"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan

19 Juni 2016

Hijrahnya Kaum Muslimin ke Madinah

Setelah bai’at Aqabah kedua, mulailah kaum muslimin berhijrah ke Yatsrib yang di kemudian hari dikenal sebagai Madinah. Beberapa orang bahkan telah berhijrah sebelum terjadinya peristiwa bai’at Aqabah.

Dalam mimpinya, Rasulullah ﷺ telah diperlihatkan negeri tempat hijrahnya beliau dan para shahabatnya. Beliau berkata, “Aku melihat diriku berhijrah dari Makkah ke sebuah negeri yang padanya terdapat kebun-kebun kurma. Perkiraanku tempat itu adalah Yamamah atau Hajar, dan ternyata dia adalah kota Yatsrib.”[1]

Dalam riwayat lain beliau mengatakan, “Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tempat hijrah kalian, (negeri) yang memiliki kebun-kebun kurma diantara dua dataran tinggi.”[2]

Seakan-akan beliau pada permulaannya diperlihatkan tempat hijrahnya dengan sifat-sifat yang ada di Yatsrib dan kota lainnya. Tapi kemudian diperlihatkan sifat yang lebih khusus lagi sehingga beliau bisa mengenalinya.

Yang pertama kali berhijrah adalah Abu Salamah bin Abdil Asad al-Makhzumi setelah ia mendapatkan perlakuan buruk Quraisy setelah kembali dari Habasyah. Abu Salamah berhijrah bersama istri dan putranya, namun kaum dari Ummu Salamah menolak kepergiannya bersama suaminya itu. Demikian pula keluarga Abu Salamah akhirnya mengambil paksa anak Abu Salamah dari ibunya. Maka pergilah Abu Salamah seorang diri menuju Madinah, dan itu terjadi kurang lebih setahun sebelum peristiwa Aqabah. Pada akhirnya, mereka membebaskan Ummu Salamah dan anaknya untuk menyusul suaminya di Madinah setahun setelahnya.

Setelah Abu Salamah, ikut berhijrah pula Amir bin Rabi’ah dan istrinya, Laila bintu Abi Hatsmah, dan Abdullah bin Ummi Maktum.

Setelah terjadinya bai’at Aqabah kedua, mulailah kaum muslimin berhijrah secara sembunyi-sembunyi menghindari Quraisy. Maka datanglah Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash. Ammar bin Yasir dan kemudian Umar bin Khattab bersama 20 orang shahabat lainnya.

Kaum muslimin berhijrah seluruhnya dan tidak tersisa di Makkah kecuali Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, Ali, Zaid bin Haritsah dan orang-orang tertindas yang belum mampu untuk berhijrah.

——————————–

[1] HR. Al-Bukhary dan Muslim
[2]
HR. Al-Bukhary

09 Juni 2016

Bai’at Al-Aqabah Kedua

Setelah peristiwa bai’at Aqabah pertama, Rasulullah ﷺ mengirim Mush’ab bin Umair bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

Mush’ab tinggal di kediaman As’ad bin Zurarah, dan keduanya aktif mendakwahkan Islam kepada tokoh-tokoh Yatsrib.

Menjelang musim haji tahun berikutnya, Mush’ab kembali ke Makkah setelah berhasil mengislamkan sebagian besar penduduk Yatsrib.

Pada musim haji tahun ke 13 setelah kenabian, datanglah delegasi haji Yatsrib, baik yang telah memeluk Islam ataupun yang masih kafir.

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa mereka tidak akan membiarkan Rasulullah ﷺ tertindas di Makkah. Mereka menghubungi beliau secara diam-diam dan sepakat untuk bertemu di pertengahan hari-hari Tasyriq pada malam hari di sisi Jamrah al-Aqabah.

Berkumpullah mereka pada waktu yang ditentukan sebanyak 73 orang; 62 orang dari suku Khazraj dan 11 dari suku Aus. Bersama mereka terdapat 2 orang wanita yaitu Nusaibah bintu Ka’ab dari Bani Najjar dan Asma’ bintu ‘Amr dari Bani Salamah.

Maka datanglah Rasulullah ﷺ menjumpai mereka dan hadir bersama beliau pamannya al-Abbas bin Abdil Muththalib yang saat itu masih musyrik, namun ia ingin meyakinkan dirinya tentang keamanan dan kebaikan keponakannya dalam urusan ini.

Abbas yang pertama kali berbicara. Ia berkata, “Sesungguhnya Muhammad senantiasa berada dalam kemuliaan dari kaumnya dan terlindung di negerinya. Tapi ia tidak mau kecuali bergabung dan pergi bersama kalian. Jika kalian melihat bahwa kalian hanya akan menyerahkannya (kepada musuh) dan menghinakannya, maka dari sekarang tinggalkanlah ia, karena sungguh ia berada dalam kemuliaan dan perlindungan kaumnya di negerinya.”

Seorang dari mereka pun menjawab, “Kami telah dengarkan apa yang engkau ucapkan. Berbicaralah, wahai Rasulullah. Ambillah (dari kami) apa yang engkau suka untuk dirimu dan Rabb-mu!”

Maka berbicaralah Rasulullah ﷺ. Beliau membacakan al-Quran, mengajak kepada agama Allah dan memotivasi mereka kepada ajaran Islam. Kemudian beliau berkata, “Aku membai’at kalian agar kalian melindungiku dari apa yang kalian telah melindungi darinya istri-istri dan anak-anak kalian.”

Al-Bara’ bin Ma’rur langsung mengambil tangan Rasulullah ﷺ dan berkata, “”Iya, demi Rabb yang telah mengutusmu dengan kebenaran, kami akan melindungimu dari apa yang kami melindungi darinya keluarga kami. Ambillah bai’at kami. Demi Allah, kami adalah ahli dalam perang dan ahli menggunakan senjata, yang kami wariskan turun temurun dari leluhur kami.”

Perkataan al-Bara’ itu diputus oleh Abul Haitsam bin at-Taihan, yang berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan kaum itu (orang-orang Yahudi) ada perjanjian dan kami akan memutuskannya. Apakah andai saja kami melakukan itu dan kemudian Allah memenangkanmu, engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?”

Rasulullah ﷺ tersenyum dan berkata, “Darah dibalas darah, kehormatan dibalas kehormatan. Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari diriku. Aku perangi orang yang memerangi kalian dan aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.”

Kemudian Rasulullah ﷺ meminta mereka memilih 12 orang sebagai naqib (pemimpin) yang bertanggung jawab atas kaumnya; 9 dari Khazraj dan 3 dari Aus. Dan yang pertama kali memegang tangan Rasulullah ﷺ dalam bai’at tersebut adalah al-Bara’ bin Ma’rur –menurut sebagian pendapat- dan kemudian diikuti oleh yang lainnya.

Setelah pembai’atan selesai dan kaum tersebut hampir berpisah, salah satu syaitan menemukan mereka. Maka syaitan itu pun berteriak dengan sekeras-kerasnya, “Wahai penduduk negeri, apakah kalian memiliki urusan terhadap Muhammad sementara orang-orang murtad itu bersamanya?! Mereka telah berkumpul untuk memerangi kalian!”

Rasulullah ﷺ pun menyuruh mereka untuk bersegera kembali ke perkemahan mereka.

