Shalat Ied dilaksanakan dua rakaat dengan dalil hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
صلاة السفر ركعتان، وصلاة الأضحى ركعتان، وصلاة الفطر ركعتان، تمام غير قصر على لسان نبيكم صلى الله عليه وسلم
“Shalat
dalam perjalanan dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat, shalat Idul
Fitri dua rakaat; sempurna tanpa dikurangi dengan ucapan lisan Nabi
kalian, ﷺ .” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).
Berikut tata cara pelaksanaan shalat Ied secara ringkas,
1. Rakaat pertama sebagaimana shalat-shalat lainnya dimulai dengan takbiratul ihram.
2.
Bertakbir dengan tujuh kali takbir sebelum memulai bacaan. Tidak ada
riwayat yang sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat tangan pada setiap
takbir, namun Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ibnu Umar –dengan semangatnya
yang besar dalam mengikuti sunnah- mengangkat tangannya pada setiap
takbir.” (Zâd al Ma’âd, I/ 441).
3. Tidak
juga ada riwayat yang sah dari Nabi ﷺ tentang bacaan zikir tertentu saat
diam diantara takbir-takbir tersebut. Akan tetapi Ibnu Mas’ud berkata,
“Diantara dua takbir ada pujian untuk Allah ‘azza wa jalla dan sanjungan untuk Allah.” (Riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih).
4. Setelah
takbir-takbir tersebut, membaca Al-Fatihah dan surat. Disunnahkan
membaca surat Qâf pada rakaat pertama dan membaca surat Al-Qamar pada
rakaat kedua sebagaimana disebutkan dari Nabi ﷺ dalam hadits riwayat
Imam Muslim dan lain-lain. Terkadang beliau juga membaca surat Al-A’lâ
dan surat Al-Ghâsyiyah (HR. Muslim dan lainnya).
5. Selesai membaca surat, dilaksanakan shalat sebagaimana biasa dengan ruku’, sujud dan duduk diantara dua sujud.
6. Berdiri ke rakaat kedua dengan bertakbir.
7. Setelah itu bertakbir dengan lima kali takbir dengan sifat yang dilakukan pada rakaat pertama.
8. Membaca Al-Fatihah dan surat sebagaimana yang sudah dijelaskan.
9. Kemudian menyempurnakan shalatnya dan memberi salam.
Inilah
pendapat mayoritas para ulama dari kalangan shahabat radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang
datang sesudah mereka tentang tata cara shalat Ied.
Mendengarkan Khutbah
Disunnahkan
imam untuk menyampaikan khutbah dengan sekali khutbah, berdiri diatas
tanah bukan diatas mimbar. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan
para Khulafa’ Rasyidun setelahnya.
Menghadiri
dan mendengarkan khutbah ini tidak wajib, bahkan disunnahkan bagi imam
untuk memberikan pillihan bagi jamaah yang hadir untuk boleh memilih
tinggal atau pergi.
Khutbah
Ied ini sama dengan khutbah-khutbah lainnya, dibuka dengan pujian dan
sanjungan untuk Allah Ta’ala. Tidak ada hadits yang sah dari Nabi ﷺ
bahwa beliau membuka khutbahnya dengan takbir. Wallahu a’lam.
(Sumber : Shahîh Fiqh as Sunnah wa Adillatuhu)
0 tanggapan:
Posting Komentar