari kalangan Ahli Kitab. Jika engkau mendatangi mereka, dakwahilah mereka untuk bersyahadat bahwa tiada ilah (yang hak) kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka patuh kepadamu dalam perkara itu, kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada sehari dan semalam. Jika mereka telah patuh kepadamu dengan hal itu, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakirnya. Jika mereka patuh terhadapmu, maka jauhilah harta-harta berharga mereka. Takutlah kepada doa orang yang terzalimi, karena tidak ada batas antara doa tersebut dengan Allah."; jika yang didakwahi adalah orang-orang kafir.
Adapun jika yang didakwahi adalah orang-orang muslim, maka dijelaskan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui dari hukum-hukum agama dan apa yang mereka lalaikan darinya. Dan hendaknya sang da'i memperhatikan prioritas yang terpenting kemudian yang penting.
Dikutip dari Fatawa al-Lajnah ad-Da'imah, XII/hal.238
Islam Soal Jawab
http://islamqa.info/ar/ref/10261
08 Januari 2013
Beberapa Persoalan tentang Menuntut Ilmu
Pertanyaan : Apakah menuntut ilmu yang wajib disyaratkan padanya izin kedua orang tua?
Jawab :
Menuntut ilmu yang berkait erat dengan benarnya imanmu dan kewajiban-kewajiban yang mesti ditunaikan, tidak disyaratkan padanya izin kedua orang tua. Adapun ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, wajib meminta izin kedua orang tua. [1]
Pertanyaan : Semua tahu bahwa ilmu syar'i harus bergandengan dengan amal. Bagaimana pandangan Syari'at tentang orang yang berhenti dari menuntut ilmu dengan dalih lalainya dirinya dari beramal. Apakah dia benar ataukah tetap wajib baginya belajar walaupun keadaannya seperti yang telah disebutkan? Barangkali saja amalnya itu tumbuh dari ilmunya tersebut.
Jawab :
Meninggalkan menuntut ilmu karena khawatir dengan kelalaian dalam beramal adalah termasuk tipuan syaitan untuk menyesatkan anak-anak Adam. Yang wajib bagi seorang muslim adalah menuntut ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
منْ سَلَكَ طريْقًا يلتمِسُ فيهِ علمًا سهّل اللهُ لهُ بهِ طريقًا إلى الجنةِ
"Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka dengannya Allah akan mudahkan baginya jalan ke Surga."
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda,
طلبُ العلمِ فريضةٌ على كلّ مسلمٍ
"Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim."
Sikap meremehkan terhadap persoalan menuntut ilmu dengan argumen rusak seperti ini tidak dikenal kecuali dari kalangan Sufi yang sesat. Wajib untuk tidak berpaling kepada sikap peremehan seperti itu, dan tetap semangat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. [2]
*****
Pertanyaan : Saya seorang mahasiswa di Fakultas Syari'ah dan Hukum di Universitas Shan'a, dengan intisab (yaitu terdaftar tapi tidak wajib menghadiri kuliah). Saya bekerja untuk menyediakan berbagai keperluan kampus, dan juga untuk membantu keluarga dengan segala apa yang mampu saya berikan untuk mereka. Mereka hidup di kampung, dan saya anak tertua. Ayah saya seorang yang tidak mampu lagi untuk bekerja. Saudara-saudara saya masih kecil. Problem yang saya hadapi; saya sangat ingin menuntut ilmu syar'i pada salah seorang Syaikh (ulama) terpercaya seperti Syaikh Muqbil hafidzhahullahu, akan tetapi sangat disayangkan saya tidak bisa membiarkan keluarga saya sementara mereka sangat membutuhkan bantuan. Yang paling banter yang bisa saya lakukan adalah membaca sebagian kitab yang mampu saya beli semenjak beberapa waktu lalu saat harganya masih murah. Apa nasehat Anda untuk saya, waffaqakumu_Llahu.
