Sponsors

13 September 2014

Mengenal Tatacara Pelaksanaan Haji & Umrah (2)

Pada bagian pertama, kami telah menjelaskan tata cara umrah. Kesempatan kali ini, kami akan membahas secara ringkas tentang tata cara haji. Perlu diketahui bahwa apa yang kami jelaskan dalam catatan ini adalah jenis haji tamattu' yang diamalkan oleh jamaah haji Indonesia dan umumnya kaum muslimin di seluruh dunia. Semoga bermanfaat, dan kita mulai perjalanan haji kita dari Hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah ;


Hari ke 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah)

1. Disunnahkan untuk mandi.

2. Memakai wewangian.

3. Mengenakan pakaian ihram, yaitu dua lembar pakaian yang ditutupkan pada bagian atas tubuh (ridaa’) dan bagian bawahnya (izaar).

4. Kemudian Anda berniat dalam hati untuk menunaikan haji dan mengucapkan :

لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد و النعمة لك و الملك لا شريك لك

Disunnahkan memperbanyak talbiyah dan segera menuju ke Mina.

- Saat berada di Mina, Anda dan seluruh jamaah haji melaksanakan shalat Dzhuhur pada waktunya dengan qashar (2 rakaat), shalat Ashar pada waktunya dengan qashar, shalat Maghrib 3 rakaat pada waktunya di malam ke 9 Dzulhijjah, shalat Isya’ pada waktunya dengan qashar di malam yang sama dan shalat Shubuh 2 rakaat pada waktunya di hari ke 9 Dzulhijjah.

Hari ke 9 Dzulhijjah (Hari Arafah)

1. Setelah terbitnya matahari, Anda menuju ke Arafah dengan memperbanyak talbiyah.

2. Anda melakukan shalat Dzuhur dan Ashar dengan mengqashar dan menjama’ sekaligus di waktu Dzuhur dengan satu adzan dan dua iqamah.

3. Wuquf di Arafah sampai terbenamnya matahari hukumnya wajib bagi orang yang melakukannya di siang hari.

4. Sangat dianjurkan pada hari Arafah untuk memperbanyak dzikir dan doa dengan menghadap kiblat sampai terbenamnya matahari.

Disunnahkan juga memperbanyak ucapan :

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد يحيي و يميت و هو على كل شيئ قدير

5. Setelah matahari terbenam pada hari itu, Anda bertolak menuju ke Muzdalifah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa sambil tetap memperbanyak talbiyah.

Tiba di Muzdalifah (Hari ke 9, di malam ke 10)

1. Yang pertama kali Anda lakukan saat tiba di Muzdalifah adalah shalat Maghrib 3 rakaat dan Isya’ 2 rakaat secara jama’ dengan satu adzan dan dua iqamah.

2. Kemudian Anda mabit (bermalam) sepanjang malam tersebut, dan dibolehkan bagi orang-orang lemah untuk bertolak lebih dahulu meninggalkan Muzdalifah di akhir malam.

3. Mabit di Muzdalifah hukumnya wajib.

4. Pada saat fajar, Anda melaksanakan shalat Shubuh di awal waktu.

5. Setelah itu, memperbanyak dzikir, takbir dan doa sambil menghadap kiblat di Al Masy’ar al Haram jika memungkinkan atau di tempat mana saja di Muzdalifah hingga langit terang sebelum terbitnya matahari.

Hari ke 10 Dzulhijjah (Yaum/ hari an Nahr, yaitu hari Idul Adha)

1. Anda bertolak dari Muzdalifah menuju Mina saat hari sudah terang sebelum matahari terbit sambil tetap memperbanyak talbiyah.

2. Kemudian melempar Jumrah al Aqabah di Mina (atau tepatnya perbatasan Mina dan Makkah) setelah terbitnya matahari dan menghentikan talbiyah.

3. Setelahnya adalah menyembelih hewan qurban sambil membaca :

بسم الله و الله أكبر، اللهم هذا منك و لك، اللهم تقبل مني

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.. Ya Allah, terimalah dariku”

4. Amalan lain yang dilakukan pada hari ini adalah mencukur habis rambut (al halq) bagi laki-laki atau memendekkan seluruhnya (at taqshir), dan mencukur habis rambut (al halq) lebih afdhal dan lebih besar pahalanya.