Berkata al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau mau, kami akan menyerang orang-orang di Mina besok dengan pedang kami!”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kami tidak diperintahkan untuk hal itu. Kembalilah ke perkemahan kalian.”

Mereka akhirnya kembali dan tidur hingga datang waktu pagi.

Di pagi hari, datanglah Quraisy ke perkemahan orang-orang Yatsrib untuk mempertanyakan berita yang mereka dengarkan tentang pertemuan sebagian orang-orang Yatsrib dengan Rasulullah ﷺ. Orang-orang musyrik Yatsrib berkata, “Itu adalah berita bohong. Tidak terjadi sesuatu pun!”, dan orang-orang yang telah masuk Islam hanya diam dan saling memandang.

Quraisy percaya dengan ucapan orang-orang musyrik tersebut dan kembali tanpa hasil.

Itulah peristiwa yang dikenal sebagai bai’at al-Aqabah kedua. Peristiwa ini adalah sebuah momentum besar dalam hidup Rasulullah ﷺ yang telah mengubah wajah sejarah perjuangan Islam di fase Makkah dan fase selanjutnya.

(Disarikan dari As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah dan Waqafat Tarbawiyyah fi As-Sirah An-Nabawiyyah)

29 Mei 2016

Bai’at Al-Aqabah Pertama

Pada musim haji tahun 11 setelah kenabian, Nabi ﷺ berkumpul di ‘Aqabah bersama enam orang dari penduduk Yatsrib, yang semuanya berasal dari suku Khazraj. Mereka adalah Abu Umamah As’ad bin Zurarah, ‘Auf bin al-Harits bin Rifa’ah (dikenal dengan nama ‘Auf bin ‘Afra’), Rafi’ bin Malik, Quthbah bin ‘Amir, ‘Uqbah bin ‘Amir dan Jabir bin Abdillah bin Ri’ab.

Nabi mengajak mereka kepada Islam dan mereka semuanya masuk Islam.

Mereka kemudian kembali ke Yatsrib dan mengajak kaumnya kepada Islam. Maka tersebarlah Islam di Yatsrib sehingga tidak tersisa satu rumah di Yatsrib melainkan dakwah Islam telah masuk kepadanya.

Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah 12 orang, sepuluh dari Khazraj, dan dua lainnya berasal dari suku Aus. Sepuluh orang Khazraj tersebut lima diantaranya adalah kelompok yang datang pada tahun sebelumnya kecuali Jabir bin Abdillah bin Ri’ab, sementara lima lainnya adalah Mu’adz bin al-Harits (saudara ‘Auf bin al-Harits) Dzakwan bin Abdil Qais, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah dan al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadhlah. Dan dua orang yang berasal dari Aus adalah Abul Haitsam bin at-Taihan serta ‘Uwaim bin Sa’idah.

Dzakwan tetap berdiam di Makkah hingga kemudian ia ikut berhijrah ke Madinah, sehingga ia dikenal sebagai seorang Anshar yang ikut berhijrah (muhâjirî anshârî).

Dua belas Anshar inilah yang berbai’at kepada Nabi ﷺ dan bai’at tersebut dikenal sebagai bai’ah al-‘aqabah al ûlâ (bai’at Aqabah pertama).

Adapun isi dari bai’at adalah apa yang diriwayatkan al-Bukhary dari Ubadah bin ash-Shamit bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada kelompok orang-orang tersebut, “Marilah berbai’at kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak mendatangkan kedustaan yang kalian ada-adakan diantara kedua tangan dan kaki kalian dan tidak membangkang kepadaku dalam perkara yang ma’ruf. Siapa diantara kalian yang setia (dengan perjanjian ini) maka dia berhak mendapatkan pahala dari Allah, dan siapa yang melakukan sesuatu darinya dan Allah menutupi aibnya maka urusannya dikembalikan kepada Allah; jika Dia berkehendak Dia akan menyiksanya dan jika Dia berkehendak maka Dia akan memaafkannya.” (terjemah HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Namun isi bai’at ini diingkari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu. Ia menguatkan bahwa isi bai’at ini adalah bai’at yang lain dan terjadi setelah penaklukan Makkah, bukan terjadi di malam peristiwa Aqabah yang pertama.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa isi bai’at pada malam Aqabah adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lain bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada kaum Anshar yang hadir pada saat itu, “Aku membai’at kalian agar kalian melindungiku dari perkara yang kalian akan melindungi istri-istri dan anak-anak kalian darinya.”; maka mereka pun membai’at beliau diatas perkara tersebut dan juga beliau dan sahabat-sahabatnya akan berhijrah ke negeri mereka.

Dan dalam riwayat Ahmad dan ath-Thabrani disebutkan perkataan Ubadah kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, engkau belum bersama kami saat kami membai’at Rasulullah ﷺ untuk taat dan mendengar dalam keadaan semangat atau malas, untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, untuk mengucapkan kebenaran tanpa takut -semata-mata karena Allah- dari celaan orang yang suka mencela, dan untuk membela Rasulullah ﷺ jika ia datang kepada kami di Yatsrib serta melindungi beliau dari perkara yang kami akan melindungi istri-istri dan anak-anak kami darinya dan untuk kami pahala surga. Itulah bai’at Rasulullah ﷺ yang kami membai’atnya diatas perkara tersebut.” (silahkan rujuk Fathul Bari, I/84-85, cet. As-Salafiyyah).

Setelah pembai’atan itu, Nabi ﷺ mengutus bersama mereka Mush’ab bin ‘Umair al-‘Abdari dan menyuruhnya untuk membacakan al-Quran kepada mereka dan mengajarkan Islam. Di Yatsrib, Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, radhiyallahu ‘anhum.

Wallahu a’lam.



(Sumber : As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah oleh Dr. Akram Al-Umari, Raudhah Al-Anwar fi Sirah An-Nabiyy Al-Mukhtar oleh Al-Mubarakfuri dan Waqafat Tarbawiyyah ma'a As-Sirah An-Nabawiyyah oleh Ahmad Farid)


20 Mei 2016

Peristiwa Isra’ & Mi’raj

Setelah perjalanan yang menyakitkan di Tha’if, terjadilah peristiwa Isra’ & Mi’raj sebagai salah satu mu’jizat dari Allah. Hal ini juga sebagai hiburan untuk Rasulullah ﷺ setelah peristiwa Tha'if dan kematian dua orang yang sangat disayanginya, Abu Thalib dan Khadijah.

Allah Ta’ala berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ ayat 1).

Dalam kitab ash-Shahîhain dari Anas ia berkata : Abu Dzarr menceritakan dari Rasulullah , beliau berkata (artinya), “Terbuka atap rumahku sementara aku berada di Makkah. Turunlah Jibril, ia membedah dadaku kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Kemudian Jibril datang dengan sebuah bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman, dan ia menuangkannya dalam dadaku kemudian menautkannya kembali. Kemudian ia mengambil tanganku dan membawaku naik ke langit dunia…

Riwayat-riwayat shahih lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah berada di Masjid Al-Haram, atau di Al-Hathim atau Al-Hijr di Ka’bah ketika dibedah dadanya dan dicuci hatinya.

Mungkin mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut bahwa beliau pada awalnya berada di rumahnya kemudian Jibril membawanya ke Masjid Al-Haram.

Tujuan dari pembedahan itu sendiri adalah untuk mengisi hati beliau dengan keimanan dan hikmah sebagai persiapan perjalanan beliau bersama Jibril.

