05 Juli 2011
Titian Pertama
Titian pertama itu bernama Tauhid. Ia adalah fokus utama dakwah seluruh rasul ‘alaihimussalam, ia adalah kunci awal keselamatan, sekaligus sebagai penentu akhir titian seseorang. Mungkin surga dan mungkin pula neraka; semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai ahli surga dan menyelamatkan kita dari neraka..Mengesakan Allah dalam seluruh keberhakan-Nya; demikianlah Tauhid.
Baik keberhakan-Nya untuk dijadikan sebagai sesembahan yang tunggal (disebut dengan Tauhid Uluhiyyah), dan itulah inti tauhid; atau keberhakan-Nya sebagai penguasa mutlak di jagad raya, yang menciptakan, mengatur, memberi rezki, menghidupkan, mematikan, memutuskan perkara, dan yang semisalnya (disebut sebagai Tauhid Rububiyyah); atau keberhakan-Nya sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki nama dan sifat-sifat yang maha sempurna, tidak serupa dengan satupun makhluk yang berada di alam raya ini (itulah Tauhid al-Asmâ’ wa ash-Shifât).
Tauhid Uluhiyyah adalah inti tauhid. Dinyatakan demikian, karena jenis tauhid inilah yang merupakan pokok dakwah sekalian rasul. Intisarinya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan meniadakan sesembahan-sesembahan batil yang selain-Nya. Demikianlah makna “Lâ ilâha illa_llâh”, kalimat tauhid, yang merupakan tugas utama para rasul untuk menyampaikannya. Allah Ta’ala berfirman :
ولقد بعثنا فى كل أمةٍ رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut!”. [terjemah QS. 16 : 36]
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدوني
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku!”. [terjemah QS. 21 : 25]
Kaum musyrikin terdahulu, bukanlah kaum yang ingkar akan keberadaan Allah Ta’ala, atau mengingkari bahwa Dia-lah yang menghidupkan, mematikan, memberi rezki dan yang semacamnya. Allah Ta’ala berfirman :
قل من يرزقكم من السماء والأرض أمّن يملك السمع والأبصار ومن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحيّ ومن يدبّر الأمر، فسيقولون الله فقل أفلا تتقون
“Katakanlah :‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’.
Maka mereka akan menjawab :’Allah’.
Maka katakanlah :’Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)’.” [QS. 10 : 31]
Asal keyakinan yang demikianlah yang menyebabkan mereka kembali kepada Allah semata, ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Allah Ta’ala berfirman :
وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين
“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, (ketika itu) mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. [terjemah QS. 31 : 32]
Itulah pelajaran penting dari kaum kafir Quraisy. Mereka tidak pernah mengingkari keberadaan Allah, bahkan mereka meyakini kekuasaan-Nya, berdoa kepada-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Hal ini menyisakan sebuah pertanyaan,”Adakah keyakinan mereka itu menyebabkannya masuk kedalam Islam, dan selamat dari kehinaan abadi?”. Kenyataannya tidaklah demikian. Justru Allah mengutus rasul-Nya untuk mengarahkan mereka dari penyimpangan kepada jalan yang benar.
Kalau demikian, apa gerangan penyimpangan itu?.. Simaklah keterangan Allah tentang hal tersebut :
وعجبوا أن جاءهم منذرٌ منهم، وقال الكافرون هذا ساحرٌ كذّابٌ
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :’Ia itu adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” [terjemah QS. 38 : 4]
Mereka heran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang beliau serukan kepada mereka. Keheranan yang mengisyaratkan pengingkaran dan diwujudkan dengan tuduhan mereka bahwa beliau adalah seorang tukang sihir yang banyak berdusta.
Apa yang mereka ingkari?... Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat selanjutnya :
أجعل الآلهة إلهًا واحدًا، إن هذا لشيئٌ عجابٌ
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. [terjemah QS. 38 : 5]
Pokok yang mereka ingkari ternyata adalah penafian terhadap seluruh sesembahan mereka selain Allah semata. Mereka tidak ingin jika sembahannya hanya Allah saja. Mereka memperserikatkan Allah dalam penyembahan dan peribadatan.