Jawab :
Kami nasehatkan Saudara untuk terus menuntut ilmu syar'i pada ulama-ulama Ahlussunnah, walaupun hanya dengan berintisab dan membaca, dan jangan pernah berhenti dari menuntut ilmu sebatas kemampuan. Dengan tetap bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, orang tua dan saudara-saudara. Dengan itu engkau akan diberikan ganjaran kebaikan insyaallah. Wa bi_llahi at taufiq. [3]
*****
Pertanyaan : Bolehkah belajar agama demi untuk mendapatkan ijazah?
Jawab :
Tidak mengapa seseorang belajar untuk mendapatkan ijazah, dan wajib baginya berusaha keras untuk memperbaiki niat sehingga studinya tersebut benar-benar hanya diniatkan untuk Allah saja. Dan ijazahnya itu dijadikan sebagai penolong bagi dirinya dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, dan untuk berkhidmat bagi kaum muslimin. Wa bi_Llahi at taufiq. [4]
-------------------
Footnotes :
[1] Fatawa al-Lajnah ad-Da'imah, XII/79, fatwa no. 3816
[2] Idem, XII/97, fatwa no. 17811
[3] Idem, XII/101, fatwa no. 18955
[4] Idem, XII/104, fatwa no. 5518
www.alifta.net
21 Agustus 2012
Menata Jiwa, Membangun Pribadi Menuju Kejayaan Umat
Khutbah Idul Fitri Wahdah Islamiyah 1433 H
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Hari ini kita
kembali berkumpul, di tempat ini, di atas sepenggal bumi milik AllahAzza
Wajalla yang cucuran rahmatNya tak berhenti menyapa kita.
Segenap
jiwa kitapun menyatu, dalam satu harapan menggapai RidhaNya. Seraya lisan-lisan
kita serempak melantunkan takbir, tahlil dan tahmid. Yang
suaranya membahana menggetarkan jiwa, membelai alam semesta, menambah keindahan
dan keselarasannya.
Sebulan
lamanya kita menempa diri dengan ibadah, semoga kiranya semua ibadah itu
diterima olehNya Allah Tabaraka wa Ta’ala, amin,amin ya Rabbal alamin,…
Kaum
Muslimin rahimakumullah…
Hari ini,
saat kita bergembira dalam suasana hari raya, kitapun tetap sadar bahwa
sesungguhnya kaum muslimin menghadapi demikian banyak problema, hampir di
setiap sudut kehidupan. Penjajahan
dan kezaliman dengan pongahnya masih saja menerkam kaum muslimin di berbagai
penjuru dunia. Palestina, Suriah dan Arakan Burma menjadi saksi nyata
memilukan hati.
Kemiskinan
dan tekanan ekonomi masih saja menerpa saudara-saudara kita di berbagai negeri,
sementara konflik seakan tak berhenti berkecamuk, menambah runyamnya
keadaan. Ancaman pemurtadan
dan maraknya aliran-aliran sesat juga semakin mengancam dan mengkhawatirkan.
Dan yang
paling miris adalah semakin jauhnya umat ini dari tuntunan agamanya,
maka jadilah kebenaran sebagai barang langka, amanah tersia-siakan, kemaksiatan
merajalela, yang haq dipandang batil dan kebatilan dipandang sebagai
yang haq…Wallahul Musta’an.
Dihadapan
berbagai permasalahan ini, di tengah berbagai problema ini, jiwa-jiwa beriman,
jiwa-jiwa perindu Surga tak pernah putus harapan, karena mereka yakin bahwa
malam pekat yang mencekam takkan selamanya mengurung kehidupan, akan ada sinar
mentari pagi yang datang menerangi:
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ
النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الميت وَتُخْرِجُ الميت
من الْحَيَّ
“Engkaulah
yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan
Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup…” (QS. Ali Imran: 27)
Kaum
Muslimin a’azzakumullah..
