"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

16 Juli 2011

Hukum Perayaan Malam Nishfu Sya'ban

Allah telah befirman :

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu." [Terjemah Al-Maidah :3]

"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhoi Allah? Sekirannya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." [terjemah Asy-Syura' : 21]

Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak."

13 Juli 2011

Bermula dari Pengagungan terhadap Simbol


Bagaimanakah permulaan ketergantungan para pemuja kubur dengan kubur atau bangunan-bangunan kuburan? Dan bagaimana hal itu bisa membawa mereka kepada Syirik Akbar atau juga Syirik yang lebih kecil dari Syirik Akbar tersebut?

Ketergantungan itu bermula dari “pengkultusan” terhadap “simbol”… Simbol “keshalehan”, “ketakwaan” dan “derajat yang mulia” di sisi Allah Ta’ala…

Dari situlah, “disunnahkan” untuk menziarahi tempat-tempat tersebut. Bukan untuk mengingat mati dan mengingat akhirat, akan tetapi untuk mengingat “simbol” dan mengambil ibrah darinya. Karena tempat-tempat tersebut penuh dengan “keberkahan”, para malaikat dan “arwah orang-orang shaleh” bertebaran di sekelilingnya –sebagaimana yang mereka klaim-, maka berdoa kepada Allah di tempat tersebut adalah perkara yang sangat baik, bahkan lebih baik daripada berdoa di rumah, masjid atau di waktu-waktu sahur menjelang fajar (!!)

Sunnah dan Bid'ah di Bulan Sya'ban

Diantara ibadah-ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Syariat Islam adalah puasa di bulan Sya’ban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada seluruh bulan Sya’ban atau sebagian besar dari bulan tersebut.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan :


لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم من شهر أكثر من شعبان، فإنه كان يصوم شعبان كله


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, karena beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya


Dalam riwayat lain :

كان يصوم شعبان إلا قليلا

Beliau berpuasa pada (seluruh) bulan Sya’ban kecuali sedikit darinya”. (HR. al-Bukhary, Ahmad dan an Nasa'i)

05 Juli 2011

Titian Pertama

Titian pertama itu bernama Tauhid. Ia adalah fokus utama dakwah seluruh rasul ‘alaihimussalam, ia adalah kunci awal keselamatan, sekaligus sebagai penentu akhir titian seseorang. Mungkin surga dan mungkin pula neraka; semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai ahli surga dan menyelamatkan kita dari neraka..Mengesakan Allah dalam seluruh keberhakan-Nya; demikianlah Tauhid.



Baik keberhakan-Nya untuk dijadikan sebagai sesembahan yang tunggal (disebut dengan Tauhid Uluhiyyah), dan itulah inti tauhid; atau keberhakan-Nya sebagai penguasa mutlak di jagad raya, yang menciptakan, mengatur, memberi rezki, menghidupkan, mematikan, memutuskan perkara, dan yang semisalnya (disebut sebagai Tauhid Rububiyyah); atau keberhakan-Nya sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki nama dan sifat-sifat yang maha sempurna, tidak serupa dengan satupun makhluk yang berada di alam raya ini (itulah Tauhid al-Asmâ’ wa ash-Shifât).


Tauhid Uluhiyyah adalah inti tauhid. Dinyatakan demikian, karena jenis tauhid inilah yang merupakan pokok dakwah sekalian rasul. Intisarinya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan meniadakan sesembahan-sesembahan batil yang selain-Nya. Demikianlah makna “Lâ ilâha illa_llâh”, kalimat tauhid, yang merupakan tugas utama para rasul untuk menyampaikannya. Allah Ta’ala berfirman :

ولقد بعثنا فى كل أمةٍ رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut!”. [terjemah QS. 16 : 36]

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدوني

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku!”. [terjemah QS. 21 : 25]


Kaum musyrikin terdahulu, bukanlah kaum yang ingkar akan keberadaan Allah Ta’ala, atau mengingkari bahwa Dia-lah yang menghidupkan, mematikan, memberi rezki dan yang semacamnya. Allah Ta’ala berfirman :

 قل من يرزقكم من السماء والأرض أمّن يملك السمع والأبصار ومن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحيّ ومن يدبّر الأمر، فسيقولون الله فقل أفلا تتقون

“Katakanlah :‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’.

Maka mereka akan menjawab :’Allah’.