Selesai pembedahan dada oleh dua Malaikat, Rasulullah diperjalankan menuju Baitul Maqdis di Al-Quds (Yerussalem) dengan mengendarai Burâq[1], dimana beliau shalat bersama para nabi dan beliau menyebutkan sifat-sifat mereka.[2]

Kemudian beliau dibawa naik menuju langit ketujuh dengan melewati langit-langit yang enam, dan berjumpa dengan para nabi; Adam, Yusuf, Idris, Isa, Yahya, Harun, Musa dan Ibrahim.

Beliau telah mendengarkan goresan pena para Malaikat, dan diwajibkan atasnya shalat sebanyak 50 kali dan kemudian diringankan menjadi 5 shalat dalam sehari.[3]

Beliau menyebutkan sifat Sidratul Muntahâ; buahnya sebesar bejana air dan daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah.[4]

Beliau menyebutkan sifat Al-Bait Al-Ma’mûr di langit ketujuh dan para Malaikat yang memasukinya.[5]

Beliau juga menyebutkan tentang sungai Al-Kautsar di Surga, kedua tepinya terdapat kubah-kubah mutiara yang lapang dan tanahnya terbuat dari kesturi yang sangat harum.[6]

Rasulullah ditanya jika beliau melihat Rabb-nya? Beliau berkata (artinya), “Cahaya… Bagaimana aku bisa melihat-Nya?![7]

Beliau juga menyebutkan apa yang dilihatnya dari sungai-sungai surgawi. Empat sungai; dua tersembunyi di dalam Surga, dan dua lainnya nampak dan keduanya adalah sungai Nil dan Eufrat.[8]

Beliau juga menjelaskan bahwa ia melihat Jibril 'alaihissalam dalam rupa aslinya dan Jibril memiliki enam ratus sayap.[9]

Saat Mi’raj, beliau melihat siksa orang-orang yang suka menggunjing (ghibah) manusia. Mereka memiliki kuku-kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka.[10]

Sebelum dinaikkan ke langit, Jibril membawakan gelas yang berisi arak dan gelas yang berisi susu serta gelas yang berisi madu. Beliau mengambil susu dan Jibril berkata, “Dia adalah fitrah.”[11]

Berita-berita ini ketika disampaikan kepada kaumnya, beliau dibenarkan oleh orang-orang mukmin dan didustakan oleh orang-orang musyrik. Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sungguh aku melihat diriku di Al-Hijr sementara Quraisy menanyaiku tentang perjalananku itu. Quraisy bertanya beberapa hal tentang Baitul Maqdis yang aku tidak mengetahuinya. Aku pun diliputi oleh kesusahan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.”

Beliau berkata (artinya), “Maka Allah mengangkatnya untukku hingga aku bisa melihatnya. Mereka tidak bertanya padaku tentang sesuatu melainkan aku sampaikan pada mereka beritanya.”[12]

Quraisy bingung dan keheranan, akan tetapi mereka terpaksa harus mengakui kebenaran perkataannya tentang Masjid Baitul Maqdis.[13]

Peristiwa ini di satu sisi merupakan hiburan dan ketenangan untuk Rasulullah , dan di sisi lain dia adalah fitnah bagi orang-orang kafir yang semakin bertambah kesombongan dan pembangkangannya.

Peristiwa ini terjadi dalam kenyataan dan kesadaran, yang dijalani oleh Rasullullah dengan ruh dan jasadnya. Terjadi hanya sekali saja selama hidupnya, dan peristiwa isra’ dan mi’raj juga dilakukan dalam satu malam. Demikian pendapat yang paling kuat dari jumhur ulama Islam.

Wallahu a’lam.

(Disadur dari kitab yang sangat bagus dalam sirah, As-Sîrah An-Nabawiyyah Ash-Shahîhah oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-Umari)

———————————–

Footnotes :

[1] Burâq adalah hewan putih yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal yang disebutkan oleh Nabi bahwa dia menjejakkan kakinya saat melompat sejauh pandangan matanya.

[2] HR. Al-Bukhary dan Muslim

[3] HR. Al-Bukhary dan Muslim, kumpulan dari riwayat keduanya

[4] HR. Ahmad dengan sanad yang shahih

[5] HR. Muslim

[6] HR. Al-Bukhary

[7] HR. Muslim

[8] HR. Al-Bukhary

[9] HR. Al-Bukhary dan Muslim. Dan kejadian itulah yang diisyaratkan firman Allah dalam surat An-Najm ayat 9-18

[10] HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shahih, dishahihkan Al-Albani

[11] HR. Al-Bukhary dan Muslim

[12] HR. Al-Bukhary dan Muslim

[13] HR. Ahmad dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh As-Suyuthi dan Al-Haitsami

28 April 2016

Rasulullah ﷺ Menuju Thaif

Setelah Abu Thalib wafat, Quraisy mulai berani menyakiti Rasulullah dengan apa yang tidak pernah mereka lakukan saat pamannya itu masih hidup.

Maka Rasulullah berinisiatif untuk pergi menuju Tha’if demi mencari dukungan dari kabilah Tsaqif dan mencari perlindungan mereka dari siksaan Quraisy, dengan harapan bahwa Tsaqif akan mau menerima dakwah yang ia emban dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Para pakar Sirah menyebutkan bahwa Tsaqif enggan untuk memenuhi dakwah Rasulullah . Mereka bahkan membujuk anak-anak mereka dan orang-orang bodohnya untuk melempari Rasulullah dengan batu.

Dari Urwah bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan padanya bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi : Apakah pernah datang padamu satu hari yang lebih berat daripada hari perang Uhud?

Beliau menjawab : Sungguh aku telah mendapatkan dari kaummu apa yang aku dapatkan, dan yang paling berat aku rasakan dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah[1], ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil ibnu Abdi Kulal[2], namun ia tidak menyambut apa yang aku inginkan. Aku pun beranjak pergi sementara aku merasakan kesedihan, dan aku tidak menyadari situasi hingga aku telah berada di Qarn Tsa’alib[3]. Aku mengangkat kepalaku dan ternyata awan telah menaungiku. Aku memandang dan ternyata padanya ada Jibril dan berseru kepadaku.

Jibril berkata : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan apa jawaban mereka terhadapmu. Sungguh Allah telah mengutus kepadamu Malaikat gunung untuk engkau memerintahkannya apa yang engkau suka terhadap mereka!”

Malaikat gunung berseru kepadaku, ia memberi salam dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu, dan aku adalah Malaikat gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau memerintahkan aku dengan perintahmu, apa yang engkau inginkan. Jika engkau mau, aku akan timpakan pada mereka al-Akhsyabain!”[4] 

Nabi menjawabnya : “Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang yang akan menyembah Allah semata, tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Ibnu Sa’ad menyebutkan dari jalan periwayatan Al-Waqidi[5] bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan Syawwal tahun kesepuluh setelah diutusnya beliau, dan setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. (Fathul Bary, VI/363)

Wallahu a'lam.