Semoga
Allah mengokohkan kita semua,…
Jiwa-jiwa
perindu surga tak pernah putus harapan, karena mereka yakin bahwa sebesar dan
sebanyak apapun permasalahan dan problema yang datang mendera, selalu ada jalan
insya Allah.
Sebanyak
dan sedalam apa kita menanam iman, maka akan semakin banyak kita menuai
harapan. Karena iman dan taqwa adalah bahan bakar utama bagi seorang insan
dalam mengarungi kehidupan dengan berbagai derita dan problemanya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Dan
barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Ia akan memberikan baginya jalan
keluar…” (QS. Al-Thalaq: 2)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan
barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan bagi urusannya
kemudahan..” (QS. Al-Thalaq: 4)
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya
bersama dengan kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Syarh: 6)
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Kaum
muslimin yang disayangi Allah...
Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah dari mana kita mulai menapaki jalan harapan itu?
Kita tak perlu lama menunggu jawabannya. Rasul kita yang tercintashallallahu
alaihi wasallam, memberi kita jawabannya dengan sangat jitu:
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ
“Mulailah
dari dirimu sendiri!” (HR. Muslim)
Ya, jalan
itu dimulai di sini, dari dalam diri ini.
Setiap diri
telah tiba saatnya untuk menengok lebih dalam pada jiwanya, menelaah
lebih teliti rongga hatinya, melihat dan membasuh semua luka yang ada di situ,
menghapus semua noda hitam yang melekat, hingga hilang dari qalbu semua
torehan dosa yang kelabu.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ
اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ
وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab
atas mereka kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras, dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (
QS. Al-Hadid: 16)
Kaum
beriman yang dirahmati Allah,
Wahai
para pengibar Panji Laa ilaha illallah...
Memperbaiki
diri dan menata jiwa adalah bermakna bahwa kita harus memulainya
dari aqidah, dari pondasi paling asasi dari bangunan keIslaman kita,
yang menentukan baik tidaknya amalan kita selanjutnya, bahkan diterima atau
tidaknya semua amalan kita.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
“Jika
engkau melakukan kesyirikan, maka sungguh akan batal amalan-amalanmu, dan
engkau di akhirat termasuk orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar : 65)
Kewaspadaan
dari perkara-perkara yang merusak aqidah seharusnya menjadi sesuatu
yang melekat pada diri kita, bukankah seorang Khalilullah,
kekasih Allah, Ibrahimalaihissalam sendiri pernah berdoa yang
doanya diabadikan dalam Al-Qur’an:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“…Dan
jauhkanlah kami dan anak keturunanku dari penyembahan terhadap
berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Jika
seorang Ibrahim alaihissalam sedemikian waspadanya menjaga
aqidah, maka sudah sepatutnya kita yang demikian banyak kelalaian ini- yang
mencoba menata dan memperbaiki diri- menapak tilasi jejak beliau alaihissalam,
dengan menjadikan aqidah sebagai titik tolak semua kebaikan itu.
Kaum
Mukminin a’azzakumullah
Wahai
para hamba-hamba Allah yang semoga dikasihiNya...
Memperbaki
dan menata kembali diri ini adalah usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki segala
bentuk ibadah kita kepada Allah Ta’ala, karena untuk itulah kita diciptakan :
وَمَا خَلقْتُ الجِنَّ وَالإنْسَ إِلَا ليَعبُدُوْنِ
“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.” (QS:
Al-Dzariyat: 56)
Seorang
mukmin sejati adalah seorang yang ‘aabid (ahli ibadah), segala
gerak geriknya adalah ibadah. Ia menjaga ibadah-ibadah mahdhah yang telah
ditentukan Allah yang kemudian dengan dengan taufiq Allah Ta’ala pengaruh
dan dampak dari ibadah itu membersitkan berkas-berkas cahaya dalam
kepribadiannya.