Maka katakanlah :’Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)’.” [QS. 10 : 31]


Asal keyakinan yang demikianlah yang menyebabkan mereka kembali kepada Allah semata, ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Allah Ta’ala berfirman :

وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, (ketika itu) mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. [terjemah QS. 31 : 32]


Itulah pelajaran penting dari kaum kafir Quraisy. Mereka tidak pernah mengingkari keberadaan Allah, bahkan mereka meyakini kekuasaan-Nya, berdoa kepada-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Hal ini menyisakan sebuah pertanyaan,”Adakah keyakinan mereka itu menyebabkannya masuk kedalam Islam, dan selamat dari kehinaan abadi?”. Kenyataannya tidaklah demikian. Justru Allah mengutus rasul-Nya untuk mengarahkan mereka dari penyimpangan kepada jalan yang benar.

Kalau demikian, apa gerangan penyimpangan itu?.. Simaklah keterangan Allah tentang hal tersebut :

وعجبوا أن جاءهم منذرٌ منهم، وقال الكافرون هذا ساحرٌ كذّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :’Ia itu adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” [terjemah QS. 38 : 4]


Mereka heran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang beliau serukan kepada mereka. Keheranan yang mengisyaratkan pengingkaran dan diwujudkan dengan tuduhan mereka bahwa beliau adalah seorang tukang sihir yang banyak berdusta.

Apa yang mereka ingkari?... Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat selanjutnya :

أجعل الآلهة إلهًا واحدًا، إن هذا لشيئٌ عجابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. [terjemah QS. 38 : 5]


Pokok yang mereka ingkari ternyata adalah penafian terhadap seluruh sesembahan mereka selain Allah semata. Mereka tidak ingin jika sembahannya hanya Allah saja. Mereka memperserikatkan Allah dalam penyembahan dan peribadatan.


Demikianlah inti kesesatan mereka, hingga Allah mengutus rasul-Nya dengan membawa agama yang benar, agama tauhid, agama yang mewajibkan umatnya untuk mempersembahkan seluruh peribadatan mereka –shalat, puasa, sujud, ruku’, al-mahabbah (cinta), al-khauf (takut), ar-raja’ (pengharapan), penyembelihan, nadzar, dan lain-lain-; seluruhnya hanya untuk Allah semata.

Tidak dipersembahkan untuk pohon keramat, penguasa laut, batu dan keris bertuah, tokoh pujaan, kiyai, orang mati, jin dan segala sesuatu yang selain Dia subhanahu wa ta’ala.


Maka, sudahkah kita memurnikan tauhid kita? Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dalam meniti jalan perjuangan Dakwah Tauhid yang panjang ini, memaafkan segala yang tersalah dan menutupnya dengan rahmat serta karunia-Nya..


(Majalah al-Bashirah, edisi 05 th. II, 1428/2007 dengan sedikit perubahan)

04 Juli 2011

SAAT BENCANA ITU DATANG

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya yang sempurna dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu akan menguji para hamba-Nya dengan kelapangan dan kesempitan, dengan kenikmatan dan bencana, untuk menguji kesabaran dan rasa syukur mereka. Siapa yang bersabar saat ditimpa musibah, bersyukur saat dianugerahi kenikmatan, tunduk kepada Allah ketika terjadi musibah, mengakui dosa-dosa dan kekurangannya, memohon rahmat dan ampunan Allah, maka sungguh dia telah beruntung dengan keuntungan yang sangat besar.

ألم، أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون، ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan :’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [terjemah QS. 29:1-2]

Allah menguji para hamba dengan berbagai macam ujian kebaikan maupun keburukan sehingga jelas orang yang benar imannya dari yang dusta, sehingga jelas orang yang bersabar dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :

 وبلوناهم بالحسنات والسيئات لعلهم يرجعون
Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” [terjemah QS. 7:168]

Yang dimaksud dengan kebaikan dalam ayat tersebut adalah segala kenikmatan berupa kelapangan hidup, kesehatan, kemuliaan, kemenangan atas musuh dan lain-lain. Sementara yang dimaksud dengan keburukan adalah segala musibah, penyakit, musuh yang berkuasa, badai, banjir dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman :

ظهر الفساد فى البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [terjemah QS. 30:41]

     Makna ayat ini adalah : Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan serta apa yang nampak dari kerusakan tersebut, agar manusia kembali kepada kebenaran, bersegera untuk bertaubat dari apa yang diharamkan Allah dan kembali kepada ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada rasul-Nya. Karena kekufuran dan maksiat adalah sebab dari segala bencana dan keburukan di dunia dan akhirat.

