Sponsors

10 Desember 2016

Jika Andai Mencintainya, Amalkan Sunnahnya

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi yang tercinta ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin? Maka beliau menjawab,

ذَلِكَ يَوْمَ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمَ بُعِثْتُ أوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku.”

Beliau ﷺ mengabarkan bahwa dirinya dilahirkan pada hari Senin, walaupun sebenarnya beliau tidak ditanya tentang hal itu. Akan tetapi beliau tidak menyebutkan tanggal lahirnya dan para shahabat pun tidak bertanya tentang tanggal tersebut, sementara mereka adalah orang-orang yang sangat antusias untuk mengerjakan kebaikan, karena pengetahuan tentang tanggal lahir itu tidak berkonsekuensi pada apapun.

Andai pengetahuan tentang hal itu memiliki konsekuensi syar’i dan kebaikan untuk umatnya, niscaya beliau tidak akan pernah menyembunyikannya dari umatnya.

Kalau memang seorang muslim benar-benar mencintai Nabi ﷺ, maka amalkan sunnahnya dengan berpuasa pada hari Senin, karena beliau ﷺ menyukai puasa pada hari tersebut, dengan dua alasan yang disebutkan dalam hadits Muslim di atas dan juga alasan ketiga, bahwa hari Senin –dan juga Kamis- adalah hari dimana amal-amal dihadapkan kepada Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda,

تُعْرَضُ الأعْمَالُ يَوْمَ الإثْنَيْنِ وَالخَمِيْس، فَأُحِبُّ أنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأنَا صَائِمٌ

Amal-amal dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka jika amalku diperlihatkan sementara aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi, dan diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i dari haditsnya Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dan diriwayatkan juga oleh An-Nasa’i dari Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha).

Semoga Allah menguatkan hati kita di atas sunnah nabi-Nya dan mewafatkan kita di atas sunnah tersebut.

Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âlihi wa shahihbihi ‘ajma’în.

0 tanggapan:

Posting Komentar