Rasul
kita yang mulia shallallahu alaihi wasallam pernah
meriwayatkan dari Rabb-nya satu hadits qudsi, di mana Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا
افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ
حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ
الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي
لَأُعِيذَنَّهُ
“Dan
tidak ada perkara yang lebih Aku cintai dari hambaKu yang mendekatkan diri
kepadaKu melainkan dengan perkara-perkara yang telah Aku wajibkan atasnya, dan
senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan
perkara-perkara sunnah sehingga Aku mencintainya, maka bila Aku telah
mencintainya maka Aku sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya, Aku
menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, Aku menjadi tangan
yang ia menyentuh dengannya, Aku sebagai kakinya yang ia
berjalan dengannya, jika ia memohon padaKu sesuatu, sungguh akan Kuberikan, dan
jika ia meminta perlindungan dariKu, sungguh akan kuberikan perlindungan itu.”
(HR. Al-Bukhari)
Alangkah
indah dan luar biasanya atsar atau pengaruh ibadah yang kontinyu dan konsisten
itu, bermula dari yang wajib kemudian disempurnakan dan dilengkapi dengan
yang sunnat atau nawafil, hingga hal itu
mengundang cinta Ilahi yang demikian agung. Akhirnya sang hamba akan terpenuhi
hatinya dengan pengagungan kepada Allah, jadilah ia menggunakan semua
pendengaran, penglihatan, tangan, kaki dan semua yang ada pada dirinya hanya
untuk kegiatan yang sesuai dengan keridhaan Allah. Ada bimbingan ilahiuntuk
seluruh gerak-geriknya, dan itu semua adalah karunia Allah yang diberikannya
kepada para ahli ibadah dari hamba-hambaNya.
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Kaum
muslilmin Rahimaniyallah wa iyyakum...
Memperbaki
dan menata kembali diri ini adalah usaha sungguh-sungguh untuk semakin
memperindah akhlak kita, mengharumkan kepribadian kita dengan akhlakul karimah,
hingga pribadi muslim sejati akan semakin semerbak baunya, menyenangkan dan
menentramkan orang-orang yang berada di sekelilingnya, bukankah Nabi kita
tercintaShallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ
الْأَخْلَاقِ
“Hanyalah
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad
dan Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)
Suatu
ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh
seorang sahabat beliau: perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan manusia
ke dalam surga? Maka beliau pun menjawab:
تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“…Taqwa
kepada Allah dan akhlak yan baik.” (HR. At-Tirmidzy)
Menjadi
seorang yang dianugerahi iman dan komitmen untuk memperjuangkan iman, adalah
karunia terbesar kepada seorang hamba yang wajib untuk disyukuri dan
dipertahankan, dan salah satu sisi iman yang perlu terus diasah dan dipertajam
adalah masalah akhlak ini.
Seorang multazim (yang
berkonsisten terhadap agamanya) adalah orang yang paling berpeluang untuk
menjadi manusia-manusia yang terbaik akhlaknya. Sikap ar-Rifq (lemah
lembut) harus senantiasa menghiasi kepribadian seorang insan multazim.
Bukankah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
mulia telah menghadiahkan salah satu mutiara perkataannya:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ
مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya
kelemahlembutan itu tidaklah ia berada pada sesuatu kecuali ia akan membuatnya
semakin indah, dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu kecuali ia akan membuatnya
semakin buruk.” (HR. Muslim)
Perilaku
keras yang menjurus kasar dalam ucapan dan tindakan akan membuat manusia
menjauh dan enggan mendekati cahaya iman yang sesungguhnya ada pada anda.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ
الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka
dengan Rahmat dari Allah engkau pun bersikap lembut pada mereka. Dan andai saja
engkau bersikap kasar dan keras hati, pasti mereka akan pergi dari sekitarmu.”
(QS.Ali Imran: 159)
Iman yang
mendalam, akan tercermin dari perilaku yang mulia terhadap sesama manusia.
Kaum
muslimin yang dimuliakan Allah...