Demikianlah inti kesesatan mereka, hingga Allah mengutus rasul-Nya dengan membawa agama yang benar, agama tauhid, agama yang mewajibkan umatnya untuk mempersembahkan seluruh peribadatan mereka –shalat, puasa, sujud, ruku’, al-mahabbah (cinta), al-khauf (takut), ar-raja’ (pengharapan), penyembelihan, nadzar, dan lain-lain-; seluruhnya hanya untuk Allah semata.
Tidak dipersembahkan untuk pohon keramat, penguasa laut, batu dan keris bertuah, tokoh pujaan, kiyai, orang mati, jin dan segala sesuatu yang selain Dia subhanahu wa ta’ala.
Maka, sudahkah kita memurnikan tauhid kita? Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dalam meniti jalan perjuangan Dakwah Tauhid yang panjang ini, memaafkan segala yang tersalah dan menutupnya dengan rahmat serta karunia-Nya..
(Majalah al-Bashirah, edisi 05 th. II, 1428/2007 dengan sedikit perubahan)
04 Juli 2011
SAAT BENCANA ITU DATANG
Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya yang sempurna dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu akan menguji para hamba-Nya dengan kelapangan dan kesempitan, dengan kenikmatan dan bencana, untuk menguji kesabaran dan rasa syukur mereka. Siapa yang bersabar saat ditimpa musibah, bersyukur saat dianugerahi kenikmatan, tunduk kepada Allah ketika terjadi musibah, mengakui dosa-dosa dan kekurangannya, memohon rahmat dan ampunan Allah, maka sungguh dia telah beruntung dengan keuntungan yang sangat besar.
ألم، أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون، ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan :’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [terjemah QS. 29:1-2]
Allah menguji para hamba dengan berbagai macam ujian kebaikan maupun keburukan sehingga jelas orang yang benar imannya dari yang dusta, sehingga jelas orang yang bersabar dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :
وبلوناهم بالحسنات والسيئات لعلهم يرجعون
وبلوناهم بالحسنات والسيئات لعلهم يرجعون
“Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” [terjemah QS. 7:168]
Yang dimaksud dengan kebaikan dalam ayat tersebut adalah segala kenikmatan berupa kelapangan hidup, kesehatan, kemuliaan, kemenangan atas musuh dan lain-lain. Sementara yang dimaksud dengan keburukan adalah segala musibah, penyakit, musuh yang berkuasa, badai, banjir dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman :
ظهر الفساد فى البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
ظهر الفساد فى البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [terjemah QS. 30:41]
Makna ayat ini adalah : Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan serta apa yang nampak dari kerusakan tersebut, agar manusia kembali kepada kebenaran, bersegera untuk bertaubat dari apa yang diharamkan Allah dan kembali kepada ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada rasul-Nya. Karena kekufuran dan maksiat adalah sebab dari segala bencana dan keburukan di dunia dan akhirat.
Adapun men-tauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, taat kepada kepada Allah dan rasul-Nya, berpegang teguh kepada Syari’at-Nya, berdakwah kepada Syari’at-Nya dan mengingkari orang yang menyelisihinya merupakan sebab segala kebaikan di dunia dan akhirat. Demikian pula, sikap komitmen diatas prinsip-prinsip tersebut, saling berwasiat dan tolong-menolong diatasnya merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat serta keselamatan dari segala bencana dan fitnah. Allah Ta’ala berfirman :
يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [terjemah QS. 47:7]
ولينصرنّ الله من ينصره، إن الله لقوي عزيز، الذين إن مكناهم فى الأرض أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، ولله عاقبة الأمور
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar, dan kepada Allah kembali segala urusan” [terjemah QS. 22:40-41]
Bencana Alam
Kita telah mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini dari berbagai macam fitnah dan bencana. Orang-orang kafir yang berkuasa di Palestina, Afghanistan dan Irak, banjir di Pakistan, dan berbagai macam bencana alam yang terjadi di negeri kita tercinta. Semua bencana dan musibah ini merupakan ujian dari Allah untuk para hamba disebabkan oleh kekufuran dan kemaksiatan, menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah dan terjerumus kepada dunia dan kenikmatannya yang fana, serta lupa untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan akhirat.
Tidak diragukan bahwa musibah yang seperti ini mewajibkan seluruh hamba untuk bersegera bertaubat kepada Allah. Bersegera kepada ketaatan kepadanya dan saling tolong menolong dalam ketakwaan, berwasiat dalam kebenaran dan bersabar diatas kebenaran tersebut. Kapan saja para hamba bertaubat kepada Rabb-nya, tunduk kepada perintah-Nya dan kembali kepada perkara yang diridhai-Nya, niscaya Dia akan memperbaiki keadaan mereka, mencegah keburukan musuh, memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, melimpahkan kenikmatan dan menghilangkan bencana dari kehidupan mereka.
وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم فى الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنًا،يعبدونني لا يشركون بي شيئًا، ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [terjemah QS. 24:55]
Hitung-hitunglah diri Anda. Bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya. Bersegeralah kepada ketaatan dan jauhilah maksiat. Perbanyaklah dzikir dan istighfar agar Anda dirahmati Allah. Ambillah pelajaran dari apa yang menimpa saudara-saudara kita di tempat lain. Sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat, menyayangi orang yang berbuat baik dan memberikan balasan yang baik bagi orang yang bertakwa.
Islam Itu Dimulai Dalam Keadaan Asing
Pertanyaan : Apakah makna hadits ini :
بدأ الإسلام غريبًا وسيعود غريبًا كما بدأ فطوبى للغرباء
"Islam itu dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing".
******
Jawab :
Maknanya adalah bahwa Islam telah dimulai dalam keadaan yang sangat asing sebagaimana halnya di Mekkah dan juga di Madinah pada permulaan hijrah, tidak ada yang mengenalnya dan tidak ada yang mengamalkannya kecuali sedikit. Kemudian Islam berkembang, manusia pun masuk ke dalam Islam dengan berbondong-bondong, dan akhirnya Islam unggul atas seluruh agama.
Namun Islam ini akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Tidak ada yang mengenalnya dengan sebenar-benarnya kecuali sedikit dari manusia. Dan tidak ada yang mengamalkannya yang sesuai dengan petunjuk syariat kecuali sedikit. Mereka itulah al-Ghuraba’ (orang-orang asing). Akhir hadits itu adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
فطوبى للغرباء
"Berbahagialah orang-orang yang asing". Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Dalam riwayat yang selain riwayat Imam Muslim :
قيل : يا رسول الله من الغرباء؟ فقال : الذين يصلحون إذا فسد الناس
Ditanyakan : "Wahai Rasulullah, siapakah al-Ghuraba’?" Beliau menjawab : "Orang-orang yang berbuat baik ketika manusia telah rusak".
Dalam riwayat lain :
هـم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي
"Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa-apa yang telah dirusak manusia dari sunnahku".
Kami memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kami dan segenap saudara-saudara kami kaum muslimin termasuk dalam golongan orang-orang tersebut, dan Dia-lah sebaik-baik tempat meminta.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu.
03 Juni 2011
Sebaik-Baik Teladan
Oleh: DR. Yahya Ibrahim Yahya
Hanya beliau dalam catatan sejarah yang menjadi suri teladan dalam segala aspek.
