"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

27 April 2015

Dimulai dengan At-Tashfiyah dan At-Tarbiyah

Al-ishlah (perbaikan) pada hari ini tidak dimulai dengan sebuah revolusi atau pemberontakan terhadap penguasa kafir, apalagi hanya seorang penguasa yang fasiq. Perbaikan itu hanya mungkin dimulai –sebagaimana yang kami selalu dan akan terus kami katakan semenjak puluhan tahun- dengan at-tashfiyah (pemurnian aqidah) dan at-tarbiyah (pembinaan).

Jika seseorang bersama kita diatas manhaj ini, mengingatkan dengan ini, maka itu cukup.

Jika ia tidak bersama kita, hendaknya ia tahu dan kita pahami darinya bagaimana ia inginkan persoalan ini dan dengan siapa ia akan memberontak?

Mayoritas kaum muslimin adalah orang-orang jahil. Dan kebanyakan dari muslim yang memiliki ilmu tentang sebagian hukum-hukum syar’i mereka justru menyelisihinya.

Wanita-wanita mereka berpakaian tapi telanjang, muamalah mereka menyelisihi hukum-hukum syar’i pada banyak sisinya, dan seterusnya…

Kita semua meyakini bahwa pertolongan Allah terhadap hamba-hambaNya yang beriman disyaratkan dengan satu kalimat, “Jika kamu menolong agama Allah”. Sementara pertolongan Allah hanya mungkin terwujud pertama dengan ilmu, kedua dengan amal.

Ilmu pada hari ini seperti yang kalian semua ketahui padanya terdapat perbedaan yang sangat besar dengan ilmu yang dahulu berada diatasnya para as-Salaf ash-Shalih.

Karenanya dalam hadits yang kalian ketahui, yang permulaannya, “Jika kamu berjual beli dengan riba, memegang ekor-ekor sapi…” hingga (perkataannya), “Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan. Dia tidak akan melepaskan kehinaan itu dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian”; agama pada hari ini memiliki pemahaman yang sangat bermacam-macam.
 
Bukan hanya dalam persoalan furu’, bahkan –sebagaimana yang mereka istilahkan- juga dalam masalah-masalah ushul. Bukan hanya persoalan-persoalan hukum, bahkan juga dalam permasalah aqidah.

Kalian mengetahui pada hari ini sebagian besar muslim entah bermazhab Asy’ari atau Maturidi.

Apakah dengan mereka ini Islam akan menang?!

Jika demikian, mesti ada at-tashfiyah dan at-tarbiyah.

Maka (sabdanya), “Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan, Dia tidak akan melepaskannya hingga kalian kembali kepada agama kalian”; yaitu dengan pemahaman (agama) yang shahih.

Dengan demikian kita wajib memulai dengan memahamkan manusia tentang Islam ini dengan pemahaman yang shahih, dan mentarbiyah mereka diatas perkara tersebut. “Pada hari itulah orang-orang mukmin akan bergembira dengan pertolongan Allah”.

Adapun jalan-jalan yang selain itu, sekali-kali tidak mungkin akan mengembalikan kaum muslimin kepada kemuliaan dan keagungan mereka…

(Syaikh al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu, Silsilah al Huda wa an Nur, rekaman no. 799)

22 April 2015

Untuk Muslimah yang Sibuk dengan “Dakwah”

Dakwah adalah kewajiban mendasar bagi seorang muslimah sebagaimana halnya laki-laki. Kami tidak pernah memungkiri hal tersebut.

Namun, fenomena “dakwah” modern bagi seorang muslimah bukanlah sebuah persoalan mudah dan sederhana.

Dakwah di zaman ini identik dengan kelompok-kelompok pergerakan yang mengorganisir anggotanya untuk bekerja “atas nama dakwah”.