Upaya
perbaikan diri, bukanlah sikap melarikan diri dari kenyataan dan meninggalkan
gelanggang dakwah dan upaya ishlahul ummah (perbaikan ummat).
Namun kedua hal ini harus berjalan simultan. Setiap pribadi harus selalu
perduli dengan dirinya dan terus memperbaikinya. Semakin baik pribadinya, maka
satu dari komponen umat menjadi semakin baik.
Sekali
lagi contoh teladan Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya
menjadi parameter kita, dimana beliau adalah seorang paling bersih hatinya,
paling dekat dengan Rabbnya, sekaligus paling peduli dengan umatnya.
Upaya
perbaikan diri ini akan menjalar dengan indah ketika setiap pribadi muslim
melakukannya dengan konsisten, dimana setiap pribadi akan membentuk atau
menjadi bagian dari satu keluarga muslim yang akan saling menggandeng dengan
keluarga muslim lainnya membangun sebuah masyarakat Islam yang kuat.
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Kaum Muwahhidin
a’azzakumullah...
Semua
asas dan dasar perbaikan itu adalah sekali lagi bermula dari Tauhid. Tauhid
yang murni akan melahirkan kebersihan hati, kemuliaan akhlak dan kejayaan di
dunia ini.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ
مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا
“Dan
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh di antara kalian,
sungguh Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar
mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu
pun.”(QS. An Nur: 55)
Kunci
perbaikan diri dan kejayaan umat ini adalah tauhid yang murni hanya kepada
Allah, menjauhkan diri dan membersihkan hati dari semua bibit kesyirikan
termasuk diantaranya syirik kecil yang sesungguhnya adalah dosa besar.
Allahu
Akbar, walillahil hamd...
Kemudian
setelah itu jamaah yang mulia, bangunan pribadi mukmin harus ditegakkan
tiangnya dan tiang itu adalah SHALAT... Perbaikan
diri adalah shalat. Ya…shalat yang banyak dilalaikan oleh banyak
orang yang mengaku muslim.
Bukankah shalat
mencegah dari yang mungkar? Bukankah shalat adalah penguat jiwa? Bukankah
shalat adalah media paling indah seorang hamba berhubung denganRabbnya?
Melalaikan
shalat adalah kelalaian yang tiada terkira, maka upaya perbaikan diri harus
kita mulai dengan menegakkan shalat kita. Jadikan shalat sebagai warisan yang
paling berharga kepada anak dan cucu kita. Jangan sampai kita meninggalkan
dibelakang kita generasi yang menyia-nyiakan shalat.
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ
“Kemudian
datanglah setelah mereka generasi yang mengabaikan shalat dan memperturutkan
hawa nafsu.” (QS. Maryam: 59)
Mari
perhatikan lafal-lafal adzan...
Hayya
‘alas shalah... Mari
menuju shalat...
Hayya
‘alal falah... Mari
menuju kemenangan...
Betapa
shalat adalah pembuka kemenangan...
Jika
sebagian ummat masih saja lalai dan menyia-nyiakan ibadah yang terpenting ini,
barangkali sudah saat kita menggemakan GERAKAN HAYYA ‘ALASH
SHOLAAH.
Setiap
kita perlu meningkatkan kualitas shalat kita, dan bagi yang belum disiplin
menegakkannya. Sudah saatnya kembali menikmati indahnya shalat, indahnya
bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, Rabb yang telah menciptakannya.
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Di tengah
upaya perbaikan diri ini, cukup pantas mendapat perhatian kita adalah
kewaspadaan terhadap berbagai aliran sesat yang yang tidak membawa kepada umat
ini melainkan marabahaya dan berbagai kemudharatan, upaya perbaikan diri setiap
pribadi ummat sangat terganggu dengan berbagai pemikiran yang
menyimpang.
Betapa
tidak, di tengah upaya kita kembali kepada al-Qur’an, ternyata ada yang
mengatakan bahwa ada al-Qur’an lain yang berbeda dengan kita baca hari ini,
bahkan mereka menuduh bahwa al-Qur’an kita telah mengalami penyimpangan.