• Jika anda seorang hartawan, teladanilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika beliau berdagang dengan membawa barang dagangan antar Hijaz dan Syam, dan menguasai perbendaharaan Bahrain…
• Jika anda termasuk orang yang kurang mampu dalam hal materi, maka ikutilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Yang tereksklusif oleh rakyat Abi Thalib, ketika beliau meninggalkan tempat tinggalnya berhijrah ke Madinah beliau tidak membawa harta benda sedikitpun…
• Jika anda seorang penguasa maka ikutilah sunnah beliau dan perbuatan-perbuatannya, ketika beliau menjadi penguasa orang arab, beliau menguasai beberapa negeri dan menjadikan penguasa-penguasa mereka tunduk kepada beliau …
• Jika anda seorang rakyat lemah, anda bisa mengambil dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Teladan yang baik, ketika beliau teraniaya di Mekkah di bawah kekuasaan orang-orang musyrik…
• Jika anda seorang pemenang, anda juga bisa mengambil contoh dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika beliau menang melawan musuh-musuhnya pada perang Badar, Hunain dan fathu Makkah…
• Jika anda seorang yang kalah .., ambillah contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika beliau sedang berperang pada perang Uhud beliau berada di tengah-tengah sahabatnya yang terbunuh dan yang kelemahan karena terluka…
• Jika anda seorang pengajar, maka anda dapat mengambil contoh darinya, beliau mengajar para sahabatnya di mesjid…
• Jika anda seorang murid yang terpelajar, maka anda dapat membayangkan bagaimana keadaan beliau ketika beliau berguru kepada Jibril as.
• Jika anda seorang penasihat dan pembimbing yang terpercaya, maka dengarkanlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika beliau menasihati para sahabatnya di masjid Nabawi…
• Jika anda seorang yatim piatu, ayah beliau meninggal ketika beliau masih di dalam kandungan, kemudian ibunya meninggal ketika masih berumur 6 tahun…
• Jika anda seorang anak-anak, perhatikan ketika beliau masih kecil di susukan oleh Halimah Sa’diah dengan penuh kasih sayang…
• Jika anda seorang pemuda, maka bacalah perjalanan seorang penggembala Makkah…
• Jika anda seorang pedagang yang melakukan perjalanan membawa barang dagangan, maka perhatikanlah keadaan pemimpin kafilah yang hendak menuju Basrah…
• Jika anda seorang hakim, maka perhatikan kebijaksanaan beliau menangani permasalahan ketika para pembesar Makkah saling berselisih dan hampir berperang untuk memperebutkan meletakkan hajar aswad pada tempatnya, mari kita melihat bagaimana beliau menyelesaikan perkara dengan penuh kearifan ketika beliau berada di halaman mesjid Madinah, beliau tidak pilih kasih dan menyamakan hak antara orang kaya dan miskin.
• Jika anda seorang suami, maka bacalah sejarah dan kehidupan yang jujur dan adil terhadap suami Khadijah dan Aisyah, jika anda seorang ayah terhadap anak-anak anda maka belajarlah terhadap apa yang telah di lakukan oleh ayah Fatimah az Zahra atau kakek Hasan dan Husein…
Di posisi manapun anda dan bagaimanapun keadaan yang anda alami, siang dan malam yang anda lalui maka anda bisa mencontoh kehidupan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Sebagai petunjuk dan teladan yang baik yang dapat mencerahkan kehidupan anda, kemudian dapat memperbaiki urusan-urusan anda yang membingungkan. Beliau adalah pribadi yang agung di dunia ini.
Shalawat dan Salam selalu tercurahkan untuk beliau dan keluarganya... Amin.
10 Mei 2011
Macam-macam Bentuk Syirik Besar
Syirik besar (asy-Syirk al-Akbar) adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah. Ia memohon kepada sesuatu itu sebagaimana ia memohon kepada Allah. Atau melakukan padanya suatu bentuk ibadah, seperti istighatsah (mohon pertolongan), bernadzar, menyembelih hewan dan sebagainya disamping melakukannya juga kepada Allah.
Shahabat yang mulia, Abdullah ibnu Mas’ud meriwayatkan : Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,”Dosa apakah yang paling besar?”. Beliau menjawab,”Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia-lah yang telah menciptakanmu!”. [terjemah HR. al-Bukhary dan Muslim].
Berikut ini adalah penjelasan beberapa macam bentuk syirik besar :
1. Syirik dalam Doa
Yaitu berdoa kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali, untuk meminta rezki atau memohon kesembuhan dari penyakit.
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Terjemah QS. 10:106)
Zhalim yang dimaksud oleh ayat ini adalah syirik. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:”Barangsiapa yang meninggal dunia sedang dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya dia masuk neraka.” (terjemah HR. al-Bukhary)
Sedangkan dalil yang menyatakan berdoa kepada selain Allah, baik kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir merupakan perbuatan syirik adalah firman Allah : ”Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui”. [terjemah QS. 35:13-14]
2. Syirik dalam Sifat Allah
Seperti kepercayaan bahwa para nabi dan wali mengetahui hal-hal yang ghaib. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”. [terjemah QS. 6:59]
3. Syirik dalam Cinta (Mahabbah)
Yang dimaksud syirik dalam mahabbah yaitu mencintai seseorang baik wali atau lainnya sebagaimana kecintaannya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah”. [terjemah QS. 2:165]
4. Syirik dalam Ketaatan
Yaitu ketaatan kepada ulama, pemimpin, syaikh, kiyai, guru atau tokoh tertentu dalam hal kemaksiatan, dengan keyakinan bahwa hal itu dibolehkan. Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. [terjemah QS. 9:31]
Taat kepada orang-orang tersebut dalam kemaksiatan yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah, atau sebaliknya mengharamkan apa yang dihalalkan. Ketaatan seperti inilah yang ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan : “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada al-Khaliq (Allah)”. [terjemah HR. Ahmad]
5. Syirik Hulûl
Yaitu meyakini bahwa Allah menitis dan menyatu dalam diri para makhluk. Inilah aqidah sesat dan kufur, karena Allah Yang Maha Mulia telah mengabarkan bahwa Dia ber-istiwâ’ (bersemayam) diatas Arsy-Nya, diatas langit yang ketujuh dan terpisah dari makhluk-Nya.
Seorang penganut shufi ekstrim yang meyakini aqidah hulûl pernah bersenandung :
Tidaklah anjing dan babi itu melainkan tuhan kita juga
Dan tiadalah Allah itu, melainkan seorang rahib yang ada di gereja…
6. Syirik khauf (rasa takut)
Yaitu keyakinan bahwa sebagian dari para wali yang telah wafat atau orang-orang yang ghaib (tidak bersama dengannya saat itu) bisa melakukan dan mengatur suatu urusan dan memberikan kemudharatan (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada wali dan orang-orang tersebut. Karena itu kita dapatkan sebagian orang berani bersumpah palsu atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama wali. Hal ini adalah kepercayaan orang-orang musyrik yang diperingatkan Allah :
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sesembahan-sesembahan) yang selain Allah”. [terjemah QS. 39:26].
Shahabat yang mulia, Abdullah ibnu Mas’ud meriwayatkan : Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,”Dosa apakah yang paling besar?”. Beliau menjawab,”Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia-lah yang telah menciptakanmu!”. [terjemah HR. al-Bukhary dan Muslim].
Berikut ini adalah penjelasan beberapa macam bentuk syirik besar :
1. Syirik dalam Doa
Yaitu berdoa kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali, untuk meminta rezki atau memohon kesembuhan dari penyakit.
