Sponsors

24 Agustus 2014

Mufti Agung Kerajaan Saudi : "ISIS tidak Berkait dengan Islam"

Saudara dan saudari,

Saya haturkan salam kepada Anda semua dengan salam Islam yang abadi, yang memiliki tujuan dan maksud yang mulia… Salâmu_Llâhi ‘alaikum warahmatu_Llâhi wa barakâtuh

Saya berwasiat kepada Anda dan diri saya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Siapa yang menyibukkan diri dengan ketakwaan, niscaya Allah akan mencukupinya.

Dalam situasi yang sulit yang dihadapi umat Islam saat ini, yang dengannya telah kisruh banyak negeri-negeri, dan dengannya pula telah rancu banyak dari ideolog-ideologi, tidak diragukan bahwa ideologi yang paling berbahaya adalah ideologi yang diusung dengan label agama. Karena hal itu akan memberikannya simbol kesucian, yang diatas landasannya nyawa pun akan menjadi murah. Saat itulah manusia akan berpindah –kami memohon perlindungan Allah- dari perpecahan yang agama dijaga darinya kepada perpecahan dalam agama itu sendiri. Inilah yang Allah ‘Azza wa Jalla telah ingatkan kita dalam firmanNya,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya dikembalikan kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am ayat 159)

Allah Ta’ala  dalam ayat ini memperingatkan kaum muslimin agar tidak terjadi dalam agamanya seperti yang terjadi pada orang-orang musyrik dalam agama mereka. Dan perpecahan dalam agama Islam adalah dengan tercerai berainya prinsip-prinsip dasarnya setelah tadinya bersatu. Yaitu setiap perpecahan yang mengantarkan pelakunya kepada pengkafiran sebagiannya atas sebagian lainnya, memerangi sebagiannya atas sebagian lainnya dalam agama. Sementara tidak ada dalam Islam kejahatan yang terbesar di sisi Allah setelah kekafiran selain memecah belah jamaah, yang (semestinya) dengan jamaah itulah hati-hati akan bersatu dan kalimat akan terkumpul. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Alu Imran ayat 103)

Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Wahai manusia, wajib bagi kalian komitmen dengan ketaatan dan jamaah. Karena itulah tali Allah ‘Azza wa Jalla yang Dia perintahkan. Apa yang kalian benci dalam jamaah jauh lebih baik daripada apa yang kalian suka dalam perpecahan.”

Perpecahan dan perselisihan tidak terjadi kecuali dikarenakan oleh kejahilan dan hawa nafsu. Sebagaimana jamaah dan persatuan tidak terjadi kecuali dikarenakan ilmu dan ketakwaan.

Kaum muslimin pada hari ini, dan keadaannya sebagaimana yang telah diketahui, sangat butuh untuk kembali memperdalam ilmu dan pengetahuan tentang agama yang lurus ini sebelum orang-orang yang selain mereka mengenalnya. Bukan hanya dalam permasalahan-permasalahan dan hukum-hukumnya, tapi juga dalam maqâshid (tujuan-tujuan)nya yang agung dan luas, yang untuk tujuan itulah agama ini disyari’atkan dan diatas prinsip itulah agama ini diturunkan. Allah Ta’ala tidak mengutus para rasul dan menetapkan syari’at melainkan untuk menegakkan aturan bagi manusia sebagaimana firmanNya,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid ayat 25).

Syari’at Islam adalah syari’at yang paling agung dan lurus sebagaimana yang ditunjukkan oleh firmanNya,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Alu Imran ayat 19).

Syari’at ini telah datang dengan perkara yang padanya terdapat kebaikan manusia di masa sekarang dan akan datang. Dan tujuan umum dari syari’at Islam adalah memakmurkan persada bumi, menjaga aturan kehidupan dan memastikan berkesinambungannya kebaikannya itu bagi orang yang hidup diatasnya.

Diantara prinsip-prinsip dasar al-Quran yang lapang, bahwa hukum asal sesuatu adalah mubah/halal,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah ayat 29).

Dan hukum asal bagi setiap manusia adalah kesucian (al barâ-ah),

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْ

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia diatas fitrah itu.” (QS. Ar-Rum ayat 30)

Dua prinsip ini adalah landasan setiap pensyariatan dan kebebasan. Dan tidak mungkin terwujud setiap prinsip itu dan tidak bakal tegak kecuali dengan mengetahui bahwa kelapangan Islam (samâhah al Islâm) adalah sifat mendasar syari’at Islam dan tujuan terbesarnya. Sebagaimana dalam firmanNya,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah ayat 185).

firmanNya,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj ayat 78).

Dan firmanNya,

رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286).

Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة

Agama yang paling dicintai Allah adalah al-hanifiyyah (yang lurus), as-samhah (toleran).”

