Sponsors

24 Oktober 2015

Ujian yang Menimpa Rasul ﷺ dalam Fase Dakwah Jahriyah

Dimulainya fase dakwah secara terang-terangan telah menyebabkan kemarahan besar dari pihak Quraisy. Keyakinan batil mereka yang telah diwariskan secara turun temurun, sangat dipahami telah memberi faedah besar bagi Quraisy dalam mewujudkan kepentingan sosial dan ekonomi mereka. Kepemimpinan Quraisy terhadap Makkah dan Ka’bah yang dikelilingi oleh 360 berhala telah memberikan keuntungan besar bagi para pembesar-pembesar Quraisy melalui perdagangan dalam kedudukan Makkah sebagai jalur transit antara Syam dan Yaman, dan juga penghormatan bangsa Arab terhadap Quraisy. Karenanya, Quraisy melakukan segala cara yang mungkin untuk menghalangi berkembangnya dakwah Islam di kalangan bangsa Arab.

Penindasan Quraisy terhadap Rasulullah dan para shahabatnya dilakukan dengan berbagai macam cara, dari cacian secara terang-terangan sampai siksaan secara fisik.

Abdullah bin Mas’ud menceritakan : Ketika Rasulullah sedang berdiri shalat di sisi Ka’bah, dan sekelompok orang Quraisy sedang berada di majelis mereka, seseorang diantara mereka berkata : “Tidakkah kalian melihat kepada orang yang suka pamer itu? Siapa yang akan pergi kepada ternak keluarga fulan, mengambil kotoran, darah dan isi perutnya, dia datangkan, dan menunggu sampai orang itu sujud dan dia letakkan diantara kedua pundaknya?” Maka berdirilah orang yang paling celaka diantara mereka, dan ketika Rasulullah  bersujud, ia letakkan kotoran itu diantara pundak beliau. Nabi  diam tetap bersujud, dan mereka tertawa sampai-sampai sebagiannya miring kepada sebagian lainnya karena tertawa. Seseorang kemudian pergi kepada Fathimah, saat itu Fathimah masih gadis kecil, dan ia datang dengan bersegera. Nabi tetap dalam sujudnya sampai Fathimah menyingkirkan kotoran itu, dan kemudian Fathimah mendatangi mereka dan mencaci mereka. Ketika Rasulullah  menyelesaikan shalatnya, beliau berdoa : “Ya Allah, balaslah Quraisy.. Ya Allah, balaslah Quraisy.. Ya Allah, balaslah Quraisy!!

Kemudian beliau menyebut : “Ya Allah, balaslah ‘Amr bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu’ith dan Umarah bin al-Walid!

Berkata Abdullah bin Mas’ud : Demi Allah! Aku telah melihat mereka tewas pada hari perang Badar, kemudian diseret ke sumur, yaitu sumur Badar, kemudian Rasulullah bersabda : “Dan kutukan mengikut penghuni sumur.”[1]

Urwah bin az-Zubair pernah bertanya kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash : Ceritakan padaku hal terburuk yang pernah dilakukan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah .

Abdullah berkata : Ketika Rasulullah  sedang shalat di pelataran Ka’bah, tiba-tiba datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith. Ia memegang pundak Rasulullah dan melingkarkan kainnya di lehernya dan mencekiknya dengan kuat. Datanglah Abu Bakr memegang pundak Uqbah dan mendorongnya dari Rasulullah  sambil berkata,

أتَقْتُلُونَ رَجُلاً أن يَقولَ رَبّيَ الله وقدْ جَاءَكمْ بالبَيّنَاتِ مِن رَبِّكُمْ

Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan : Rabbku adalah Allah? Padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (QS. Ghafir ayat 28).[2]

Cacian dan ejekan terhadap Rasullah dan dakwahnya juga menjadi salah satu cara yang ditempuh orang-orang musyrik dalam perang kata-kata untuk memalingkan manusia dari dakwah Islam.

Abu Jahl pernah berkata dengan mengejek : “Ya Allah, jika ini adalah kebenaran dari sisiMu, maka turunkanlah kepada kami hujan batu dari langit atau datangkan kepada kami azab yang pedih!” Maka turunlah ayat,

وَمَا كانَ الله ليُعَذِبَهُم وَأنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كانَ اللهُ مُعَذّبَهُم وَهُمْ يَسْتغْفِرُونَ، وَمَا لَهُم ألا يُعَذِبَهمُ الله وَهُم يَصُدّونَ عَن المَسْجدِ الحَرَامِ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram…” (QS. Al-Anfal ayat 33-34).[3]

Siksaan dan penindasan terhadap Rasulullah sampai pada usaha mereka untuk membunuhnya di akhir fase dakwah makkiyah yang merupakan sebab utama terjadinya hijrah ke Madinah.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma : Sekelompok Quraisy berkumpul di al-Hijr (Hijr Isma’il di Ka’bah), dan mereka bersumpah atas nama al-Lat, al-‘Uzza dan Manat yang ketiga yang “Jika kita melihat Muhammad, kita akan menyerangnya dengan sekali serang, dan kita tidak akan melepaskannya sampai membunuhnya!”
 
Fathimah datang dengan menangis dan masuk kepada ayahnya. Ia berkata : “Mereka itu dari kaummu di al-Hijr telah bersumpah jika mereka melihatmu, mereka akan menyerang dan membunuhmu. Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan dia sudah mengetahui bagiannya dari darahmu.”

Beliau berkata : “Wahai putriku, dekatkan untuk ayah air wudhu itu!

Beliau berwudhu kemudian mendatangi mereka di Masjid (al-Haram). Ketika melihatnya, mereka berkata : “Itu dia!”, dan mereka menundukkan pandangan mereka. Mereka diam di tempat-tempat duduk mereka dan sama sekali tidak mengangkat pandangan mereka. Tidak seorang pun dari mereka yang berdiri.

Rasulullah datang sampai beliau berdiri diatas kepala-kepala mereka. Beliau mengambil segenggam tanah dan menaburkannya sambil berkata : “Wajah-wajah yang buruk!

Berkata Ibnu Abbas : Tidaklah debu menimpa salah seorang dari mereka melainkan orang itu terbunuh di hari perang Badar dalam keadaan kafir.[4] Peristiwa seperti ini -yaitu beliau menaburkan pasir ke wajah-wajah orang-orang kafir- kembali berulang di malam hijrah.


Jika saja demikian kelancangan Quraisy terhadap Rasulullah  yang sangat dihormati dan memiliki kedudukan di kaumnya, maka bagaimana lagi dengan keadaan para Shahabat yang mulia? Terutama orang-orang lemah diantara mereka.

Kami akan sebutkan –insyaallah- sebagian dari kisah mereka sebagai “hiburan” bagi para da’i yang mengajak kepada Allah di zaman yang penuh dengan ujian kemewahan hidup, yang barangkali saja mampu sedikit mengokohkan kaki-kaki mereka diatas jalan ini, dan memberikan mereka sedikit kekuatan. Wallahul musta’an.

—————————

Footnotes :
[1] HR. Al-Bukhary dan Muslim
[2]
HR. Al-Bukhary
[3]
HR. Al-Bukhary dan Muslim
[4]
HR. Ahmad dengan dua sanad yang shahih sebagaimana disebutkan Ahmad Syakir

0 tanggapan:

Posting Komentar