Sponsors

16 Desember 2012

Bahlul

Ini bukan tentang manusia bahlul[1] yang bodoh. Bukan sama sekali. Tapi ini adalah tentang seorang murid Imam Malik bin Anas rahimahullahu. Namanya Bahlul bin Rasyid Al-Qairawani. Engkau harus tahu, ia adalah seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara'. Semua orang tahu itu. Tapi negerinya sungguh jauh. Di ujung barat Benua Afrika. Tepatnya di sebuah kota bernama Qairawan. Namun kisahnya sungguh mengagumkan...

Berikut ini adalah salah satunya...

***

Hari itu tiba sepucuk surat yang ditujukan kepada Bahlul bin Rasyid. Surat dari seorang wanita. Namun bukan siapa-siapa. Bukan istri atau kerabat. Surat itu datang dari negeri yang sangat jauh. Samarkand, Khurasan. Untuk kesana, engkau harus melintasi Baghdad, menyeberangi sungai Eufrat hingga nyaris tiba di bumi Allah bernama Afghanistan. Sungguh jauh... Bayangkanlah berapa jarak waktu yang mengantarkan surat itu hingga tiba di hadapan Bahlul bin Rasyid. Pastilah demi sesuatu yang begitu penting.

Bahlul memandang surat itu sebentar. Lalu membukanya.

"Dari seorang wanita di Tanah Samarkand, Khurasan.

Tuan,

Aku pernah mengalami sebuah penyakit kejiwaan. Tidak seorang pun yang mengalaminya kecuali aku. Namun aku kemudian bermohon kepada Allah agar disembuhkan dari penyakit ini dan aku pun disembuhkan. Aku pun beribadah dan tenggelam di dalamnya. Lalu aku bertanya kepada orang-orang tentang siapakah gerangan ahli ibadah yang masih tersisa di muka bumi ini. Padaku diberikanlah empat nama, dan salah satunya adalah Anda, Tuan Bahlul...

Karena itu, aku menulis surat ini kepada Anda. Aku minta pada Anda, Demi Allah, berdoalah kepadaNya agar Dia melanggengkan nikmat beribadah ini padaku untuk selamanya..."

Tiba-tiba saja surat itu terlepas dan jatuh dari tangan Bahlul. Tangannya gemetar. Dan ia sendiri menyungkurkan wajahnya ke tanah. Ia menangis tersedu-sedu. Begitu sedihnya, hingga membasahi surat yang telah terlebih dahulu jatuh...

Murid-murid dan sahabat-sahabatnya hanya diam terpaku, tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

"Duhai Bahlul...," tiba-tiba saja Sang ahli ibadah yang zuhud itu berbicara pada dirinya sendiri. "Tidakkah engkau lihat, seorang wanita dari Samarkand mengirim surat padamu?!! Ia mengira engkau seorang hamba yang shalih... Duhai betapa celakanya engkau, jika saja Allah tidak menutupi semua aib-aibmu... Sungguh betapa celakanya engkau..."

***

Hmm, jika engkau mencari seorang manusia yang cerdas dan berakal, maka seperti itulah sesungguhnya manusia berakal itu...

-------------------

[1] Secara harfiah, dalam bahasa Arab "bahlul" itu artinya bodoh

Oleh : Muhammad Ihsan Zainuddin, "Tangannya telah Berada di Surga", hal. 75-78.

0 tanggapan:

Posting Komentar