Sponsors

27 Desember 2010

Perlukah Merayakan Tahun Baru?


Setiap kali tahun berganti, pasti akan disambut dengan berbagai macam perayaan yang telah menjadi tradisi umum di masyarakat kita. Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari sudah mengumumkan akan menggelar acara spesial dalam rangka menyambut tahun baru. Musik, kuis, games, semuanya di gelar hingga larut malam. Puncak kemeriahan terjadi pada saat perhitungan mundur menjelang detik-detik pergantian tahun. Tepat pada saat jarum jam menunjukkan pukul 00:00, tanpa dikomando, penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet.

Di jalan raya, raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah malam. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya langit dan makin menambah kemeriahan dan semaraknya suasana. Kemudian berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru dan berbagai macam pesta...


Tahun Masehi dan Bangsa Indonesia
Sebenarnya penanggalan dengan menggunakan tahun Masehi adalah penanggalan yang terbilang baru bagi bangsa Indonesia. Karena penanggalan ini tidak memilki akar kultur dan tradisi dalam sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang mendukung anggapan ini:

Pertama, latar belakang sosio-historis. Kalender Masehi ini baru diberlakukan di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wep op het Nederlandsch Onderdaanschap atas seluruh rakyat Hindia Belanda yang berada dalam kekuasaaan Mahkota kerajaan Belanda.

Kedua, latar belakang teologis. Sebagaimana diketahui, kalender Gregorian yang dipakai secara luas di dunia internasioanal saat ini adalah ganti dari kalender Julian yang dinilai tidak akurat. Penanggalan ini pun tidak lepas dari keyakinan sebagian besar penganut Kristen yang mengaitkannya dengan kelahiran Isa al-Masih ‘alaihissalam. Sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum kelahiran Nabi Isa sering diformat dengan singkatan "B.C." (Before Christ = sebelum Kristus) atau sering diistilahkan dalam bahasa Indonesia dengan SM (Sebelum Masehi), dan masa setelah kelahirannya diformat menjadi "A.D.", yaitu singkatan dari Anno Domini, atau lengkapnya Anno Domini Nostri Iesu Christi yang berarti "In the Year of Our Lord Jesus Christ" (Di tahun Tuhan Kami Jesus Kristus).

Sejak kedatangan Islam hingga awal abad XX, kalender Hijriyah berlaku di Nusantara. Bahkan Raja Karang Asem Bali, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Otto van Rees, masih menggunakan tahun 1313 Hijriyah (1894 Masehi).

Jadi, secara historis dan kultural bangsa kita pun, tahun baru Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi bagi Anda seorang Muslim, jika hal ini ditinjau dari sisi aqidah al-Wala’ dan al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri) yang mewajibkan kita berlepas diri dari perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan aqidah Islam.

Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah.


Hindari Tasyabbuh

Dengan uraian di atas, kita paham bahwa perayaan pergantian tahun merupakan tradisi yang berasal dari luar Islam. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang dikuasai orang-orang di luar Islam, mereka mengajak dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum, populer dan bisa diperingati siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Sayangnya banyak dari kita yang tidak menyadari serangan budaya ini. Terlena oleh acara malam tahun baru yang dikemas secara apik dan menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : "Barangsiapa yang menyerupai (ber-tasyabbuh) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". [terjemah HR. Abu Dawud dan lain-lain]


Untuk Generasi Muda Islam

Kita perlu sadari bahwa kita tidak akan selamanya muda. Jika usia kita panjang, mau tidak mau, waktu akan mengantarkan kita memasuki kehidupan orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Apa yang kita harapkan di masa depan jika sekarang kita lebih suka hura-hura dibandingkan memanfaatkan waktu untuk mengasah keterampilan, pola sikap dan pola pikir kita.

Suatu saat, kita akan sampai diujung waktu. Satu masa dalam hidup saat kita tidak bakal diberikan kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertaubat. Masihkah kita memimpikan kesenangan surgawi di kala kita sibuk mengejar materi dan popularitas dengan mengorbankan aturan-aturan Allah?

Karena itulah, mari kita menyambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh. Luruskan niat dalam berperilaku semata-mata karena mengharap ridha Allah Ta’ala. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji, mempelajari dan memahami aturan-aturan Allah Ta’ala. Kita kuatkan pijakan kaki di atas aqidah Islam. Dan kita padatkan hari-hari untuk mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari tua dan masa persidangan di hari Kiamat kelak.

(Disadur dari buletin al-Fikrah no. 21 th VII/1428 dan sumber-sumber lainnya)

0 tanggapan:

Posting Komentar