Di tengah
upaya kita kembali kepada As-Sunnah, ternyata ada yang mengatakan bahwa semua
sahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum– yang merupakan para periwayat
hadits-hadits Rasulullah kepada kita-telah murtad kecuali beberapa gelintir
saja.
Di tengah
upaya kita menjaga tatanan keluarga dan masyarakat, ternyata ada yang justru
memotivasi kalangan anak muda untuk melakukan nikah mut’ah alias kawin kontrak.
Dan tentu
saja kita tidak lupa, ada kelompok yang meyakini masih ada Nabi lain setelah
Nabi kita yang terakhir, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Wallahul
Musta’an Wa’alaihittuklaan...
Kaum
Muslimin hafidhakumullah
Semoga
perlindungan Allah selalu meliputi kita semua...
Dari
tempat yang mulia ini pula, di atas sepenggal bumi milik Allah kami serukan
ajakan kepada para pemimpin negeri ini -yang mendapat amanah untuk mengurus
sepenggal bumi itu beserta manusia-manusianya- mari kita bersama memperbaiki
diri-diri ini, karena keshalehan para pemimpin akan berbias pada
kepemimpinannya.
Marilah
kita tingkatkan rasa khauf (takut) kita pada Allah.
Mari kita berdamai dengan alam yang Allah karuniakan ini dengan menjalankan dan
menerapkan Syariat-Nya yang mulia dan indah,
karena sesungguhnya seluruh alam raya ini adalah makhluk-makhlukNya yang tunduk
pada ketentuan dan aturanNya.
Dan bagi
anda saudara kami para insan pers dan media, jadikan peran anda bagian dari
upaya perbaikan umat, jangan terperdaya dengan pragmatisme, apalagi upaya
terselubung menyudutkan dakwah Islam. Jadilah insan media yang menuntun dan
membimbing umat.
Allahu
akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha
Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…
Dan wahai
para guru kami tercinta, para Ustadz dan pembimbing jiwa kami, kepadamulah
setelah Allah bergantung kejayaan umat ini, mari kita membangun dan terus
memperbaki diri, jangan kita terlalaikan dengan rutinitas dakwah
sekalipun. Janganlah kita bagaikan lilin, menerangi sekitarnya
lalu luluh dan meleleh.
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ
“Apakah
engkau menyeru manusia (melakukan) kebajikan namun melupakan
diri-dirimu.” (QS. Al-Baqarah: 44)
Lalu
kepada para pemuda harapan umat, pemikul tanggung jawab kini dan hari esok:
jadilah pemuda-pemuda beriman yang tangguh, tantangan menantimu di
hadapan, dengan beribu macam dan ragamnya. Bekali diri dengan ilmu syar’iy yang
cukup, karena itulah pelita sejati yang menerangi jalanmu yang penuh dengan
onak dan duri, Jadikan Al-Qur’an di dadamu, yang selalu menghembuskan ruh iman
dan taqwa.
Kobarkan
selalu semangat jihad dan perjuangan di dadamu, jangan pernah redup apalagi
padam. Jadilah pemuda mukmin sejati yang berani dalam kecerdasannya, dan cerdas
dalam keberaniannya.
Allahu
Akbar walillahil hamd...
Lalu
kepada engkau para ibunda kami, ummahat yang mulia, perbaikan umat ini
tergadaikan di tanganmu, kesalehanmu adalah kesalehan umat ini, dan ketergelinciranmu
adalah ketergelinciran umat ini, mari bersama untuk tiada henti
menata diri, Umat menanti uluran tanganmu yang lembut nan tegar membina
generasi yang sholeh dan teguh.
Engkaulah
benteng keluarga yang tangguh, dan setiap engkau wahai para bunda
adalah pelabuhan jiwa bagi setiap suami dan anandamu, senyummu adalah mentari
yang terindah buat mereka, sapaanmu adalah embun tersejuk yang membasahi jiwa
mereka, engkau ada untuk mereka.
