Sponsors

10 Juni 2013

Apakah Dianjurkan Berpuasa pada Bulan Sya'ban Seluruhnya

Apakah berpuasa di bulan Sya’ban secara penuh sesuai dengan sunnah?

Jawab :

Alhamdulillah. Dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam sering  berpuasa di bulan Sya’ban.


Diriwayatkan oleh Ahmad, 26022. Abu Daud, 2336. Nasa’i, 2175. Ibnu Majah, 1648 dari Ummu Salamah radhiallahu 'anha berkata: ”Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam berpuasa dua bulan secara berurutan kecuali beliau melanjutkan bulan Sya’ban dengan Ramadhan."

Dalam riwayat Abu Daud (dikatakan), "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh dalam setahun kecuali pada bulan Sya’ban dilanjutkan ke Ramadhan." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud, no. 2048) 

Dalam hadits ini tampak bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasalam biasanya berpuasa penuh pada bulan Sya’ban. Akan tetapi ada (hadits) lain bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasanya berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit saja (darinya yang beliau tidak berpuasa)

Diriwayatkan oleh Muslim, 1156, dari Abu Salamah dia berkata, saya bertanya kepada  A'isyah radhiyallahu 'anha tentang puasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia menjawab: 

كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ ، وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا (رواه مسلم، رقم 1156)

"Beliau biasanya berpuasa sampai kami mengatakan : Sungguh beliau telah berpuasa (terus). Dan beliau berbuka sampai kami mengatakan : Sungguh beliau telah berbuka (tidak lagi berpuasa). Dan aku tidak melihat beliau   berpuasa  yang lebih banyak dibandingkan pada bulan Sya’ban. Biasanya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya, dan biasanya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit (darinya yang beliau tidak berpuasa)." (HR. Muslim) 

Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan dua hadits ini,

Sebagian mereka berpendapat hal ini terkait dengan perbedaan waktu. Pada sebagian tahun   beliau shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa Sya’ban secara penuh. Dan pada sebagian tahun lainnya beliau shallallahu alaihi wa salam berpuasa kecuali sedikit saja (yang tidak berpuasa padanya). Pendapat ini adalah pilihan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah." (Silakan lihat Majmu Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 15/416).

Sebagian lainnya berpendapat, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan. Sementara hadits Ummu Salamah maksudnya adalah berpuasa bulan Sya’ban kecuali sedikit (yang tidak berpuasa). Mereka mengatakan bahwa dari sisi bahasa kalau seseorang sering berpuasa, dibolehkan mengatakan berpuasa sebulan penuh. 

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Sesungguhnya hadits Aisyah menjelaskan bahwa maksud dari hadits Ummu Salamah, bahwa 'beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berpuasa dalam setahun sebulan penuh kecuali Sya’ban bersambung dengan Ramadhan'; yakni bahwa beliau lebih banyak berpuasa padanya.

At-Tirmidzi mengutip  dari Ibnu Mubarak sesungguhnya beliau berkata : Dalam bahasa Arab dibolehkan mengatakan telah berpuasa sebulan penuh bagi orang yang  berpuasa pada sebagian besar hari dalam satu bulan tersebut.

Ath-Thayyibi berkata : Dimungkinkan beliau sekali berpuasa Sya’ban secara penuh, dan di lain waktu  berpuasa sering dalam bulan itu, agar tidak disimpulkan kalau hal itu wajib dilakukan sebulan penuh, seperti Ramadhan." Kemudian Al-Hafiz mengomentari, "Pendapat pertama lebih tepat." 

Maksudnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melakukan puasa Sya’ban sebulan penuh. Dengan dalil riwayat Muslim, no. 746 dari A'isyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, "Tidak aku ketahui  bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an semalam penuh, tidak juga melakukan  shalat malam sampai subuh. Dan tidak berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan."

Begitu juga berdasarkan riwayat Bukhari, no. 1971 dan Muslim, no. 1157 dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dia berkata, "Nabi shallallahu alahi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan."

As-Sindy berkata dalam menjelaskan hadits Ummu Salamah, “Teks 'Melanjutkan (puasa) Sya’ban ke Ramadhan’  yakni berpuasa di kedua bulan. Yang tampak dari teks tersebut adalah berpuasa Sya’ban sebulan penuh. Akan tetapi terdapat riwayat yang menunjukkan sebaliknya. Oleh karena itu, yang bisa dipahami bahwa beliau berpuasa pada sebagian besar harinya, sehingga seakan-akan beliau  berpuasa  penuh  dan bersambung ke bulan Ramadhan."

Kalau dikatakan, apa hikmahnya memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah perkataan Al-Hafidz, “Yang lebih tepat apa yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?' Beliau bersabda: 'Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya di angkat amalan-amalan kepada Allah, Rabb seluruh alam. Maka aku ingin amalanku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (Dinyatakan hasan   oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i, no. 2221) 

Wallahu’alam

Sumber : Islam Tanya-Jawab

0 tanggapan:

Posting Komentar