Wanita memotong ujung rambutnya sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pembahasan tentang umrah.

5. Setelah melempar Jumrah al Aqabah dan mencukur rambut, maka orang yang berhaji telah melakukan tahallul awal (tahallul yang pertama). Yaitu telah halal baginya melakukan segala hal yang terlarang saat melakukan ihram kecuali menggauli istri. Karenanya, dia sudah boleh berpakaian, memakai wewangian dan lain-lain yang selain menggauli istrinya.

6. Kemudian Anda boleh pergi ke Makkah untuk melakukan Thawaf Ifadhah dan melakukannya sama seperti saat thawaf umrah. Hanya saja, tidak disunnahkan berlari-lari kecil pada thawaf Ifadhah. Cukup dengan berjalan biasa.

7. Setelah thawaf, Anda minum air Zam-zam.

8. Kemudian melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Tata caranya sama dengan sa’i yang dilakukan saat umrah.

Dengan amalan Thawaf Ifadhah tersebut, maka terjadilah tahallul tsani (tahallul kedua) dan dihalalkan segala sesuatu yang diharamkan saat ihram termasuk menggauli istri.

- Catatan : Thawaf Ifadhah dan sa’i ini boleh ditunda ke hari-hari Tasyriq, walaupun yang afdhal dilakukan pada hari an Nahr sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.


Hari ke 11, 12 dan 13 Dzulhijjah (Hari-hari Tasyriq)

Amalan yang dilakukan pada hari-hari ini adalah mabit (bermalam) di Mina dan melempar tiga Jamrah.

1. Anda melempar tiga Jamarat setelah tergelincirnya matahari di waktu Dzhuhur pada hari ke 11, 12 Dzulhijjah bagi seluruh jamaah haji dan hari ke 13 Dzulhijjah bagi yang tidak bersegera keluar dari Mina pada hari sebelumnya dan tetap tinggal pada hari tersebut.

2. Ukuran batu atau kerikil yang digunakan adalah seukuran ujung jari (lebih kecil dari ukuran ujung jempol orang dewasa). Tidak besar dan tidak juga terlalu kecil; dan kita dilarang untuk bersikap ghuluw (ekstrim) dalam masalah batu ini.

3. Anda memulai dengan melontar jamrah pertama (Jamrah ash Shugra, yang dekat ke arah Masjid al Khaif); melontar dengan tujuh buah batu kecil dan bertakbir setiap kali melontar satu buah batu.

4. Setelah itu Anda menghadap kiblat, menjadikan Jamrah di sebelah kiri Anda (jika memungkinkan, hukumnya sunnah saja) dan memperbanyak doa.

5. Kemudian Anda melontar jamrah kedua (yaitu Jamrah al Wustha) dengan tujuh buah batu dan bertakbir pada setiap lontaran.

6. Setelah itu Anda menghadap kiblat, menjadikan jamrah di sebelah kanan Anda dan memperbanyak doa.

7. Yang terakhir, Anda melontar Jamrah al Aqabah dengan tujuh buah batu, dan setelahnya Anda pergi dan tidak perlu berhenti untuk berdoa.

Thawaf Wada’

Setelah menyelesaikan seluruh manasik haji yang disebutkan diatas, masih tersisa satu amalan yang mesti dilakukan saat akan meninggalkan kota Makkah, yaitu melakukan Thawaf Wada’ atau thawaf perpisahan.

Tata caranya sama dengan yang dilakukan pada Thawaf Ifadhah, tanpa ada lari-lari kecil dan sudah berpakaian biasa sebagaimana yang kita kenakan sehari-hari.

Dengan ini, selesailah seluruh ritual manasik umrah dan haji. Semoga Allah menerima ibadah haji saudara-saudara kita yang telah dan akan menunaikannya, dan semoga Dia berkenan memberikan kesempatan kepada Anda yang belum berkesempatan untuk menunaikannya. Amin.


0 tanggapan:

Posting Komentar