Sponsors

01 Agustus 2012

Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Saya tidak berpuasa, apakah akan disiksa di hari kiamat?

****** 

Alhamdulillah,

Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang menjadi salah satu asas bangunan Islam. Allah telah memberitahukan kewajibannya terhadap orang-orang mukmin dari umat ini. Sebagaimana yang diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya.

Allah Ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Dan firman-Nya (artinya), "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah : 185)

Diriwayatkan oleh al-Bukhary, hadits no. 8 dan Muslim, hadits no. 16 dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, "Islam dibangun di atas lima (perkara); bersaksi bahwa tiada ilâh (yang hak) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berhaji dan puasa di bulan Ramadan." (Terjemahan)

Barangsiapa yang meninggalkan puasa, maka dia telah meninggalkan salah satu Rukun Islam, dan melakukan salah satu dosa besar. Bahkan sebagian ulama Salaf berpendapat bahwa perbuatan tersebut adalah kekufuran dan keluar dari Islam. Nauzubillah min dzalik.

Terdapat riwayat dari Abu Ya’la dalam Musnad-nya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda :

عُرَى الإِسْلاَمِ وَقَوَاعِدُ الدِّينِ ثَلاَثَةٌ ، عَلَيْهِنَّ أُسِّسَ الإِسْلاَمُ ، مَنَ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ فَهُوَ بِهَا كَافِرٌ حَلاَلُ الدَّمِ: شَهَادَةُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَالصَّلاَةُ الْمَكْتُوبَةُ ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ

"Ikatan kuat Islam dan pondasi agama ada tiga, di atasnya Islam dibangun. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu darinya, maka dia kafir, halal darahnya; bersaksi bahwa tiada ilah (yang hak) melainkan Allah, shalat wajib dan puasa Ramadhan." (Hadits dishahihkan oleh adz-Dzahabi, dihasankan oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, 1/48, dan al-Munziri di at-Targhib wa at-Tarhib no, 805, 1486, serta dilemahkan oleh al-Albany dalam as-Silsilah adh-Dhaifah, no. 94)

Imam adz-Dzahabi rahimahullahu berkomentar dalam kitab al-Kabair, hal, 64: "Telah menjadi ketetapan bagi orang-orang mukmin bahwa barangsiapa meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sakit dan tanpa tujuan (yakni tanpa ada uzur yang diperbolehkan), dia lebih buruk dari pezina, pecandu minuman keras. Bahkan diragukan ke-Islamannya dan tertuduh sebagai zindiq dan mulhid (orang yang menyimpang/kafir)."

Di antara riwayat shahih terkait dengan ancaman bagi yang meninggalkan puasa adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, no. 1986 dan Ibnu Hibban, no. 7491 dari Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعيّ ( الضبع هو العضد ) فأتيا بي جبلا وعِرا ، فقالا : اصعد . فقلت : إني لا أطيقه . فقالا : إنا سنسهله لك . فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة ، قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عواء أهل النار . ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم ، مشققة أشداقهم ، تسيل أشداقهم دما ، قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba aku didatangi dua orang dan langsung memegang pundakku. Keduanya membawaku ke gunung yang  terjal. Keduanya berkata: Naiklah! Aku menjawab: Aku tidak mampu. Keduanya mengatakan: Kami akan memudahkannya untukmu. Maka aku mendaki, ketika sampai di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara melengking keras. Aku bertanya : Suara apa itu? Mereka menjawab : Itu adalah suara penghuni neraka. Kemudian dia berangkat lagi membawaku, ternyata saya dapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya, mulutnya pecah dan mengeluarkan darah. Aku bertanya: Siapa mereka? Dia berkata : Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dibolehkan (waktunya) berbuka puasa.” (Dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Mawarid adz-Dzam’an, no. 1509)

Al-Albany rahimahullahu bekata, "Ini adalah balasan orang yang berpuasa kemudian berbuka secara sengaja sebelum waktu berbuka. Apalagi bagi mereka yang asalnya  memang tidak berpuasa. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan di dunia dan akhirat."

Nasihat bagi penanya, hendaknya dia bertakwa kepada Allah Ta’ala. Berhati-hati akan bencana, kemarahan-Nya serta pedihnya siksaan-Nya. Bersegeralah bertaubat sebelum ajal menjemput diri Anda. Karena sekarang adalah saatnya beramal dan belum ada perhitungan. Sedangkan besok (hari Kiamat) adalah masa perhitungan, tidak ada kesempatan untuk beramal.

Ketahuilah, barangsiapa bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta. Dia Maha Dermawan, Maha Kasih, Yang berfirman :

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?." (QS. At-Taubah: 104)

Jika Anda mencoba berpuasa, Anda akan dapatkan kemudahan, keindahan, ketenangan dan dekat dengan Allah; Anda tidak akan meninggalkannya.

Perhatikan firman Allah Ta’ala diakhir ayat tentang puasa,

يُريْدُ اللهُ بِكمُ اليُسْرَى وَلا يُريْدُ بِكُمُ العُسْرَ

"Allah menginginkan kepada kamu semua kemudahan dan tidak menginginkan kamu semua kesulitan."

Juga firman-Nya,

وَلَعَلكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Agar supaya kamu semua bersyukur."

Agar diketahui bahwa nikmat puasa berhak untuk disyukuri. Oleh karena itu sekelompok ulama Salaf berangan-angan agar sepanjang tahun semuanya Ramadhan.

Kami memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik, memberi petunjuk kepada Anda, dan melapangkan dada Anda agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Wallahu’alam.
-----------------------

Sumber :

Soal Jawab Tentang Islam
http://islamqa.info/id/

0 tanggapan:

Posting Komentar