Sponsors

28 April 2016

Rasulullah ﷺ Menuju Thaif

Setelah Abu Thalib wafat, Quraisy mulai berani menyakiti Rasulullah dengan apa yang tidak pernah mereka lakukan saat pamannya itu masih hidup.

Maka Rasulullah berinisiatif untuk pergi menuju Tha’if demi mencari dukungan dari kabilah Tsaqif dan mencari perlindungan mereka dari siksaan Quraisy, dengan harapan bahwa Tsaqif akan mau menerima dakwah yang ia emban dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Para pakar Sirah menyebutkan bahwa Tsaqif enggan untuk memenuhi dakwah Rasulullah . Mereka bahkan membujuk anak-anak mereka dan orang-orang bodohnya untuk melempari Rasulullah dengan batu.

Dari Urwah bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan padanya bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi : Apakah pernah datang padamu satu hari yang lebih berat daripada hari perang Uhud?

Beliau menjawab : Sungguh aku telah mendapatkan dari kaummu apa yang aku dapatkan, dan yang paling berat aku rasakan dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah[1], ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil ibnu Abdi Kulal[2], namun ia tidak menyambut apa yang aku inginkan. Aku pun beranjak pergi sementara aku merasakan kesedihan, dan aku tidak menyadari situasi hingga aku telah berada di Qarn Tsa’alib[3]. Aku mengangkat kepalaku dan ternyata awan telah menaungiku. Aku memandang dan ternyata padanya ada Jibril dan berseru kepadaku.

Jibril berkata : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan apa jawaban mereka terhadapmu. Sungguh Allah telah mengutus kepadamu Malaikat gunung untuk engkau memerintahkannya apa yang engkau suka terhadap mereka!”

Malaikat gunung berseru kepadaku, ia memberi salam dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu, dan aku adalah Malaikat gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau memerintahkan aku dengan perintahmu, apa yang engkau inginkan. Jika engkau mau, aku akan timpakan pada mereka al-Akhsyabain!”[4] 

Nabi menjawabnya : “Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang yang akan menyembah Allah semata, tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Ibnu Sa’ad menyebutkan dari jalan periwayatan Al-Waqidi[5] bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan Syawwal tahun kesepuluh setelah diutusnya beliau, dan setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. (Fathul Bary, VI/363)

Wallahu a'lam.

———————

[1] ‘Aqabah yang dimaksud berada di Tha’if, bukan ‘Aqabah Mina tempat berbai’atnya kaum Anshar terhadap Rasulullah
 
[2] Seorang pembesar Tha’if dari Bani Tsaqif

[3] Qarn Tsa’alib adalah juga Qarn al-Manazil, miqat penduduk Nejd

[4] Nama dua gunung di Makkah

[5] Al-Waqidi lemah dalam pandangan ulama ahli hadits

0 tanggapan:

Posting Komentar