Sponsors

13 November 2016

Aqidah Ahlussunnah tentang Al-Quran Al-Karim

Ahlussunnah wal Jama’ah beriman bahwa Al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah, hurufnya dan maknanya. Dari-Nya bermula dan kepada-Nya dia akan kembali. Diturunkan bukan sebagai makhluk ciptaan. Allah mengucapkannya dengan hak, mewahyukannya kepada Jibril, dan Jibril ‘alaihissalam membawanya turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Quran diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan lisan Arab yang jelas. Dinukil kepada kita dengan jalan periwayatan yang mutawatir, yang tidak tersentuh oleh keraguan sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِيْنَ، عَلىَ قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ اْلمُنْذِرِيْنَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ

"Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu’arâ’ ayat 192-195)
 
Al-Quran Al-Karim tertulis dalam Al-Lauh Al-Mahfûdzh, dihafalkan dalam dada, terbaca oleh lisan dan dicatat dalam lembaran. Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِى صُدُوْرِ الَّذِيْنَ أُوتُوا اْلعِلْمَ

"Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ankabût ayat 49).

Dan firman-Nya,

إنَّهُ لَقٌرْآنٌ كَرِيْمٌ، فِى كِتَابٍ مَكْنُوْنٍ، لَا يَمَسُّهُ إِلَّا اْلمُطَهَّرُوْنَ، تَنْزِيْلٌ مِن رَّبِّ اْلعَالَمِيْنَ

"Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam." (QS. Al-Wâqi’ah ayat 77-80)

Al-Quran adalah mu’jizat terbesar yang abadi bagi Nabi Islam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia adalah kitab samawi yang terakhir. Tidak akan dihapus dan diganti. Allah telah menanggung penjagaannya dari segala bentuk perubahan, tambahan atau pengurangan sampai Dia mengangkatnya kembali menjelang Hari Kiamat nanti.

Allah Ta’ala berfirman,

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr ayat 9)

Al-Quran tidak diturunkan sekaligus kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, diturunkan berangsur-angsur sesuai dengan kejadian tertentu, atau sebagai jawaban atas pertanyaan, atau sesuai dengan tuntutan keadaan selama 23 tahun.

Al-Quran terdiri atas 114 surat; 86 diantaranya diturunkan di Mekkah dan 28 diturunkan di Madinah.

Al-Quran telah ditulis di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan pengawasan beliau. Dimana beliau memiliki penulis-penulis wahyu dari kalangan sahabat-sahabat pilihan radhiyallahu ‘anhum, yang menuliskan setiap apa yang turun dari Al-Quran dan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian di masa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah mushaf, dan di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dikumpulkan dalam satu bacaan.

  
Ahlussunnah wal Jama’ah sangat peduli dengan pengajaran Al-Quran, hafalan, tilawah (bacaan) dan tafsir serta pengamalannya.

Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shâd ayat 29)

Mereka beribadah kepada Allah dengan membacanya, karena pada bacaan setiap hurufnya ada satu kebaikan sebagaimana yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

من قرأ حرفًا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، ولا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألف حرفٌ، و لام حرفٌ، و ميم حرفٌ

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, baginya satu kebaikan dengan satu huruf tersebut. Dan satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf; akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak membolehkan penafsiran Al-Quran dengan logika semata-mata, karena hal itu termasuk berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu dan termasuk perbuatan syaitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ، إِنَّمَا يَأمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلىَ اللهِ مَالَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah ayat 168-169) 

Bahkan mereka menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri, kemudian dengan Sunnah, kemudian dengan perkataan Sahabat, kemudian dengan perkataan Tabi’in, dan kemudian dengan bahasa Arab yang dengannya Al-Quran diturunkan.

Wa bi_Llâhi at-taufîq.

------------------

Sumber :

Al-Wajîz fî ‘Aqîdah As-Salaf Ash-Shâlih, Ahl As-Sunnah wa Al-Jamâ’ah, Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Cet. Dar Ar-Rayah, 1425 H.

0 tanggapan:

Posting Komentar