Al-hanifiyyah adalah lawan kesyirikan, dan as-samhah adalah lawan dari kesulitan dan sikap ekstrim. Dalam hadits yang lain darinya shallallahu ‘alaihi wasallam,

إن الدين يسر، ولن يشاد هذا الدين أحد إلا غلبه

Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama ini melainkan dia akan dikalahkan.”

Dalil-dalil syari’at menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan termasuk dalam tujuan dasar agama ini. Toleransi itu telah memberikan pengaruh yang besar bagi tersebarnya dan langgengnya ajaran Islam. Dengan ini diketahui bahwa kemudahan termasuk fitrah, karena fitrah manusia menyukai kelembutan.

Hakikat dari toleransi dan sikap pertengahan itu berada diantara sikap ekstrim keras dan ekstrim lunak. Al-wasathiyyah (sikap pertengahan) dalam makna ini adalah sumber segala kesempurnaan. Allah Ta’ala berfirman tentang sifat dari umat ini,

وكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang adil dan pilihan.” (QS. Al-Baqarah ayat 143)

Di sela-sela maqâshid yang agung inilah akan jelas terlihat hakikat dari sikap pertengahan, dan bahwasannya dia adalah kesempurnaan dan keindahan Islam ini, dan ideologi-ideologi ekstrimisme, radikalisme dan terorisme yang merusak di muka bumi dan membinasakan kehidupan bukanlah bagian dari Islam sedikitpun. Bahkan dia adalah musuh Islam yang pertama, dan kaum muslimin adalah korban utamanya. Sebagaimana yang bisa terlihat dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh apa yang disebut Da’isy (ISIS), al-Qaeda dan kelompok-kelompok yang bercabang darinya. Benarlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka,

سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان، سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة

Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang berusia belia, berpikiran picik, mereka mengucapkan perkataan sebaik-baik manusia, mereka membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokannya. Mereka lepas dari Islam ini sebagaimana anak panah lepas dari busur. Jika kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka itu, karena dalam membunuh mereka terdapat pahala di sisi Allah pada hari Kiamat bagi orang yang membunuh mereka.”

Kelompok-kelompok pembangkang itu tidak berkait dengan Islam, dan tidak juga dengan para penganutnya yang komitmen dengan petunjuknya. Bahkan mereka adalah perpanjangan tangan Khawarij yang merupakan sekte pertama yang keluar dari agama ini disebabkan pengkafirannya terhadap kaum muslimin hanya karena perbuatan dosa dan juga menghalalkan darah dan harta-harta kaum muslimin.

Pada kesempatan ini kami mengajak untuk menyatukan segala usaha, baik dalam bidang pembinaan, pendidikan, dakwah dan pembangunan, untuk menguatkan ideologi pertengahan (al-wasathiyyah wal al-i’tidâl) yang bersumber dari syari’at Islam kita yang mulia dengan konsep paripurna yang memiliki tujuan jelas dan didukung oleh rancangan kerjanya demi untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut dalam tataran riil.

Demikian, dan dunia pada saat ini sedang bergejolak di sekitar kita, wajib bagi kita di Kerajaan Saudi Arabia, yang telah Allah anugerahkan kepada kita kalimat yang satu, barisan yang satu di sekitar kepemimpinan kita yang direpresentasikan oleh Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdil Aziz Alu Su’ud, Putra Mahkota dan Wakil Putra Mahkota –semoga Allah menjaga mereka-, wajib bagi kita menjaga struktur yang kokoh ini, yang menguatkan sebagiannya atas sebagian lainnya. Jangan jadikan sebab-sebab perpecahan dan perselisihan di luar negeri menjadi sebab untuk perselisihan diantara kita. Setiap kita, alhamdulillah, di Kerajaan Saudi Arabia bersatu dan muslim. Kita menjaga jamaah, komitmen dengan ketaatan dalam perkara yang ma’ruf, mengemban amanah ilmu, pemikiran dan tulisan, sebagian kita memberikan loyalitas kepada yang lainnya, sebagian kita memberikan uzur kepada yang lainnya dalam perkara yang kita keliru padanya. Baik itu ulama, para ustadz, para penulis, orang-orang terpelajar dan seluruh warga negara. Kita arahkan diskusi kita dalam hal yang bermanfaat untuk kita dari persoalan-persoalan agama dan bangsa dengan metode diskusi yang terpuji, yang tidak mengandung pengkhianatan dan tidak mengundang tuduhan. Setiap kita di negeri ini sama. Kita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia melanggengkan nikmatNya untuk kita, yang lahir maupun yang bathin, menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan, menjaga kita dan mereka dari fitnah yang nampak dan tersembunyi, dan memperbaiki keadaan kaum muslimin. Sesungguhnya, Dia-lah yang mampu dan berkuasa atas hal tersebut.

Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia Ketua Hai’ah Kibar al Ulama dan Ketua Lembaga Riset Ilmiah & Fatwa

Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu asy-Syaikh

 --------------

0 tanggapan:

Posting Komentar