Sponsors

02 Januari 2014

Bilakah Meninggalkan Keburukan Bernilai Pahala?

Seorang muslim ketika meninggalkan suatu keburukan, maka hal itu akan bernilai pahala baginya. Tapi ini tidaklah mutlak dalam setiap kejahatan atau keburukan yang dia tinggalkan. Karena orang yang meninggalkan keburukan dan tidak mengerjakannya terbagi pada tiga bagian, yaitu :

1. Orang yang meninggalkannya semata-mata karena Allah, mencari keridhaanNya. Yang seperti ini dicatat baginya satu pahala, karena apa yang dilakukannya itu termasuk amal dan niat sekaligus. Dalam sebuah redaksi hadits yang shahih disebutkan,

فإنما تركها من جرّائي

"Dia meninggalkannya semata-mata karena Aku." (HR. Muslim)

2. Terkadang seseorang meninggalkan satu keburukan karena lupa. Orang yang seperti ini tidak berpahala dan tidak juga berdosa karena dia tidak meniatkan keburukan dan tidak juga mengerjakan keburukan tersebut.

3. Kasus ketiga ketika seseorang meninggalkan keburukan atau kejahatannya karena kelemahan atau kemalasan setelah berusaha mendapatkan sebab-sebabnya dan melakukan sesuatu yang mendekatkan dia pada keburukan itu. Orang yang seperti sama seperti orang yang mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول فى النار، قيل : هذا القاتل فما بال المقتول؟ قال :إنه كان حريصًا على قتل صاحبه

"Jika dua orang muslim berjumpa dengan kedua pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh berada di Neraka."

Ditanyakan pada beliau, " Demikianlah orang yang membunuh, tapi mengapa dengan orang yang terbunuh?"

Beliau menjawab, "Dia juga sangat ingin membunuh kawannya." (HR. al-Bukhary dan Muslim)

Wallahu a'lam.

(Dengan ringkas dari Tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullahu, III/379)

0 tanggapan:

Posting Komentar