Adapun men-tauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, taat kepada kepada Allah dan rasul-Nya, berpegang teguh kepada Syari’at-Nya, berdakwah kepada Syari’at-Nya dan mengingkari orang yang menyelisihinya merupakan sebab segala kebaikan di dunia dan akhirat. Demikian pula, sikap komitmen diatas prinsip-prinsip tersebut, saling berwasiat dan tolong-menolong diatasnya merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat serta keselamatan dari segala bencana dan fitnah. Allah Ta’ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [terjemah QS. 47:7]

ولينصرنّ الله من ينصره، إن الله لقوي عزيز، الذين إن مكناهم فى الأرض أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، ولله عاقبة الأمور
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar, dan kepada Allah kembali segala urusan” [terjemah QS. 22:40-41]


Bencana Alam

Kita telah mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini dari berbagai macam fitnah dan bencana. Orang-orang kafir yang berkuasa di Palestina, Afghanistan dan Irak, banjir di Pakistan, dan berbagai macam bencana alam yang terjadi di negeri kita tercinta. Semua bencana dan musibah ini merupakan ujian dari Allah untuk para hamba disebabkan oleh kekufuran dan kemaksiatan, menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah dan terjerumus kepada dunia dan kenikmatannya yang fana, serta lupa untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan akhirat.

Tidak diragukan bahwa musibah yang seperti ini mewajibkan seluruh hamba untuk bersegera bertaubat kepada Allah. Bersegera kepada ketaatan kepadanya dan saling tolong menolong dalam ketakwaan, berwasiat dalam kebenaran dan bersabar diatas kebenaran tersebut. Kapan saja para hamba bertaubat kepada Rabb-nya, tunduk kepada perintah-Nya dan kembali kepada perkara yang diridhai-Nya, niscaya Dia akan memperbaiki keadaan mereka, mencegah keburukan musuh, memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, melimpahkan kenikmatan dan menghilangkan bencana dari kehidupan mereka.

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم فى الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنًا،يعبدونني لا يشركون بي شيئًا، ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [terjemah QS. 24:55]

Hitung-hitunglah diri Anda. Bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya. Bersegeralah kepada ketaatan dan jauhilah maksiat. Perbanyaklah dzikir dan istighfar agar Anda dirahmati Allah. Ambillah pelajaran dari apa yang menimpa saudara-saudara kita di tempat lain. Sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat, menyayangi orang yang berbuat baik dan memberikan balasan yang baik bagi orang yang bertakwa.

(Disarikan dari kitab Wujûbut Taubah ilâ_llâhi wa adh Dharâ’ah ‘inda Nuzûlil Mashâ-ib, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz –semoga Allah merahmatinya- dengan sedikit perubahan)

Islam Itu Dimulai Dalam Keadaan Asing

Pertanyaan : Apakah makna hadits ini :

بدأ الإسلام غريبًا وسيعود غريبًا كما بدأ فطوبى للغرباء

"Islam itu dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing".

******

Jawab :

Maknanya adalah bahwa Islam telah dimulai dalam keadaan yang sangat asing sebagaimana halnya di Mekkah dan juga di Madinah pada permulaan hijrah, tidak ada yang mengenalnya dan tidak ada yang mengamalkannya kecuali sedikit. Kemudian Islam berkembang, manusia pun masuk ke dalam Islam dengan berbondong-bondong, dan akhirnya Islam unggul atas seluruh agama.


Namun Islam ini akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Tidak ada yang mengenalnya dengan sebenar-benarnya kecuali sedikit dari manusia. Dan tidak ada yang mengamalkannya yang sesuai dengan petunjuk syariat kecuali sedikit. Mereka itulah al-Ghuraba’ (orang-orang asing). Akhir hadits itu adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

فطوبى للغرباء

"Berbahagialah orang-orang yang asing". Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Dalam riwayat yang selain riwayat Imam Muslim :

قيل : يا رسول الله من الغرباء؟ فقال : الذين يصلحون إذا فسد الناس

Ditanyakan : "Wahai Rasulullah, siapakah al-Ghuraba’?" Beliau menjawab : "Orang-orang yang berbuat baik ketika manusia telah rusak".

Dalam riwayat lain :

هـم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي

"Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa-apa yang telah dirusak manusia dari sunnahku".

Kami memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kami dan segenap saudara-saudara kami kaum muslimin termasuk dalam golongan orang-orang tersebut, dan Dia-lah sebaik-baik tempat meminta.


Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu.