Sponsors

17 Desember 2011

Adab Keseharian Seorang Muslim

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijalani oleh seorang manusia. Karena itu, selain berbicara tentang tauhid dan ibadah, Islam juga mengajarkan tentang akhlak, adab dan mu’amalah (interaksi dengan manusia dalam jual beli dll). Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan juga kepada shahabatnya bagaimana adab-adab ketika buang hajat. Itulah kesempurnaan dan kemuliaan Islam yang tidak akan didapatkan pada agama-agama yang lain.
Akan tetapi sangat disayangkan, untuk persoalan yang remeh dalam masalah adab pun sering masih diabaikan oleh kaum muslimin. Entah itu karena kejahilannya atau memang karena kemalasan untuk mengamalkan sunnah atau juga karena lebih suka meniru perilaku orang-orang diluar Islam.
Berikut ini kami akan sebutkan beberapa adab yang tidak sesuai dengan petunjuk Islam dan telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih.


1. Makan/ Minum dengan Tangan Kiri
      Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian makan dengan tangan kirinya, dan jangan minum dengan tangan kirinya. Karena sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya”. [terjemah HR. Muslim]

2. Berjalan hanya dengan Satu Sandal/ Sepatu
Dari Abu Hurarah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal. Dia memakai kedua sandalnya, atau melepaskan keduanya”. [terjemah HR. Bukhary dan Muslim]
   Hukum asal larangan adalah pengharaman, akan tetapi mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum perbuatan ini adalah makruh, dengan dalil perkataan Aisyah :

   ”Terkadang tali sandal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam putus, dan akhirnya beliau berjalan dengan satu sandal sampai beliau memperbaikinya”. [HR. at Tirmidzi]


3. Tidak menutup mulut saat menguap.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap muslim yang mendengarkannya untuk mengucapkan: ‘Yarhamuka_llaahu’. Adapun menguap dari syaitan. Bila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya dia menahan semampunya. Karena jika seorang dari kalian menguap, maka syaitan tertawa”. [terjemah HR. Bukhary]
Dalam riwayat lain beliau bersabda :”Bila salah seorang dari kalian menguap maka tutuplah mulutnya dengan tangannya, karena syaitan akan masuk”. [terjemah HR. Muslim]


4. Dua Orang Berbisik tanpa Orang Ketiga
Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Jika kalian bertiga, maka janganlah yang dua orang berbisik tanpa orang yang ketiga hingga mereka berbaur dengan orang lain. Karena yang demikian akan membuatnya bersedih”. [terjemah HR. Bukhary dan Muslim]
   Islam sangat menghargai perasaan manusia. Karenanya, dilarang dua orang berbisik tanpa melibatkan orang ketiga. Karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan pada orang tersebut bahwa kedua kawannya sedang membicarakan keburukannya, yang akan membuatnya bersedih.

 
Termasuk dalam larangan ini, ketika seseorang berbicara kepada kawannya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga.


5. Bernafas / Meniup di Gelas saat Minum

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bernapas dalam wadah, atau meniupnya”. [terjemah HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi].

    Yang demikian itu karena bernapas di gelas saat minum dan meniup minuman memiliki pengaruh besar bagi kesehatan manusia.


Itulah beberapa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan adab-adab keseharian kita. Semoga kita bisa menjadi pengikutnya yang setia berjalan diatas Sunnahnya, baik dalam (yang paling pertama dan utama) aqidah dan ibadah, begitu juga (setelahnya) dalam akhlak, adab dan mu’amalah. Amin!

==============

(sumber : Buletin Al Fityah, edisi 05, Th. 1/Sya’ban 1431H)

0 tanggapan:

Posting Komentar