Dan definisi “dakwah” itu akan sangat identik dengan begitu banyak pekerjaan yang akan sangat menguras tenaga, waktu dan pikiran… Bakti sosial, seminar, tabligh akbar, bazar, membuka usaha dan seterusnya disamping agenda-agenda “utama” yang kadang terabaikan karena kerja yang menumpuk seperti menuntut ilmu dan ibadah.

Dakwah dengan definisi seperti ini tentu bukanlah hal mudah bagi seorang wanita yang lemah, apalagi ketika dia telah menikah.

Walaupun jarang diakui, atau mungkin diakui tapi jarang “diributkan dan dipermasalahkan”, kerja yang seabrek “atas nama dakwah” tersebut telah –sedikit banyak- menjauhkan seorang aktivis wanita dari jati dirinya sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang muslimah.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak diantara aktivis-aktivis akhawat yang begitu hebatnya dalam aktivitas “dakwah” tapi tidak pandai mengurus diri, rumah dan keluarganya. Tidak pandai masak, pakaian dicucikan orang tua, kamar tidur dan rumah yang berantakan, tidak betahan diam di rumah dan –bagi yang sudah menikah- urusan rumah, suami dan anak-anak yang “sedikit” terbengkalai.

Ya, mungkin hal-hal itu tidak berpengaruh besar bagi jalannya aktivitas keseharian diri dan keluarganya, tapi pemahaman seperti ini adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Yaitu pemahaman bahwa “kewajiban dakwah”nya seorang aktivis muslimah sama kedudukannya dengan urusan dalam rumahnya.

Sewajib-wajibnya dakwah bagi seorng muslimah, hal itu tidak akan pernah bisa menggugurkan atau mengurangi kewajiban besarnya terhadap diri, suami dan rumah tangganya. Keliru besar kalau ada yang berpikiran seperti itu.

Kami tidak mengingkari semua bentuk dakwah yang tidak bertentangan dengan manhaj Islam, termasuk dakwah melalui organisasi dan yang semacamnya. Yang kami ingkari adalah keterlibatan berlebihan dari kaum wanita dalam urusan ini yang berakibat buruk bagi diri mereka dan keluarga muslim.

Berikut ini adalah nasehat dari seorang ulama besar di abad ini, semoga bisa sedikit memperbaiki kekeliruan pemahaman para akhawat tentang dakwah. Wallahul musta’an.

Nasehat Syaikh Al-Albani rahimahullahu kepada Para “Aktivis Muslimah”

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu :

Apakah boleh seorang muslimah menggeluti “nasyath islami” tertentu?*

Aku katakan sebagai nasehat dan peringatan : termasuk musibah dunia Islam pada saat ini adalah keluarnya kaum wanita, bahkan muslimat, bahkan wanita-wanita berhijab, dan bahkan sebagian wanita-wanita salafiyyah; mereka keluar dari rumah-rumahnya kepada apa yang bukan urusan mereka.

Menggeluti “nasyath islami” bagi kaum wanita tidaklah ada. Kegiatan wanita adalah di rumahnya, di dalam rumahnya. Tidak boleh bagi wanita menyerupai kaum laki-laki, demikian pula tidak boleh wanita muslimah menyerupai laki-laki muslim.

Wanita-wanita muslimah jika benar ingin berkhidmat untuk Islam, maka khidmat itu di rumahnya. Tidak boleh seorang wanita keluar, dan tidak boleh dia mensyaratkan terhadap suaminya bahwa ketika telah menikah maka dia akan aktif dalam “nasyath islami”.

Aktivitasnya dahulu andaipun boleh –boleh secara mutlak- maka itu adalah aktivitas yang cocok dengan gadis lajang yang belum memiliki tanggung jawab. Adapun sekarang dia telah menjadi ibu rumah tangga. Dia memiliki kewajiban terhadap suaminya dan terhadap apa yang telah Allah anugerahkan untuknya dari anak-anak. Sangatlah aksiomatik jika kehidupannya sekarang berubah. Hal ini andai syarat tadi itu dibolehkan, dan kami tidak memandang bahwa hal itu boleh secara mutlak.