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Terjemah QS. 10:106)
Zhalim yang dimaksud oleh ayat ini adalah syirik. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:”Barangsiapa yang meninggal dunia sedang dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya dia masuk neraka.” (terjemah HR. al-Bukhary)
Sedangkan dalil yang menyatakan berdoa kepada selain Allah, baik kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir merupakan perbuatan syirik adalah firman Allah : ”Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui”. [terjemah QS. 35:13-14]
2. Syirik dalam Sifat Allah
Seperti kepercayaan bahwa para nabi dan wali mengetahui hal-hal yang ghaib. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”. [terjemah QS. 6:59]
3. Syirik dalam Cinta (Mahabbah)
Yang dimaksud syirik dalam mahabbah yaitu mencintai seseorang baik wali atau lainnya sebagaimana kecintaannya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah”. [terjemah QS. 2:165]
4. Syirik dalam Ketaatan
Yaitu ketaatan kepada ulama, pemimpin, syaikh, kiyai, guru atau tokoh tertentu dalam hal kemaksiatan, dengan keyakinan bahwa hal itu dibolehkan. Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. [terjemah QS. 9:31]
Taat kepada orang-orang tersebut dalam kemaksiatan yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah, atau sebaliknya mengharamkan apa yang dihalalkan. Ketaatan seperti inilah yang ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan : “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada al-Khaliq (Allah)”. [terjemah HR. Ahmad]
5. Syirik Hulûl
Yaitu meyakini bahwa Allah menitis dan menyatu dalam diri para makhluk. Inilah aqidah sesat dan kufur, karena Allah Yang Maha Mulia telah mengabarkan bahwa Dia ber-istiwâ’ (bersemayam) diatas Arsy-Nya, diatas langit yang ketujuh dan terpisah dari makhluk-Nya.
Seorang penganut shufi ekstrim yang meyakini aqidah hulûl pernah bersenandung :
Tidaklah anjing dan babi itu melainkan tuhan kita juga
Dan tiadalah Allah itu, melainkan seorang rahib yang ada di gereja…
6. Syirik khauf (rasa takut)
Yaitu keyakinan bahwa sebagian dari para wali yang telah wafat atau orang-orang yang ghaib (tidak bersama dengannya saat itu) bisa melakukan dan mengatur suatu urusan dan memberikan kemudharatan (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada wali dan orang-orang tersebut. Karena itu kita dapatkan sebagian orang berani bersumpah palsu atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama wali. Hal ini adalah kepercayaan orang-orang musyrik yang diperingatkan Allah :
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sesembahan-sesembahan) yang selain Allah”. [terjemah QS. 39:26].
08 Mei 2011
Fatwa tentang Terorisme
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 3 Tahun 2004
Tentang
TERORISME
Majelis Ulama Indonesia, setelah:
Menimbang :
a. Bahwa tindakan terorisme dengan berbagai bentuknya yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara, termasuk Indonesia, telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa serta rasa tidak aman di kalangan masyarakat;
b. Bahwa terhadap tindakan terorisme terjadi beberapa persepsi: sebagian menganggapnya sebagai ajaran agama Islam dan karena itu, ajaran agama Islam dan umat Islam harus diwaspadai; sedang sebagian yang lain menganggapnya sebagai jihad yang diajarkan oleh Islam; dan karenanya harus dilaksanakan walaupun harus dengan menanggung resiko terhadap harta dan jiwa sendiri maupun orang lain;
c. Bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa seIndonesia pada tanggal 22 Syawwal 1424 H./16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang Terorisme;
d. Bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang Terorisme untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
Nomor 3 Tahun 2004
Tentang
TERORISME
Majelis Ulama Indonesia, setelah:
Menimbang :
a. Bahwa tindakan terorisme dengan berbagai bentuknya yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara, termasuk Indonesia, telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa serta rasa tidak aman di kalangan masyarakat;
b. Bahwa terhadap tindakan terorisme terjadi beberapa persepsi: sebagian menganggapnya sebagai ajaran agama Islam dan karena itu, ajaran agama Islam dan umat Islam harus diwaspadai; sedang sebagian yang lain menganggapnya sebagai jihad yang diajarkan oleh Islam; dan karenanya harus dilaksanakan walaupun harus dengan menanggung resiko terhadap harta dan jiwa sendiri maupun orang lain;
c. Bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa seIndonesia pada tanggal 22 Syawwal 1424 H./16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang Terorisme;
d. Bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang Terorisme untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
1. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala antara lain:
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu kehinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksa yang pedih". (QS. Al-Maidah [5] : 33)
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Tuhan kami hanyalah Allah'." (QS. Al-Hajj [22] : 39-40)
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya". (QS. Al-Anfal [8] : 60)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang
kepada kamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar dan dianiaya maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS. an Nisa' [4] : 29-30)
"Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya…" (QS. Al-Maidah [5] : 32)
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu
sendiri ke dalam kebinasaan…" (QS, al Baqarah [2]: 195)
2. Hadits-hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti orang muslim lainnya” (HR. Abu Dawud)
“Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya (muslim), maka Malaikat akan melaknatnya sehingga ia berhenti” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang menjatuhkan diri dari sebuah gunung lalu ia terbunuh maka ia akan masuk neraka dalam keadaan terhempas di dalamnya, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya” (HR. Bukhari dan Muslim dari al-Dhahhak)
3. Qaidah Fiqhiyah :
“Dharar yang bersifat khusus harus ditanggung untuk menghindarkan dharar yang bersifat umum (lebih luas)”
“Apabila terdapat dua mafsadat yang saling bertentangan maka harus diperhatikan salah satunya dengan mengambil dharar yang lebih ringan”.
Memperhatikan :
1. Terorisme telah memenuhi unsur tindak pidana (jarimah) hirabah dalam khazanah fiqih Islam. Para fuqaha mendefinisikan al-Muharib (pelaku hirabah) dengan :
“Orang yang mengangkat senjata melawan orang banyak dan menakut-nakuti mereka (menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat)”
2. Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Terorisme, tanggal 22 Syawwal 1424/16 Desember 2003.
3. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 05 Dzulhijjah 1424/24 Januari 2004.
Dengan memohon ridha Allah subhanahu wa ta’ala
Memutuskan
Menetapkan : Fatwa tentang Terorisme
Pertama : Ketentuan Umum :
Pengertian Terorisme dan Perbedaannya dengan Jihad
1. Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskriminatif).
2. Jihad mengandung dua pengertian :
a. Segala upaya dan usaha sekuat tenaga serta kesediaan menanggung segala kesulitan di dalam memerangi dan menahan agresi musuh dalam segala bentuknya. Jihad dalam pengertian ini juga disebut al-qital atau al-harb.
b. Segala upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk menjaga dan meninggikan agama Allah (li i’laa-i kalimaatillaah)
3. Perbedaan antara Terorisme dengan Jihad
a. Terorisme :
1) Sifatnya merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha).
2) Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain.
3) Dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.
b. Jihad :
1) Sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan.
2) Tujuannya menegakkan agama Allah dan /atau membela hak-hak pihak yang terzhalimi.
3) Dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh Syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas.
Kedua : Hukum melakukan Teror dan Jihad
1. Hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok maupun negara.
2. Hukum melakukan jihad adalah wajib.
Ketiga : Bom Bunuh Diri dan ‘Amaliyah al-Istisyhad
1. Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri sementara pelaku ‘amaliyah al-istisyhad mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah sedangkan pelaku ‘amaliyah al-Istisyhad adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Bom bunuh diri hukumnya haram karena merupakan salah satu bentuk tindakan keputus-asaan (al-ya’su) dan mencelakakan diri sendiri (ihlak an-nafs), baik dilakukan di daerah damai (dar al-shulh/dar al-salam/dar al-dakwah) maupun di daerah perang (dar al-harb)
3. ‘Amaliyah al-Istisyhad (tindakan mencari kesyahidan) dibolehkan karena merupakan bagian dari jihad bin-nafsi yang dilakukan di daerah perang (dar al-harb) atau dalam keadaan perang dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar di pihak musuh Islam, termasuk melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan terbunuhnya diri sendiri. ‘Amaliyah al-Istisyhad berbeda dengan bunuh diri.
Ditetapkan : Jakarta, 5 Dzulhijjah 1424/24 Januari 2004
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
KH. Ma’ruf Amin (Ketua)
Drs. Hasanuddin, M.Ag (Sekretaris)
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia
Dr. KH. M.A. Sahal Mahfudh (Ketua)
Drs. H.M. Ikhwan Sam (Sekretaris Umum)