———————

[1] ‘Aqabah yang dimaksud berada di Tha’if, bukan ‘Aqabah Mina tempat berbai’atnya kaum Anshar terhadap Rasulullah
 
[2] Seorang pembesar Tha’if dari Bani Tsaqif

[3] Qarn Tsa’alib adalah juga Qarn al-Manazil, miqat penduduk Nejd

[4] Nama dua gunung di Makkah

[5] Al-Waqidi lemah dalam pandangan ulama ahli hadits

12 April 2016

Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah Ummul Mukminin

Tidak lama setelah Bani Hasyim meninggalkan Syi’b Abi Thalib, Nabi ditimpa musibah dengan wafatnya paman dan istri tercintanya di tahun yang sama, yaitu di akhir tahun kesepuluh setelah kenabian.

Abu Thalib -namanya adalah Abdu Manaf- adalah orang yang selalu melindungi Nabi dan membelanya, dan Quraisy sangat menghormatinya. Ketika sang paman meninggal, Quraisy tidak lagi segan untuk menyakiti Nabi .

Menjelang kematiannya, Nabi mendatanginya dan di sisinya telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah.

Nabi mengatakan, “Wahai Paman, ucapkan La ilaha illa_llahu, satu kalimat yang akan aku jadikan hujjah di sisi Allah.”

Berkata Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau benci terhadap agama Abdul Muththalib?”

Mereka berdua terus berbicara dengannya hingga akhirnya kata yang terakhir diucapkannya bahwa dia berada diatas keyakinan Abdul Muththalib. Dan Allah menurunkan firmanNya,

إنَّكَ لاَ تَهْدِيْ مَنْ أحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Qashash ayat 56).[1]

Pemikiran jahiliyah sangat lekat di akal Abu Thalib dan sulit untuk mengubah keyakinan yang diwarisinya dari nenek moyangnya, sementara kawan-kawannya juga hadir bersamanya dan memberikan pengaruh yang kuat untuk tetap bertahan dalam keyakinannya yang sesat.

Adapun Khadijah bintu Khuwailid, ia wafat sekitar dua atau tiga bulan setelah wafatnya Abu Thalib, di tahun yang sama, tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Menikahi Saudah Bintu Zam'ah

Setelah kematian Khadijah, pada bulan Syawwal tahun itu juga, Nabi menikahi Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha.

Saudah termasuk generasi pertama Islam, ikut berhijrah ke Habasyah dalam hijrah yang kedua, dan suaminya, as-Sakran bin ‘Amr, meninggal dunia di Habasyah atau setelah kembali ke Makkah.[2]

——————

[1] Riwayat lengkapnya terdapat dalam Shahih al-Bukhary dan Shahih Muslim
[2] Disarikan dari berbagi sumber

30 Maret 2016

Pemboikotan dan Pengucilan

Setelah kegagalan Quraisy mengembalikan kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah, yang membuat Quraisy semakin marah dan semakin keras menyiksa kaum muslimin, Quraisy pun bertekad membunuh Rasulullah ﷺ.

Bani Abdil Muththalib dan Bani Hasyim akhirnya bersepakat memasukkan Rasulullah ﷺ ke syi’b (lembah) mereka yang dikenal sebagai syi’b Abi Thalib dan melindunginya di dalamnya. Mereka pun masuk seluruhnya, muslimnya dan kafirnya.

Orang-orang musyrik membuat kesepakatan untuk tidak duduk bersama mereka, tidak bercampur dengan mereka, tidak berjual beli dengan mereka dan tidak akan memasuki rumah-rumah mereka hingga mereka menyerahkan Rasulullah ﷺ untuk dibunuh. Quraisy menuliskan sebuah piagam untuk pemboikotan itu dan Bani Hasyim pun tinggal dalam syi’b selama tiga tahun hingga mereka ditimpa oleh kelaparan dan kesulitan yang tidak terkira.

Setelah tiga tahun berlalu dari masa pemboikotan dan pengucilan, beberapa tokoh Quraisy menyesalkan tindakan itu dan bersepakat untuk merobek piagam tersebut. Sementara Rasulullah ﷺ telah mengabarkan mereka sebelum itu bahwa piagam tersebut tidak tersisa darinya kecuali kata-kata syirik dan kezaliman. Dengan demikian, berakhirlah pemboikotan itu yang berakhir pada tahun kesepuluh dari masa kenabian.

Rasulullah ﷺ pernah mendoakan keburukan terhadap orang-orang kafir Quraisy dan terjadilah kemarau dan paceklik hingga mereka memakan bangkai dan kulit. Maka datanglah Abu Sufyan kepada Rasulullah ﷺ memohon padanya atas nama jalinan kekerabatan agar beliau mendoakan hilangnya keburukan tersebut. Rasul pun berdoa kepada Rabb-nya agar menghilangkan azab itu, namun kemudian mereka justru kembali kepada pengingkarannya. Kisah inilah yang diabadikan Allah penyebutannya dalam surat ad-Dukhan ayat 10-15.

(Sumber : as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, dengan ringkas)

10 Maret 2016

Hijrah ke Habasyah II

Ketika sampai berita kepada kaum muslimin di Habasyah bahwa penduduk Makkah telah memeluk Islam, sebagian mereka kembali ke Makkah dan mereka dapatkan bahwa berita itu tidak seperti yang mereka dengarkan.

Mereka akhirnya kembali lagi ke Habasyah dan ikut bersama mereka kelompok lain yang ikut menuju Habasyah. Itulah yang disebut sebagai hijrah kedua. Jumlah mereka lebih dari 80 orang laki-laki selain wanita dan anak-anak.

Para pembesar Quraisy mengirim ‘Amr bin al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah dengan membawa hadiah untuk Najasyi dan uskup-uskupnya. Mereka bertemu Najasyi dan memintanya untuk mengembalikan kaum muslimin yang telah berhijrah ke negerinya. Najasyi mengirim utusan kepada kaum muslimin untuk memanggil mereka dan menanyakan tentang agama mereka.

Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang mewakili para muhajirin di Habasyah, “Wahai Raja, kami dahulu adalah kaum yang berada diatas kesyirikan. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai, buruk dalam bertetangga dan menghalalkan yang haram. Sebagian kami atas sebagian yang lain saling menumpahkan darah dan selainnya. Kami tidak menghalalkan sesuatu dan tidak juga mengharamkannya. Dan Allah mengutus kepada kami seorang nabi dari kaum kami sendiri, yang kami kenali kesetiaannya, kejujurannya dan amanahnya. Ia mengajak kami untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun, menjalin silaturrahim, baik dalam bertetangga, shalat dan puasa, dan tidak menyembah yang selain Dia.”

Najasyi berkata, “Apakah bersamamu ada sesuatu dari ajaran yang dibawanya?”, dan ia telah memanggil para uskupnya dan membuka kitab-kitab mereka di sekelilingnya.

Ja’far berkata, “Iya.”

Ia berkata, “Tolong bacakan untukku apa yang dibawanya itu!”

Ja’far membacakan untuknya permulaan surat Kâf Hâ Yâ’ ‘Ain Shâd[1], maka Demi Allah, menangislah Najasyi hingga basahlah jenggotnya, dan menangislah para uskupnya hingga membasahi kitab-kitab mereka.

Kemudian Najasyi berkata, “Sungguh, perkataan seperti ini berasal dari sumber yang telah datang bersamanya Musa… Pergilah kalian dalam damai…”

Ketika usaha pertama itu gagal untuk mengembalikan kaum muslimin ke Makkah, pada hari berikutnya ‘Amr bin al-‘Ash mencoba untuk meributkan sikap kaum muslimin terhadap Isa ‘alaihissalam. Ia berkata kepada Najasyi, “Wahai Raja, mereka telah mengatakan perkataan yag buruk tentang Isa…”
 
Najasyi kembali mengirim utusan untuk mendatangkan mereka dan menanyai mereka. Ja’far menjawab, “Kami katakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusannya, kalimatNya dan ruh (dari)Nya yang Dia sampaikan kepada Perawan Maryam.”

Najasyi lalu mengambil sebuah batang kayu di tanah dan berkata, “Tidaklah Isa putra Maryam melampaui apa yang engkau katakan melebihi batang kayu ini!”

Dan Najasyi memberikan jaminan keamanan untuk kaum muslimin di negerinya, dan mereka pun tinggal bersama sebaik-baik tetangga di sebaik-sebaik negeri, sebagaimana ungkapan yang diucapkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.[2]

———————————

Footnotes :              

[1] Surat Maryam
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanad yang hasan kepada Ummu Salamah.

(Sumber : as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, I/172-174 dengan ringkas)

31 Januari 2016

Kisah Berhala Al-Gharânîq

Setelah berhijrahnya sebagian kaum muslimin ke Habasyah, terjadilah sebuah peristiwa ketika Rasulullah sedang shalat di Masjid al-Haram, beliau membaca surat an-Najm dan bersujud pada ayat sajdah, dan ikut bersujud pula semua orang yang ada saat itu kecuali dua orang yang sombong. Dengan kejadian ini, tersebarlah berita bahwa orang-orang Quraisy telah masuk Islam.

Riwayat-riwayat mursal yang shahih menyebutkan dari para perawinya, yaitu Sa’id bin Jubair, Abu Bakr bin Abdirrahman dan Abul ‘Aliyah, bahwa syaitan telah menyelipkan kepada lisan Rasulullah  dalam bacaannya itu ungkapan,

تلك الغرانيق العلا، وإن شفاعتهن لترتجى

“Itulah al-Gharaniq yang tinggi. Dan sesungguhnya, syafaat merekalah yang diharapkan.”

Apa yang disebutkan para perawi yang tsiqah (sangat terpercaya) tersebut bertentangan dengan ‘ishmah (kema’shuman) Nabi dalam persoalan wahyu, dan bertentangan dengan tauhid yang merupakan prinsip dasar aqidah Islam.
 
Karenanya, riwayat-riwayat ini tertolak matan (isi hadits)nya walaupun andaikan datang dari jalan periwayatan yang banyak, karena ketiga perawi tersebut meriwayatkannya dari beberapa orang syaikh.

Sangat mungkin sujudnya orang-orang musyrik bersama Rasulullah dikarenakan rasa takut disebabkan oleh apa yang telah mereka dengarkan tentang kehancuran umat-umat terdahulu.

Wallahu a'lam.

(Dari kitab as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, I/171-172 dengan ringkas)

17 Januari 2016

Hijrah ke Habasyah

Hijrah ke Habasyah pertama kali terjadi pada bulan Rajab tahun kelima setelah kenabian menurut pendapat banyak ulama.

Jumlah mereka yang berhijrah adalah 12 orang laki-laki dan 4 wanita. Pemimpin mereka adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan ikut besertanya juga istrinya, Ruqayyah putri Rasulullah ﷺ.

Ikut dalam rombongan tersebut; Abu Salamah dan istrinya, Ummu Salamah; Abu Sabrah bin Abi Ruhm dan istrinya, Ummu Kultsum; Amir bin Rabi’ah dan istrinya, Laila; Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah dan istrinya, Sahlah bintu Suhail; Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, Mush’ab bin Umair, Suhail bin al-Baidha’ dan az-Zubair bin al-Awwam. Sebagian besar mereka berasal dari Quraisy.

Ketika tiba di pantai Laut Merah, mereka menyewa sebuah kapal yang menyeberangkan mereka ke tempat tujuan, dan berdiam di Habasyah dalam damai dan aman dari penindasan orang-orang musyrik di bawah perlindungan seorang raja Nasrani yang adil dan kemudian masuk Islam, an-Najasyi.


Termasuk shahabat yang berniat hijrah ke Habasyah adalah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Ketika ia sampai di Bark al-Ghimad, ia berjumpa dengan Ibnu ad-Daghinnah, penghulu suku al-Qârrah. Ibnu ad-Daghinnah bertanya, “Akan kemana engkau, wahai Abu Bakr?”

Abu Bakr menjawab, “Kaumku telah mengusirku dan aku ingin berjalan di muka bumi agar bisa beribadah kepada Rabb-ku.”

Ibnu ad-Daghinnah berkata, “Orang yang sepertimu tidak boleh keluar dan tidak layak dikeluarkan. Engkau suka membantu orang yang susah, menjalin silaturrahim, menanggung beban, menjamu tamu dan membantu dalam kebenaran. Aku memberimu jaminan keamanan. Kembalilah, dan beribadahlah kepada Rabb-mu di negerimu!”

Kembalilah Abu Bakr bersama Ibnu ad-Daghinnah yang mengumumkan jaminannya untuk Abu Bakr kepada Quraisy. Orang-orang Quraisy sepakat dengan jaminan itu dengan syarat Abu Bakr beribadah dalam rumahnya dan tidak terang-terangan.

Waktu pun berlalu, dan mulailah Abu Bakr membaca al-Quran di halaman rumahnya. Para wanita dan anak-anak berkumpul mengagumi bacaannya dan memperhatikannya. Abu Bakr adalah seorang yang lembut dan mudah menangis. Ia tidak akan sanggup menahan air matanya saat membaca al-Quran.

Quraisy pun panik dengan kejadian itu dan meminta Ibnu ad-Daghinnah untuk mencegahnya. Ibnu ad-Daghinnah memberikannya pilihan untuk menyembunyikan ibadahnya atau mengembalikan jaminannya. Abu Bakr akhirnya mengembalikan jaminannya dan berkata, “Aku kembalikan jaminanmu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah.”

Semoga Allah meridhainya, dan meridhai para shahabat Nabi ﷺ.
 
(Disadur dari as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, Dr. Akram Dhiya' al-'Umari)

03 Desember 2015

Penindasan terhadap Kaum Muslimin di Makkah

Tidak cukup hanya dengan tuduhan batil, pendustaan dan menyakiti Rasulullah ﷺ, Quraisy bahkan menunjukkan puncak kekejian dan kebengisannya, khususnya terhadap orang-orang lemah dari kaum muslimin.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu : Yang pertama kali menampakkan keislamannya tujuh orang; Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, Ammar dan ibunya, Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
Adapun Rasulullah ﷺ, maka Allah melindunginya dengan perantaraan pamannya. Abu Bakr, dilindungi oleh kaumnya.

Yang sisanya, mereka ditangkap orang-orang musyrik, dipakaikan baju besi dan dipanggang di bawah terik matahari. Tidak ada seorang pun dari orang-orang lemah itu kecuali diperlakukan sesuka hati mereka, kecuali Bilal. Jiwanya begitu murah dalam menanggung siksaan karena Allah dan juga murah dalam pandangan kaumnya, dan akhirnya mereka menyerahkannya kepada anak-anak yang mengambilnya dan mengaraknya di lembah Makkah sementara Bilal hanya mengatakan, “Ahad… Ahad…!”[1]

Abu Bakr akhirnya membeli Bilal dan membebaskannya.[2]

Urwah menyebutkan bahwa Zunairah hilang penglihatannya, dan ia termasuk satu dari orang-orang yang disiksa karena Allah, namun ia enggan kecuali berpegang teguh pada Islam. Orang-orang musyrik berkata, “Tidak ada yang memberikan penyakit pada matanya kecuali  al-Laat dan al-‘Uzza!” Ia berkata, “Apakah demikian?! Demi Allah, bukanlah seperti itu!” Maka Allah kemudian mengembalikan penglihatannya.[3]

Abu Bakr radhiyallahu 'anhu suka membebaskan orang-orang lemah dari budak-budak muslim. Ayahnya, Abu Quhafah, berkata, “Kalau engkau membebaskan para lelaki yang kuat niscaya mereka akan melindungimu.” Abu Bakr menjelaskan bahwa ia melakukan semata-mata mengharapkan Wajah Allah, bukan mencari perlindungan. Maka turunlah ayat,

فأمَّا مَن أعْطَى واتَّقىَ وَصَدَّقَ بالحُسْنىَ فَسَنُيَسِّرُهُ لِليُسْرىَ

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”; sampai pada firmanNya,

وَمَا لِأحَدٍ عِنْدَهُ مِن نِعْمَةٍ تُجْزىَ إلاّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلىَ وَلَسَوْفَ يَرْضىَ

Padahal, tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.”[4]

Riwayat-riwayat yang banyak juga menyebutkan tentang berbagai siksaan yang menimpa Ammar dan keluarganya, dan itu cukup sebagai penguat untuk menetapkan kisah tersebut dari sisi sejarah. Para ahli tafsir juga menyebutkan bahwa ayat,

إلاّ مَن أكْرهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنُّ بالإيْمَانِ

Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).”[5]; turun berkait dengan Ammar.[6]

Termasuk yang disiksa karena Allah adalah Khabbab bin al-Aratt, sampai-sampai ia meminta agar Rasul ﷺ berdoa kepada Allah untuk memberi keringanan dan pertolongan bagi orang-orang yang lemah.

Khabbab berkata : Aku mendatangi Rasulullah ﷺ sementara ia sedang (berbaring) beralaskan selimut, di bawah bayangan Ka’bah. Dan kami telah mendapatkan siksaan dari orang-orang musyrik. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau berdoa untuk kami?”

Beliau pun duduk dengan wajah yang memerah. Beliau ﷺ bersabda, “Sungguh ada orang sebelum kalian yang disisir dengan sisir besi yang merobek daging dan urat yang membungkus tulangnya. Hal itu sama sekali tidak memalingkannya dari agamanya. Sungguh, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini sehingga seorang pengendara akan berjalan dari Sana’a ke Hadhramaut, dia tidak takut kecuali kepada Allah![7]


Tidak diragukan lagi bahwa kaum muslimin, walaupun mereka dalam posisi yang lemah, mereka pun punya keinginan untuk membela diri. Dan yang nampak, sikap diam kaum muslimin telah membuat sebagian mereka marah, khususnya para pemudanya. Abdurrahman bin ‘Auf dan kawan-kawannya pernah mendatangi Nabi ﷺ, mereka berkata, “Wahai Nabiyyullah, kami dahulu dalam kemuliaan ketika kami masih musyrik. Ketika kami beriman, kami justru menjadi hina?!”

Beliau ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk memaafkan. Jangan sekali-kali kalian memerangi kaum itu!

Ketika Allah telah menyelamatkan beliau ke Madinah dan memerintahkan mereka berperang, mereka justru enggan. Maka Allah turunkan ayat,

ألَمْ تَرَ إلىَ الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُم كُفُّوا أيْدِيَكُم

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : Tahanlah tanganmu (dari berperang)![8].[9]

Rasulullah ﷺ memerintahkan para shahabatnya untuk menahan diri dan bersabar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, permusuhan dengan permusuhan, demi untuk menjaga hidup mereka dan keberlangsungan dakwah di masa mendatang. Beliau ﷺ sangat menjaga agar dakwah yang baru itu tidak hancur oleh kekuatan musuh yang sangat menginginkan terjadinya bentrokan antara dua kekuatan tersebut yang dengannya mereka akan menyelesaikan urusan ini. Akan tetapi, kebijaksanaan dakwah Islam telah menggugurkan maksud mereka itu.[10]

————————

[1] HR. Ahmad dengan sanad yang hasan

[2] HR. Al-Bukhary dan Ibnu Syaibah

[3] Ibnu Ishaq, as-Siyar wa al-Maghazi, dari riwayat mursal Urwah bin az-Zubair

[4] QS. Al-Lail ayat 5-21

[5] An-Nahl ayat 106

[6] Ath-Thabari dalam Tafsir (XIV/182) dengan sanad yang hasan dari mursal Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir

[7] HR. Al-Bukhary

[8] QS. An-Nisa ayat 77. Ayat ini turun di Madinah, dan mengisyaratkan apa yang terjadi di Makkah dahulu ketika diperintahkan untuk tidak berperang

[9] Ath-Thabari dalam Tafsir (V/170-171)

[10] Disadur dari as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, Dr. Akram Dhiya’ al-Umari. Untuk mengetahui hal yang berkait dengan keshahihan/kelemahan riwayat-riwayat dalam Sirah Nabawiyah, disarankan merujuk ke buku tersebut

24 Oktober 2015

Ujian yang Menimpa Rasul ﷺ dalam Fase Dakwah Jahriyah

Dimulainya fase dakwah secara terang-terangan telah menyebabkan kemarahan besar dari pihak Quraisy. Keyakinan batil mereka yang telah diwariskan secara turun temurun, sangat dipahami telah memberi faedah besar bagi Quraisy dalam mewujudkan kepentingan sosial dan ekonomi mereka. Kepemimpinan Quraisy terhadap Makkah dan Ka’bah yang dikelilingi oleh 360 berhala telah memberikan keuntungan besar bagi para pembesar-pembesar Quraisy melalui perdagangan dalam kedudukan Makkah sebagai jalur transit antara Syam dan Yaman, dan juga penghormatan bangsa Arab terhadap Quraisy. Karenanya, Quraisy melakukan segala cara yang mungkin untuk menghalangi berkembangnya dakwah Islam di kalangan bangsa Arab.

Penindasan Quraisy terhadap Rasulullah dan para shahabatnya dilakukan dengan berbagai macam cara, dari cacian secara terang-terangan sampai siksaan secara fisik.

Abdullah bin Mas’ud menceritakan : Ketika Rasulullah sedang berdiri shalat di sisi Ka’bah, dan sekelompok orang Quraisy sedang berada di majelis mereka, seseorang diantara mereka berkata : “Tidakkah kalian melihat kepada orang yang suka pamer itu? Siapa yang akan pergi kepada ternak keluarga fulan, mengambil kotoran, darah dan isi perutnya, dia datangkan, dan menunggu sampai orang itu sujud dan dia letakkan diantara kedua pundaknya?” Maka berdirilah orang yang paling celaka diantara mereka, dan ketika Rasulullah  bersujud, ia letakkan kotoran itu diantara pundak beliau. Nabi  diam tetap bersujud, dan mereka tertawa sampai-sampai sebagiannya miring kepada sebagian lainnya karena tertawa. Seseorang kemudian pergi kepada Fathimah, saat itu Fathimah masih gadis kecil, dan ia datang dengan bersegera. Nabi tetap dalam sujudnya sampai Fathimah menyingkirkan kotoran itu, dan kemudian Fathimah mendatangi mereka dan mencaci mereka. Ketika Rasulullah  menyelesaikan shalatnya, beliau berdoa : “Ya Allah, balaslah Quraisy.. Ya Allah, balaslah Quraisy.. Ya Allah, balaslah Quraisy!!

Kemudian beliau menyebut : “Ya Allah, balaslah ‘Amr bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu’ith dan Umarah bin al-Walid!

Berkata Abdullah bin Mas’ud : Demi Allah! Aku telah melihat mereka tewas pada hari perang Badar, kemudian diseret ke sumur, yaitu sumur Badar, kemudian Rasulullah bersabda : “Dan kutukan mengikut penghuni sumur.”[1]

Urwah bin az-Zubair pernah bertanya kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash : Ceritakan padaku hal terburuk yang pernah dilakukan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah .

Abdullah berkata : Ketika Rasulullah  sedang shalat di pelataran Ka’bah, tiba-tiba datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith. Ia memegang pundak Rasulullah dan melingkarkan kainnya di lehernya dan mencekiknya dengan kuat. Datanglah Abu Bakr memegang pundak Uqbah dan mendorongnya dari Rasulullah  sambil berkata,

أتَقْتُلُونَ رَجُلاً أن يَقولَ رَبّيَ الله وقدْ جَاءَكمْ بالبَيّنَاتِ مِن رَبِّكُمْ

Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan : Rabbku adalah Allah? Padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (QS. Ghafir ayat 28).[2]

Cacian dan ejekan terhadap Rasullah dan dakwahnya juga menjadi salah satu cara yang ditempuh orang-orang musyrik dalam perang kata-kata untuk memalingkan manusia dari dakwah Islam.

Abu Jahl pernah berkata dengan mengejek : “Ya Allah, jika ini adalah kebenaran dari sisiMu, maka turunkanlah kepada kami hujan batu dari langit atau datangkan kepada kami azab yang pedih!” Maka turunlah ayat,

وَمَا كانَ الله ليُعَذِبَهُم وَأنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كانَ اللهُ مُعَذّبَهُم وَهُمْ يَسْتغْفِرُونَ، وَمَا لَهُم ألا يُعَذِبَهمُ الله وَهُم يَصُدّونَ عَن المَسْجدِ الحَرَامِ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram…” (QS. Al-Anfal ayat 33-34).[3]

Siksaan dan penindasan terhadap Rasulullah sampai pada usaha mereka untuk membunuhnya di akhir fase dakwah makkiyah yang merupakan sebab utama terjadinya hijrah ke Madinah.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma : Sekelompok Quraisy berkumpul di al-Hijr (Hijr Isma’il di Ka’bah), dan mereka bersumpah atas nama al-Lat, al-‘Uzza dan Manat yang ketiga yang “Jika kita melihat Muhammad, kita akan menyerangnya dengan sekali serang, dan kita tidak akan melepaskannya sampai membunuhnya!”
 
Fathimah datang dengan menangis dan masuk kepada ayahnya. Ia berkata : “Mereka itu dari kaummu di al-Hijr telah bersumpah jika mereka melihatmu, mereka akan menyerang dan membunuhmu. Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan dia sudah mengetahui bagiannya dari darahmu.”

Beliau berkata : “Wahai putriku, dekatkan untuk ayah air wudhu itu!

Beliau berwudhu kemudian mendatangi mereka di Masjid (al-Haram). Ketika melihatnya, mereka berkata : “Itu dia!”, dan mereka menundukkan pandangan mereka. Mereka diam di tempat-tempat duduk mereka dan sama sekali tidak mengangkat pandangan mereka. Tidak seorang pun dari mereka yang berdiri.

Rasulullah datang sampai beliau berdiri diatas kepala-kepala mereka. Beliau mengambil segenggam tanah dan menaburkannya sambil berkata : “Wajah-wajah yang buruk!

Berkata Ibnu Abbas : Tidaklah debu menimpa salah seorang dari mereka melainkan orang itu terbunuh di hari perang Badar dalam keadaan kafir.[4] Peristiwa seperti ini -yaitu beliau menaburkan pasir ke wajah-wajah orang-orang kafir- kembali berulang di malam hijrah.


Jika saja demikian kelancangan Quraisy terhadap Rasulullah  yang sangat dihormati dan memiliki kedudukan di kaumnya, maka bagaimana lagi dengan keadaan para Shahabat yang mulia? Terutama orang-orang lemah diantara mereka.

Kami akan sebutkan –insyaallah- sebagian dari kisah mereka sebagai “hiburan” bagi para da’i yang mengajak kepada Allah di zaman yang penuh dengan ujian kemewahan hidup, yang barangkali saja mampu sedikit mengokohkan kaki-kaki mereka diatas jalan ini, dan memberikan mereka sedikit kekuatan. Wallahul musta’an.

—————————

Footnotes :
[1] HR. Al-Bukhary dan Muslim
[2]
HR. Al-Bukhary
[3]
HR. Al-Bukhary dan Muslim
[4]
HR. Ahmad dengan dua sanad yang shahih sebagaimana disebutkan Ahmad Syakir

20 September 2015

Permulaan Fase Dakwah Jahriyyah

Fase dakwah jahriyyah adalah fase dakwah secara terang-terangan setelah tiga tahun lamanya dakwah tersebut hanya dilakukan secara diam-diam pada orang-orang tertentu saja. Dakwah Islam  adalah dakwah universal untuk kebaikan manusia dan seluruh alam. Tidak ada yang perlu disembunyikan kecuali dalam suatu kondisi tertentu yang sangat terpaksa dilakukan untuk keselamatan dakwah dan para pengikutnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata :

Ketika turun ayat,

وَأنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأقْرَبِيْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’ ayat 214); Nabi ﷺ naik ke atas bukit Shofa dan menyeru, “Wahai Bani Fihr,, Wahai Bani Adi,,” –yaitu klan-klan suku Quraisy- hingga mereka akhirnya berkumpul. Sampai-sampai jika seseorang tidak mampu untuk datang, dia akan mengutus orang untuk melihat apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan Quraisy.

Beliau ﷺ berkata, “Bagaimana pendapat kalian andai aku kabarkan pada kalian bahwa pasukan berkuda di lembah ini ingin menyerang kalian; apakah kalian akan membenarkan aku?” mereka menjawab, “Iya! Kami tidak pernah mengetahui dari dirimu kecuali kejujuran.” Beliau berkata, “Sungguh, aku ini adalah seorang pemberi peringatan, dihadapanku ada adzab yang pedih!”
 
Berkata Abu Lahab, “Celakalah engkau sepanjang hari! Untuk ini engkau mengumpulkan kami?!”

Maka turunlah,

تَبّتْ يَدَى أبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia telah binasa. Tidaklah berfaedah untuknya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [1]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata :

Ketika Allah menurunkan,

وَأنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأقْرَبِيْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’ ayat 214); Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy –atau kata yang semacamnya-, belilah diri-diri kalian[2], aku tidak mampu mencukupi kalian dengan sesuatu pun dari (murka dan azab) Allah. Wahai Abbas bin Abdil Muththalib, aku tidak mampu melindungimu sedikitpun dari (azab) Allah. Wahai Shafiyyah -bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla-, aku tidak mampu melindungimu sedikitpun dari (azab) Allah. Wahai Fathimah bintu Muhammad, mintalah apa yang engkau inginkan dari hartaku, aku tidak mampu melindungimu sedikitpun dari (azab) Allah!”[3]

Orang-orang yang beriman ketika dakwah itu dimulai telah berjumlah lebih dari 40 orang. Pada fase dakwah jahriyyah ini, ikut bergabung dalam agama Allah, Hamzah bin Abdil Muththalib dan Umar bin al-Khaththab, radhiyallahu ‘anhuma.

—————

[1] HR. Al-Bukhary dalam Kitâb at Tafsîr, dan Muslim dalam Kitâb al Îmân

[2] Perkataan beliau ﷺ : “Belilah diri-diri kalian dari Allah”, yaitu membebaskannya dari Neraka. Seakan beliau ingin mengatakan : “Berislamlah kalian, niscaya kalian akan selamat dari azab.” Seakan-akan mereka menjadikan ketaatan itu sebagai harga bagi keselamatan.

[3] HR. Al-Bukhary dalam Kitâb at Tafsîr, dan Muslim dalam Kitâb al Îmân

31 Agustus 2015

Masuk Islamnya Sekelompok Jin


Rasulullah Muhammad ﷺ diutus untuk dua alam, jin dan manusia. Jin adalah makhluk yang tertutup dari pandangan manusia, walaupun mereka memiliki kemampuan untuk membentuk wujud yang bermacam-macam.

Al-Quran dan as-Sunnah telah memberitakan tentang sekelompok jin yang melihat Rasulullah ﷺ di Nakhlah ketika beliau sedang menuju Ukkazh –dan sebelumnya, bangsa jin telah dihalang-halangi untuk mencuri-curi berita di langit dan mereka berpencar ke seluruh penjuru bumi untuk mencari sebabnya. Mereka mendengarkan beliau membaca al-Quran ketika mengimami shahabat-shahabatnya pada shalat Fajar, mereka beriman padanya dan kembali kepada kaumnya dan berkata,

إنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إلىَ الرُشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أحَدًا

Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn ayat 1-2)

Maka Allah akhirnya menurunkan kepada nabiNya surat al-Jinn.

Allah hanya mewahyukan kepadanya perkataan jin dan beliau tidak melihat mereka dan tidak juga sengaja memperdengarkan al-Quran kepada mereka. Setelah peristiwa itu, jin mengundang Rasulullah ﷺ sekali lagi ketika beliau sedang berdiam di luar Makkah dengan beberapa shahabatnya. Beliau pun pergi bersama mereka, memperdengarkan al-Quran kepada mereka dan memperlihatkan kepada para shahabat jejak-jejak mereka dan bekas api-api mereka.





(Sumber : as-Sîrah an-Nabawiyyah ash-Shahîhah, Dr. Akram Dhiya’ al-Umari)


05 Agustus 2015

Fase Dakwah Sirriyyah

Dakwah Islam di Makkah dimulai secara sembunyi-sembunyi untuk menghindarkan fitnah dan bentrok terbuka dengan orang-orang Quraisy yang tidak menyukai dakwah Islam. Fase ini bermula dengan turunnya firman Allah Ta’ala,

يَا أيّهَا المُدّثّرْ، قُمْ فَأنْذِرْ، وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Rabb-mu agungkanlah.” (QS. Al-Mudatstsir ayat 1-3)

firmanNya,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأعْرِضْ عَنِ المُشْرِكِيْنَ

Dan sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr ayat 94)

Dan firmanNya,

وَأنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأقْرَبيْنَ، وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتّبَعَكَ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ، فَإنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إنِّيْ بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُوْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah : Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Asy-Syu’araa ayat 214-216)

Ibnu Ishaq dan al-Waqidi menyebutkan bahwa fase ini berlangsung selama tiga tahun. Nabi berusaha keras untuk mendakwahi orang yang dominan dalam persangkaannya akan mau menerima agama ini dan merahasiakannya. Ini adalah strategi untuk kemaslahatan dakwah.

Beliau mengajak istrinya, Khadijah, dan mendakwahi sahabat dekatnya, Abu Bakr bin Abi Quhafah. Dengan berkah keislaman Abu Bakr, masuklah ke dalam agama ini sekelompok orang yang diberkahi, generasi awal dari kelompok yang mula-mula masuk dalam agama Allah (as Sâbiqûn al Awwalûn), radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Diantara mereka itu adalah Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf az-Zuhri, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka ini, yang masuk Islam melalui tangan Abu Bakr, termasuk sepuluh Shahabat yang dijamin Surga.
 
Yang mula-mula memeluk agama Allah dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib yang saat itu berumur delapan tahun atau lebih sedikit dari itu. Termasuk dalam anugerah kemuliaan untuknya karena ia berada dalam asuhan Rasulullah . yang pertama masuk Islam dari kalangan budak dan hamba sahaya adalah Zaid bin Haritsah, orang yang sangat dicintai Rasulullah .

Setelah mereka, masuk ke dalam agama Allah ini gelombang berikutnya yang menyusul dalam kebahagiaan iman dan ibadah. Generasi Islam yang sangat mulia, diantaranya Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Sa’id bin Zaid, Khabbab bin al-Arats, Abdullah bin Mas’ud, Asma’ dan Aisyah, dua putri Abu Bakr, radhiyallahu ‘anhum. Aisyah saat itu masih seorang gadis kecil, sementara Asma telah menikah dengan az-Zubair bin al-Awwam.

Kemudian gelombang berikutnya lagi; Ja’far bin Abi Thalib bersama istrinya Asma’ bintu Umais, al-Arqam bin Abi al-Arqam, Utsman bin Madzh’un, Ammar bin Yasir dan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, radhiyallahu ‘anhum.

Dakwah pada fase ini tidak dilakukan secara terang-terangan di tempat-tempat perkumpulan atau majelis-majelis. Semuanya dilakukan secara personal dan bersandar pada kepandaian da’i dalam melihat peluang dalam diri mad’unya.

Pada fase Makkah ini juga -sebagaimana terlihat dari nama-nama generasi permulaan para shahabat- Islam tersebar di semua klan suku-suku Quraisy secara merata dan tidak secara khusus menjadi bagian suku tertentu saja. Fenomena ini jelas menyelisi karakter kehidupan kesukuan di kota Makkah saat itu.

Abu Bakr berasal dari Bani Taim, Utsman dari Bani Umayyah, az-Zubair dari Bani Asad, Ali dari Bani Hasyim, Abdurrahman bin Auf dari Bani Zuhrah, Sa'id bin Zaid dari Bani Adiy, Utsman bin Madzh'un dari Bani Jumah, dan bahkan sebagian mereka pada fase dakwah ini bukan berasal dari Quraisy.

Abdullah bin Mas'ud dari Hudzail, Ammar bin Yasir dari 'Ans dari Mudzhij, Zaid bin Haritsah dari Bani Kalb, 'Amr bin 'Abasah dari Sulaim, Shuhaib dari Bani an-Namr bin Qasith.

Sejak permulaan dakwah, telah jelas bahwa Islam tidak khusus untuk penduduk Makkah dan Quraisy.