Dahulu para wanita shahabiyat, mereka adalah teladan dalam ilmu, wawasan dan seterusnya. Tapi kami tidak mengetahui bahwa seorang dari mereka keluar untuk memimpin kegiatan islami diantara kaum laki-laki. Ketika kalian mendengar Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha keluar dari rumahnya -dan ia telah keluar dalam sebuah masalah dan fitnah yang terjadi-, dibayangkan padanya bahwa keluarnya adalah kebaikan untuk kaum muslimin dan hakikatnya tidak seperti itu. Tidak diragukan bahwa para ulama Islam telah menghukumi kekeliruannya dengan keikutsertaannya tersebut. Ceramahnya pada perang Jamal dan selainnya adalah kesalahan. Hanya saja kesalahannya itu termaafkan dengan kebaikan-kebaikan dirinya. Akan tetapi tidak pantas seorang wanita meneladani kekeliruannya yang dirinya sendiri pun telah bertaubat dari kesalahan tersebut. Itu pun sepanjang hidupnya tidak dikenali darinya sedikitpun keikutsertaan yang seperti ini.

Dengan demikian, kasus itu adalah sebuah kondisi khusus dan ijtihad khusus darinya. Dan walaupun begitu semuanya adalah kesalahan.

Adapun engkau melihatnya (seorang wanita) pergi dan pulang layaknya seorang pemuda yang gesit, bahkan mungkin sebagian mereka bersafar sendirian dalam sebuah safar yang diharamkan dalam Islam -tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali ada bersamanya suami atau mahramnya-; engkau dapatkan para wanita itu bersafar sendirian di jalan dakwah kepada Islam. Akan tetapi fenomena ini sebabnya adalah karena kaum lelaki tidak menunaikan kewajibannya, hingga akhirnya medan perjuangan itu kosong, dan kemudian dibayangkan pada sebagian wanita bahwa tidak boleh tidak, “kita mesti mengisi kekosongan tersebut”.

Wajib bagi kita kaum lelaki untuk berjuang menunaikan kewajiban dakwah ini dalam pemahaman, amalan, penerapan dan seruan, dan mewajibkan kaum wanita untuk berdiam di rumah-rumahnya, menunaikan kewajiban mentarbiyah keluarga mereka, anak-anak, saudari, saudara dan seterusnya. Tidak mengapa para tetangga wanita saling berkumpul di tempat khusus wanita, dengan suara yang rendah, yang sesuai dengan tempat bermajelis mereka.

Apa yang kita lihat pada hari ini, maka saya meyakini bahwa hal itu bukanlah bagian dari Islam sedikitpun. Walaupun sebagian jamaah-jamaah Islam mengorganisir pergerakan-pergerakan kaum wanita dengan mengatasnamakan Islam, saya yakin bahwa hal ini termasuk perkara-perkara baru dalam agama. Kalian telah menghafalkan, dan telah tiba masanya kalian menghafalkan ucapan Rasul ‘alaihishshalâtu wassalâm,

وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

Jauhilah olehmu perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.”

Cukup sekian.

سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك

(Syaikh al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani rahimahullahu, dalam rekaman ceramah yang berjudul “Az Zawâj fi al Islâm”. Teks arabnya silahkan dibaca di sini)

———————

* Nasyath islami secara harfiah adalah kegiatan/aktivitas islami, dan yang beliau maksudkan adalah bentuk-bentuk pergerakan “dakwah” modern yang terorganisir yang umum kita kenal di zaman ini.