Wahai
saudari muslimah yang mulia, muliakan dirimu dengan menutup auratmu.Kemuliaanmu
ada pada jilbab. Jaga kehormatanmu, karena engkaulah perhiasan terindah dunia
ini dengan kesalehanmu.
Wahai
para mujahidah sejati, jadilah wanita pilihan, jadikan jiwamu selembut dan
setegar Khadijah, cerdasmu bagaikan Aisyah, sabarmu bagaikan Maryam,
keteguhanmu seperti Nusaibah, setiamu bagaikan Fatimah. Dan
cita-citamu adalah cita-cita Aasiah yang doanya abadi dalam kitab Ilahi:
رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Wahai
Tuhanku, buatkan bagiku sebuah rumah di sisiMu di dalam Surga.” (QS. Al-Tahrim:
11)
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…
Kaum
Mukminin Syarrafakumullah...
Setelah kita
menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh pada Ramadhan tercinta, Allah Azza wa
Jalla masih saja memuliakan kita dengan kesempatan menyempurnakan pahala puasa
kita senilai setahun penuh, dan itu “hanya” dengan menambahkan 6 hari berpuasa
di bulan Syawal, Sang Rasul tercinta shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ
الدَّهْرِ
“Barangsiapa
yang berpuasa ramadhan kemudian mengikutinya (dengan berpuasa) enam hari di
bulan Syawal, maka ia seperti telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Waktu
pelaksanaannya bisa dipilih di hari mana saja dari bulan syawal dan tidak harus
berturut- turut, dan bahkan sebagian ulama berpendapat bolehnya mendahulukan
puasa Syawal ini sebelum mengqadha’/mengganti puasa
Ramadhan. Semoga kita dapat memanfaatkan peluang emas ini, jangan sampai
tersia-siakan.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd…
Di hari
penuh rahmat Allah, saat kebahagian memenuhi dada kita, keharuan menyelimuti
hati kita, mari kita tundukkan jiwa dan raga seraya memohon dan berdoa kepada
Rab yang kuasaNya tiada batas, yang RahmatNya meliputi segala sesuatu:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ
بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ
أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً
كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ
مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم
Alhamdulillah,
segala puji bagimu Ya Allah, atas anugerah kehidupan, atas nikmat kesehatan,
atas iman dan hidayah. Atas segala karunia yang mengucur terus tiada terputus.
Ya Allah,
hari ini, di tempat ini kami berkumpul, kami hamba-hambamu yang penuh noda dan
dosa ini menengadahkan jiwa mengharap limpahan kasih dan sayangmu.
Wahai Rabb
kami yang Maha Pengampun, sungguh Engkau mencintai ampunan dan permohonan
ampun, maka ampunilah kami dari segala dosa dan kesalahan.
Ya Allah
Engkaulah Tuhan kami, tak ada yang berhak disembah melainkan Engkau, engkaulah
Pencipta kami, dan kami pun akan selalu menepati janji terhadapMu semampu kami.
Kami berlindung padaMu dari buruknya apa yang kami kerjakan, kami akui segala
nikmat yang Engkau karuniakan pada kami, walau kami akui pula segala dosa dan
salah kami padaMu. Ampunilah diri-diri ini Ya Allah, karena tiada yang dapat
mengampuni semua dosa itu melainkan Engkau.
Ya
Allah… Ya Rabbana, Ya Allah… Ya Ilahana...
Engkau
Maha Tahu akan segala apapun juga, tak ada yang dapat bersembunyi dari
pengawasan-Mu. Bersihkanlah jiwa-jiwa kami dengan embun rahmat-Mu, bersihkanlah
dengan salju putih kasih-Mu, hingga jiwa ini kembali putih bersih bagai kain
putih yang terbersih.
Wahai Rabb
kami Yang Maha Perkasa, Wahai Rabb kami Yang Maha Bijaksana.
Jagalah
negeri kami dan setiap negeri kaum muslimin dari setiap marabahaya, dari setiap
fitnah dan bencana, jangan Engkau timpakan hukuman pada kami karena dosa-dosa
kami.
Ya Allah,
kedua Ayah Ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami,
memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan
penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah
tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu
untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang
dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah
mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti
kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha
Mengabulkan Do’a.
Wahai Rabb
kami, Engkau Maha Tahu apa yang diderita saudara- saudara kami di berbagai
belahan bumiMu, Engkau Maha Tahu ya Ilaahana bahwa di tengah
desingan peluru, dentuman bom yang menggelegar, mereka tetap menyebut-Mu,
mereka tetap menyembah-Mu, mereka tetap menggelorakan seruan Laa ilaaha
illallah…
Ya Allah,
Rabb para mustadh’afin, penolong orang-orang tertindas, segerakan
pertolongan-Mu pada hamba-hamba-Mu yang beriman di Palestina, anugerahkan
ajaibnya kekuasaan-Mu buat para saudara kami di Syria, Enyahkan tirani kaum
sesat yang zalim dari negeri Syam yang mulia.
Ya
Allah, Ya Rabbana….Tak mungkin lepas dalam pengawasan-Mu, tak
mungkin hilang dari pengetahuanMu yang tiada berbatas apa yang diderita oleh
saudara kami di Burma, dengan kelembutan-Mu Ya Allah tolonglah mereka, basuhlah
setiap luka mereka dengan kasih dan sayang-Mu, runtuhkan segala angkara murka
dan kezhaliman dari negeri tumpah darah mereka. Hanya Engkau harapan kami…Ya
Rabb….
Duhai Rabb
kami yang Maha Penyayang, sayangilah para ustadz kami, para guru kami,
lindungilah mereka selalu dari segala marabahaya, tuntunlah langkah mereka
selalu di atas kebenaran, ampuni segenap khilaf mereka, berikanlah cahaya-Mu
yang dengannya mereka membimbing kami.
Allahumma…
Ya Allah, sungguh
kami hanyalah hamba-hambaMu, anak dari hamba-hamba-Mu jua, ubun-ubun kami di
Tangan-Mu, berlaku pada kami setiap ketentuan-Mu dan adil bagi kami putusan-Mu,
Ya Allah kami mohon pada-Mu dengan setiap namaMu, yang Engkau namakan diri-Mu
dengan-Nya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada
seorang hamba-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan ilmu ghaib-Mu, agar
Kau jadikan Al Qur’an penyejuk jiwa kami, cahaya dalam dada kami, pengusir
kesedihan kami, dan dengannya berlalu segala gundah-gulana kami.
Wahai Allah
yang menggenggam hati hamba-hambaNya, satukan hati ini dalam ketaatan pada-Mu,
himpunkan ia dalam cinta sejati karena-Mu, hilangkan segala benci dari
jiwa-jiwa beriman atas saudara-saudaranya, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang
bersaudara karenaMu dan hanya untuk-Mu.
Ya Allah Rabb
yang Maha Pemaaf, hiasi hati kami dengan kelapangan, kuatkan jiwa kami untuk
memberi maaf pada setiap saudara kami yang bersalah, karena Engkau Maha Tahu Ya
Allah dosa dan kesalahan kami pada-Mu.
Ya Allah
karuniakanlah pada keluarga dan anak-anak kami kesalehan yang menyejukkan
pandangan kami, hiasilah mereka dengan Al Qur’an di dada-dada mereka,
satukanlah kami di dunia-Mu ini dalam ketaatan dan himpunkan kami dalam
Surga-Mu yang kekal abadi.
رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ
وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ،
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
_______________________
(Sumber : http://wahdah.or.id)