19 April 2015

Mengkhususkan Ibadah Tertentu di Bulan Rajab

Saat memasuki bulan Rajab, akan bertebaran hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan berpuasa di bulan Rajab. Tapi sayangnya, semua hadits-hadits itu adalah hadits-hadits palsu yang tidak memiliki sumber yang shahih dalam kitab-kitab Sunnah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, “Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh hadits-haditsnya adalah dha’îf (lemah), bahkan maudhû’ (palsu). Para ahli ilmu tidak berpegang kepada sesuatu darinya. (Hadits-hadits itu) bukanlah dari level dha’if yang bisa diriwayatkan dalam fadhâ’il (keutamaan-keutamaan amal). Bahkan sebagian besarnya adalah hadits-hadits palsu yang dusta (al maudhû’ât al makdzûbât)… Dalam kitab al-Musnad dan yang selainnya terdapat hadits dari Nabi bahwa beliau menyuruh berpuasa pada bulan-bulan Haram (al Asyhur al Hurum), yaitu Rajab, Dzulqi’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Hadits ini berkait dengan puasa pada empat bulan itu seluruhnya, bukan mengkhususkan Rajab.” (Majmû’ al Fatâwâ, XXV/290, dengan ringkas).

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu, “Setiap hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam padanya adalah dusta dan diada-adakan.” (Al Manâr al Munîf, hal. 96).

Berkata al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu, “Tidak disebutkan sesuatu pun dalam sebuah hadits shahih yang layak dijadikan hujjah (argumen) tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya dan suatu puasa tertentu darinya, tidak juga qiyamullail yang khusus.” (Tabyîn al ‘Ajab, hal. 11).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahu pernah ditanya tentang puasa pada 27 Rajab dan shalat qiyam pada malamnya, beliau menjawab, “Puasa pada 27 Rajab, qiyam pada malamnya dan mengkhususkan hal itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Majmû’ Fatâwâ Ibn ‘Utsaimîn,  XX/440).

Wallahu a'lam.

14 April 2015

Sikap Ghuluw dalam Memuji Orang-Orang Shalih

Nabi telah melarang sikap berlebih-lebihan (ghuluww) secara umum dalam bentuk apapun. Beliau bersabda,

إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو

Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sungguh yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan (dalam beragama).” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Sikap ghuluw dalam beragama adalah sebab pertama dan terbesar jatuhnya anak keturunan Adam dalam syirik akbar (syirik besar).

Al-Bukhary meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia mengabarkan tentang berhala-berhala kaum Nuh ‘alaihissalam yang kemudian ada di bangsa Arab. Kemudian Ibnu Abbas berkata, “(Berhala-berhala itu) adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka telah meninggal, syaitan membisikkan pada kaumnya : 'Buatkan di majelis-majelis mereka yang dahulu mereka duduk-duduk padanya patung-patung peringatan dan namakanlah dengan nama-nama mereka!' Mereka pun melakukannya dan belum disembah. Hingga ketika mereka telah meninggal dunia dan ilmu telah hilang, patung-patung itu akhirnya disembah.”

Diantara bentuk sikap ghuluw yang diharamkan, yang bisa mengantarkan kepada syirik akbar adalah berlebih-lebihan dalam memuji dan menyanjung orang-orang shalih, sebagaimana yang dilakukan sekte Syiah Rafidhah dan kalangan Sufi ekstrim.

Perbuatan seperti ini pada akhirnya mengantarkan sebagian besar mereka kepada syirik akbar dalam rububiyah, yaitu dengan meyakini bahwa sebagian wali bertindak mengatur alam ini, bahwa mereka mendengarkan doa orang yang meminta kepada mereka dan mengabulkan permohonannya, bahwa mereka memberikan manfaat dan menolak keburukan, bahkan mengetahui perkara ghaib[1]. Walaupun sebenarnya, keyakinan mereka itu tidak berlandaskan dalil yang bisa dipegangi kecuali hanya berupa hadits-hadits palsu atau mimpi, atau apa yang mereka sebut sebagai “kasyf”, entah itu sebuah kedustaan atau akibat dari perbuatan syaitan yang mempermainkan mereka.

Sikap ekstrim dalam memuji ini juga bahkan mengantarkan mereka pada syirik dalam uluhiyah, sehingga sebagian mereka berdoa kepada orang-orang mati disamping doa mereka kepada Allah, meminta tolong kepada orang-orang mati tersebut dan lain sebagainya.

Nabi telah melarang ghuluw dalam memuji dirinya. Beliau bersabda,

لا تطروني كما أطرت النصارى المسيح ابن مريم، فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله

Jangan kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji al-Masih putra Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan utusanNya.” (HR. Al-Bukhary).

Jika saja demikian halnya dalam hak beliau yanng suci – , maka yang selain beliau lebih layak untuk tidak diperlakukan berlebihan dalam pujian dan sanjungan. Siapa yang berlebihan dalam memuji beliau dan yang selain beliau, maka ia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Siapa yang mengajak kepada hal tersebut dan terus dalam pembangkangannya setelah ia mengetahui larangan Nabi , maka ia telah menolak dengan lancang terhadap Sunnahnya, mengajak manusia untuk tidak ber-ittiba’ (mengikuti dan meneladani) beliau dan justru –suka atau tidak suka- mengajak mereka kepada taklid (meniru-niru) Yahudi dan Nasrani dalam kesesatan dan ghuluwnya mereka dalam memperlakukan para nabi dan orang-orang shalih yang telah dilarang oleh Allah Ta’ala.

Nabi memiliki keutamaan yang sangat banyak dalam al-Quran dan Sunnah yang shahih[2]. Beliau tidak butuh kepada kedustaan dan kebohongan yang dibuat-buat oleh manusia demi untuk memuji dan menyanjungnya, shalawat dan salam dari Allah selalu tercurahkan untuk beliau.

—————————

[1] Diantara bentuk ghuluw seperti ini adalah perkataan al-Bushiri dalam qasidah Burdah-nya yang terkenal, ketika ia memuji Nabi dengan perkataannya,

فإن من جودك الدنيا وضرّتها # ومن علــومك علم اللوح والقلـم

Sungguh diantara bentuk kedermawananmu adalah dunia ini dan keindahannya
Dan diantara pengetahuanmu adalah ilmu al-Lauh (al-Mahfuz) dan al-qalam

Maha Suci Allah dari kesyirikan yang diucapkannya!

[2] Diantara keutamaan beliau yang disebutkan dalam al-Quran dan Sunnah yang shahih adalah: beliau hamba yang paling afdhal secara mutlak, utusan Rabb semesta alam kepada seluruh jin dan manusia, hamba Allah dan kekasihNya, utusanNya yang paling afdhal dan penutup para nabiNya, Allah telah memuliakannya dengan mi’raj kepadaNya diatas langit ketujuh dan Dia berbicara langsung dengannya tanpa perantara, diperjalankan pada malam hari (isra’) dari Baitullah al-Haram ke Masjid al-Aqsha, shalatnya para nabi dibelakangnya, Allah telah mewajibkan para hamba untuk mentaatinya, menjanjikan kebahagiaan dunia akhirat bagi yang mentaatinya dan kebinasaan bagi yang membangkang terhadapnya, orang yang pertama dibangkitkan pada hari Kiamat, yang pertama memberi syafa’at, yang pertama diberi izin untuk memberi syafa’at, pemilik al-maqam al-mahmud (yaitu syafa’at besar di mahsyar), pemilik telaga al-Kautsar, dan lain-lain. Shalawat dan salam dari Allah tercurahkan untuk rasul yang kami cintai.

(Sumber : Tahdzîb Tashîl al ‘Aqîdah al Islâmiyyah, Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin hafidzhahullahu)

11 April 2015

Syahadat “Muhammad Rasulullâh”

Syahadat Muhammad Rasulullâh ialah persaksian dan pengakuan secara lahir maupun batin bahwa beliau adalah seorang hamba Allah dan rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia, serta beramal dengan konsekuensi dari keyakinan tersebut, yaitu mentaati perintahnya, membenarkan apa yang dikabarkannya, menjauhi apa yang dilarangnya dan Allah tidak disembah/diibadahi kecuali dengan apa yang disyari’atkannya.

Rukunnya
 
Rukun syahadat ini adalah ucapan kita,

عبده ورسوله

“Hamba-Nya dan utusan-Nya”.

Kedua kata ini menafikan/meniadakan sikap ekstrim dan sikap meremehkan dalam hak beliau .

Pengakuan bahwa beliau adalah “hamba Allah” akan menafikan sikap ghuluw (berlebihan) dalam hak-hak beliau agar tidak ada yang memujinya atau memperlakukannya melebihi haknya sebagai seorang hamba, hingga mengangkatnya kepada level ilâh yang memiliki hak-hak rububiyyah yang mampu menciptakan, memberi rezki, mengatur alam dan mengetahui perkara-perkara ghaib.

Sementara pengakuan bahwa beliau adalah “rasul Allah” akan menafikan sikap meremehkan dalam hak-hak beliau sebagai seorang manusia yang berstatus nabi dan rasul. Beliau hanya seorang manusia biasa, tapi di sisi lain, beliau juga seorang nabi dan utusan Allah yang wajib dihormati dan memiliki hak-hak yang wajib ditunaikan oleh para pengikutnya.

Syarat-syaratnya
 
  1. Pengakuan akan kerasulannya serta meyakininya secara batin dalam hati.
  2. Mengucapkan perkara tersebut dan mengakuinya secara zhahir dengan lisan.
  3. Mutâba’ah (mengikuti)nya, yaitu dengan mengamalkan kebenaran yang dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang dilarangnya.
  4. Membenarkan apa yang dikabarkannya dari berita-berita ghaib yang terdahulu maupun yang akan datang.
  5. Mencintainya melebihi cinta terhadap diri, harta, anak, orang tua dan seluruh manusia.
  6. Mendahulukan perkataannya atas perkataan setiap orang serta beramal menurut sunnahnya.

(Sumber : Aqîdah at Tauhîd, Syaikh Dr. Shâlih bin Fauzan al-Fauzân hafidzhahullâhu)

09 April 2015

Penjagaan Allah terhadap Nabi ﷺ sebelum Kenabian

Diantara bentuk penjagaan Allah terhadap Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi nabi adalah penjagaannya dari kesyirikan masyarakat Jahiliyah dan penyembahan terhadap berhala. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya ia berkata : Telah menceritakan kepadaku seorang tetangga Khadijah bahwa ia mendengar Nabi ﷺ berkata kepada Khadijah, “Wahai Khadijah, Demi Allah, aku tidak pernah beribadah kepada al-Laat dan al-Uzza.”

Demikian juga diantara bentuk penjagaan tersebut, bahwa beliau tidak pernah memakan hewan yang disembelih untuk berhala. (Shahih al-Bukhary no. 3826, 5499)

Beliau juga, pada masa haji selalu berwuquf di Arafah, menyelisihi kebiasaan orang-orang Quraisy yang tetap berdiam di Haram untuk berbeda dari manusia yang berwuquf di Arafah. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Allah juga menjaganya agar auratnya tidak terbuka. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma ia berkata : Ketika Ka’bah dibangun, Nabi ﷺ dan Abbas memindahkan batu-batu. Abbas berkata kepada Nabi, “Jadikan sarungmu di lehermu untuk melindungimu dari batu. Dan beliau pun tersungkur ke bumi dan matanya mengarah ke langit, kemudian beliau sadar dan berkata, “(Kembalikan) sarungku, sarungku…” dan mereka pun menutupkan sarungnya kepadanya. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Demikianlah Rasulullah ﷺ, berada dalam perlindungan dan penjagaan Allah Ta’ala dari berbagai macam kotoran dan aib masyarakat Jahiliyah, untuk sesuatu yang Dia inginkan darinya nanti, yaitu menyampaikan risalah dan agamaNya kepada seluruh alam.